Arti Akhlak Mahmudah Serta Macam-macam dan Faktor Pembentuknya

akhlak mahmudah

Akhir-akhir ini ramai diperbincangkan di sosial media mengenai revolusi akhlak yang disuarakan oleh tokoh Islam di Indonesia. Berikut disajikan arti ahklak mahmudah dalam berbagai perpektif, dasar-dasar akhlak mahmudah, ciri-ciri akhlak mahmudah, macam-macam akhlak mahmudah, faktor pembentuk akhlak mahmudah dan sifat-sifat orang dengan karakter akhlak mahmudah.

Selamat menyimak!

Tentunya jika kita berbicara akhlak, maka tidak bisa dilepaskan dari konsep ajaran Islam. Bagaimanapun kata akhlak asalnya adalah dari bahasa arab yang mana juga menjadi bahasa kitab suci Al’quran.

Sedangkan ajaran Islam merupakan ajaran yang bersumberkan pada Al Qur’an yang aplikasi sehari-hari dijabarkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Dalam ajaran Islam ini, masalah akhlak mendapatkan porsi perhatian yang sangat besar.

Bahkan Nabi Muhammad sendiri diutus dengan tujuan utama adalah menyempurnakan akhlak manusia.

Lalu apa yang dimaksud dengan akhlak itu? Dan lebih spesifik lagi apa pengertian akhlak mahmudah yang akan menjadi bahasan kita pada kesempatan kali ini? Oleh karena itu mari kita kulik dimulai dari pengertian akhlak.

Pengertian Akhlak

Jika kita tinjau secara etimologi, kata akhlaq berasal dari bahasa Arab yang merupakan jamak dari kata khuluq, yang berarti adat kebiasaan, perangai, tabiat, dan muru’ah. Dengan demikian, secara etimologi, akhlak dapat diartikan sebagai budi pekerti, watak, tabiat.

Menurut Samsul Munir Amin dalam buku Ilmu Akhlak, disebutkan bahwa perumusan pengertian akhlak berhubungan dengan media yang memungkinkan adanya hubungan baik antara khaliq dengan makhluq, dan antara makhluq dengan makhluq.

Pandangan itu bermula dari istilah yang dipetik dari kalimat Q.S Al-Qalam 68: 4; “Dan  sesungguhnya  engkau  benar-benar  berbudi  pekerti yang luhur.”

Pengertian akhlak Menurut Ulama

Beberapa pengertian akhlak juga disampaikan oleh ulama-ulama di bawah ini:

1. Menurut Sayyid Sabiq sebagaimana dikutip oleh Choiruddin Hadiri, akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang menimbulkan terjadinya perbuatan-perbuatan dengan mudah.

2. Imam Al-Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin sebagaimana dikutip oleh Samsul Munir berpendapat bahwa akhlak adalah hay‟at atau sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya lahir perbuatan-perbuatan yang spontan tanpa memerlukan pertimbangan dan pemikiran.

Maka jika sifat tersebut melahirkan suatu tindakan yang terpuji menurut ketentuan akal dan norma agama, ia dinamakan akhlak yang baik, tetapi jika ia menimbulkan tindakan yang jahat, maka ia dinamakan akhlak yang buruk.

3. Muhyidin Ibnu Arabi sebagaimana dikutip oleh Samsul Munir, berpendapat bahwa akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorong manusia untuk berbuat tanpa melalui pertimbangan dan pilihan terlebih dahulu.

Keadaan tersebut yang ada pada seseorang boleh jadi merupakan tabiat atau bawaan, dan boleh jadi juga merupakan kebiasaan melalui latihan dan perjuangan.

4. Prof. Dr. Ahmad Amin sebagaimana dikutip oleh Aminuddin berpendapat bahwa akhlak adalah kehendak yang dibiasakan. Artinya, bahwa kehendak itu bila membiasakan sesuatu, maka kebiasaan itu dinamakan akhlak.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat dipahami bahwa akhlak merupakan kehendak dan kebiasaan manusia yang menimbulkan kekuatan-kekuatan besar untuk melakukan sesuatu. Jika keadaan tersebut melahirkan perbuatan yang terpuji menurut pandangan akal dan syariat Islam, ia adalah akhlak yang baik atau akhlak mahmudah.

Namun, jika keadaan tersebut melahirkan perbuatan yang buruk dan tercela, ia adalah akhlak yang buruk atau akhlak madzmumah.

Jadi, akhlak itu sendiri bukanlah perbuatan, melainkan gambaran bagi jiwa yang tersembunyi. Oleh karenanya dapat disebutkan bahwa “akhlak itu adalah nafsiah (bersifat kejiwaan) atau maknawiyah (sesuatu yang abstrak), dan bentuknya yang kelihatan kita namakan muamalah (tindakan) atau suluk (perilaku), maka akhlak adalah sumber dan perilaku adalah bentuknya”.

Ciri-ciri Akhlak

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa akhlak secara umum bercirikan sebagai berikut:

1. Akhlak sebagai ekspresi sifat dasar seseorang yang konstan dan tetap serta tidak direkayasa.

2. Akhlak selalu dibiasakan seseorang sehingga ekspresi akhlak tersebut dilakukan berulang-ulang sehingga dalam pelaksanaan itu tanpa disertai pertimbangan pikiran terlebih dahulu. Perbuatan-perbuatan itu pun dilakukan berulang kali dalam bentuk yang sama.

3. Apa yang diekspresikan dari akhlak merupakan keyakinan seseorang dalam menempuh keinginan sesuatu, sehingga pelaksanaannya tidak ragu-ragu.

4. Menjadi sumber moral, ukuran baik buruknya perbuatan seseorang yang didasarkan kepada Al-qur’an dan Al-hadis yang sahih.

Arti Akhlak Mahmudah

Arti akhlak mahmudah tidak bisa dilepaskan dari pengertian-pengertian akhlak yang sudah disampaikan para ulama di atas. Berangkat dari arti akhlak tersebut maka bisa kita jelaskan secara lebih rinci mengenai beberapa hal terkait akhlak mahmudah.

Jika kita tinjau secara etimologi arti akhlak mahmudah adalah akhlak yang terpuji. Mahmudah merupakan bentuk maf’ul dari kata hamida, yang berarti dipuji. Arti Akhlak mahmudah atau akhlak terpuji disebut pula dengan akhlaqal karimah (akhlak mulia), atau al-akhlaq al-munjiyat (akhlak yang menyelamatkan pelakunya).

Jadi arti akhlak mahmudah adalah tingkah laku yang terpuji yang merupakan tanda kesempurnaan iman seseorang kepada Allah. Beberapa arti akhlak mahmudah yang sudah sering kita sebutkan diantaranya; rasa ikhlas, sabar, syukur, khauf (takut kemurkaan Allah), roja’ (mengharapkan keridhaan Allah), jujur, adil, amanah, tawadhu (merendahkan diri sesama muslim), bersyukur dan akhlak terpuji lainnya.

Adapun mengenai arti akhlak mahmudah secara terminologi, para ulama berpendapat:

1. Menurut Al-Ghazali sebagaimana dikutip oleh Samsul Munir, akhlak terpuji merupakan sumber ketaatan dan kedekatan kepada Allah, sehingga mempelajarinya dan mengamalkannya merupakan kewajiban individual setiap muslim.

2. Menurut Ibnu Qayyim sebagaimana dikutip oleh Samsul Munir, pangkal akhlak terpuji adalah ketundukan dan keinginan yang tinggi. Sifat-sifat terpuji, menurutnya berpangkal dari kedua hal tersebut. Ia memberikan gambaran tentang bumi yang tunduk pada ketentuan Allah.

Demikian pula manusia, tatkala diliputi rasa ketundukan kepada Allah, kemudian turun taufik dari Allah, ia akan meresponnya dengan sifat-sifat terpuji.

Jadi, yang dimaksud dengan arti akhlak mahmudah adalah perilaku manusia yang baik dan disenangi menurut individu maupun sosial, serta sesuai dengan ajaran yang bersumber dari Tuhan. Akhlak mahmudah dilahirkan oleh sifat-sifat mahmudah yang terpendam dalam jiwa manusia.

Oleh karena itu, sikap dan tingkah laku yang lahir, adalah cermin dari sifat atau kelakuan batin seseorang. Akhlak yang terpuji senantiasa berada dalam kontrol Ilahiyah yang dapat membawa nilai-nilai positif dan kondusif bagi kemaslahatan umat, seperti sabar, jujur, ikhlas, bersyukur, tawadlu (rendah hati), husnudzon (berprasangka baik), optimis, suka menolong orang lain, suka bekerja keras dan lain-lain.

Dasar-dasar Akhlak Mahmudah

Dalam Islam, dasar yang menjadi alat pengukur untuk menyatakan bahwa sifat seseorang itu baik atau buruk, adalah Alqur’an dan sunnah. Akhlak atau ajaran budi pekerti yang menurut pendapat umum masyarakat baik, tetapi bertentangan dengan Alqur’an dan As-sunnah, maka haram hukumnya untuk diamalkan. Jadi, akhlak Islami bersumber pada ajaran-ajaran Islam yaitu Alqur’an dan As-sunnah.

1. Alqur’an

Alqur’an bukanlah hasil pemikiran manusia, melainkan firman Allah SWT yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril sebagai pedoman sekaligus petunjuk bagi setiap muslim. Di dalam Al-qur’an yang dijadikan dasar dalam berakhlak baik yaitu:

a.  Q. S Al-Ahzab (33) ayat 21

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

b. QS Al-Qalam (68) ayat 4

Artinya: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung”.

Baca Juga:  Cara Berpikir Kritis & Prosesnya Menurut Ahli [Milton Keynes]

Ayat tersebut menunjukkan, bahwa Rasulullah memiliki akhlak yang terpuji sehingga patut dijadikan sebagai suri teladan dalam segala lapangan kehidupan. Oleh karena itu perkataan dan perbuatan beliau harus dijadikan panutan.

2. As-Sunnah atau Hadis

Sebagai pedoman kedua sesudah Alqur’an adalah hadis Rasulullah yang meliputi perkataan dan tingkah laku beliau. Dasar-dasar Akhlak dalam As-Sunnah atau Hadis sebagai berikut:

Artinya: “Sungguh, aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al-Bukhari, Abu Dawud, dan Hakim)

Dalam hadis lain disebutkan, “Dari Aisyah r.a. Ia menyatakan pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh, diantara orang yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya dan paling lembut sikapnya terhadap keluarga”.

Rasulullah SAW bersabda “Sesuatu yang paling berat di atas timbangan kebaikan adalah akhlak yang baik”. (H.R. Abu Dawud)

Jadi jelas bahwa Alqur’an dan hadits Rasul adalah pedoman hidup yang menjadi asas bagi setiap muslim, maka teranglah keduanya merupakan sumber akhlakul karimah dalam ajaran Islam. Alqur’an dan Sunnah Rasul adalah ajaran yang paling mulia dari segala ajaran manapun hasil renuangan dan ciptaan manusia. Sehingga telah menjadi keyakinan (akidah) Islam bahwa akal dan naluri manusia harus tunduk mengikuti petunjuk dan pengarahan Alqur’an dan As-sunnah.

Dari pedoman itulah diketahui kriteria mana perbuatan yang baik dan mana yang buruk. Dinyatakan dalam sebuah hadis Nabi:

“Dari Anas bin Malik berkata: Nabi SAW bersabda: Telah ku tinggalkan atas kamu sekalian dua perkara yang apabila kamu berpegang teguh kepadanya, maka tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya”.

Disamping berbagai ajaran yang dikemukakan dalam Alqur’an dan As-sunnah sebagaimana dikemukakan diatas, norma-norma akhlak juga bisa digali dan dipelajari dari perbuatan dan kebiasaan Rasulullah yang tidak tergolong hadis, yakni kebiasaan kulturalnya sebagai bangsa arab di zaman beliau hidup, karena semua perilaku dan perangainya itu menunjukkan akhlak baik dan patut juga untuk ditiru.

Macam-macam Akhlak Mahmudah

Dalam menentukan akhlak terpuji, para ulama merujuk pada ketentuan Al-Qur’an dan hadis, sesuai dengan konsep baik dan buruk dalam pandangan Islam. Samsul Munir menyebutkan macam-macam akhlak mahmudah diantaranya:

1. Husnudzon (baik sangka)

Husnudzon berasal dari bahasa Arab husn yang berarti baik dan az-zan yang berarti prasangka. Az-zan atau zhannun ialah “alima wa aiqana yaitu mengetahui dan yakin atasnya”.43 Dalam beberapa disiplin ilmu, kata prasangka secara definisi diartikan sebagai penguasaan masalah sebagian saja entah sebagian kecil, setengah atau sebagian besar, tetapi tidak sampai seratus persen.

Prasangka dalam berbagai hal haruslah senantiasa dipertimbangkan. Memang dalam ajaran Islam senantiasa disebutkan bahwa prasangka manusia itu tidak bisa dihukumi apapun selama itu masih dalam tataran prasangka. Justru apabila berprasangka baik, sekalipun belum dilaksanakan atau tidak diucapkan, telah dicatat sebagai kebaikan di sisi Allah.

Sebaliknya, bila seseorang berprasangka buruk selama tidak diucapkan, diungkapkan ataupun dilaksanakan, maka itu termasuk hal yang dimaklumi dan tidak termasuk sebagai dosa.

Husnudzon terhadap keputusan Allah merupakan salah satu akhlak terpuji. Karena sesungguhnya, apa yang ditentukan oleh Allah kepada seorang hamba, adalah jalan terbaik baginya. Sudah menjadi keharusan bagi setiap muslim agar memiliki akhlak husnudzon, yaitu berprasangka baik. Berdasarkan dalam hadis qudsi disebutkan:

“Aku tergantung kepada prasangka hamba-Ku…” (HQR. Syaikhani dan Turmudzi dari Abu Hurairah r.a.)

Allah itu tergantung kepada prasangka hamba-Nya. Dengan menilik hal tersebut, memberikan pengertian bahwa kesuksesan itu tergantung pada prasangka kita. Bila kita berprasangka baik maka akan baik pula akibatnya. Sebaliknya, bila berprasangka buruk, maka akan buruk pula akibatnya.

Berikut adalah macam-macam karakter berbaik sangka yang perlu kita miliki:

a. Baik Sangka pada Allah

Baik sangka pada Allah maksudnya keyakinan yang kuat bahwa impian kita itu akan terwujud, keyakinan yang baik pada Allah SWT bahwa Dia akan mewujudkan impian kita.

b. Berbaik Sangka pada Diri Sendiri

Baik sangka pada diri sendiri maksudnya keyakinan yang kuat dan rasa percaya diri atas kemampuannya sendiri. Tanpa keyakinan yang kuat, akan memunculkan rasa cemas dan penuh keragu-raguan yang mengakibatkan konsentrasi terganggu.

c. Baik Sangka pada Orang Lain

Baik sangka pada orang lain khususnya sesama muslim adalah wajib. Berprasangka baik pada orang lain akan membuat orang tersebut senang dengan kita. Hubungan jadi lebih baik dan harmonis. Hal ini karena Allah SWT telah menggariskan bahwa setiap mukmin itu bersaudara, oleh sebab itu segala bentuk sikap dan sifat yang akan memperkokoh persaudaraan harus ditumbuh kembangkan.

d. Baik Sangka pada Situasi Atau Keadaan

Kita diperintahkan untuk berbaik sangka dalam segala keadaan. Firman Allah dalam Alqur’an surat Al-Baqarah ayat 216 yang artinya:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.

2. Dzikrullah

Secara etimologi, dzikir berakar dari kata dzakara yang artinya mengingat, memerhatikan, mengenang, mengambil pelajaran, mengenal atau mengerti, dan ingatan.

Dzikrullah atau mengingat Allah, merupakan asas setiap ibadah kepada Allah. Hal ini menjadi pertanda adanya hubungan antara hamba dan Pencipta pada setiap saat dan tempat. Dzikrullah adalah ibadah yang ringan dan mudah untuk dilakukan. Akan tetapi didalamnya tersimpan hikmah dan pahala yang besar.

Perintah untuk selalu mengingat Allah atau dzikrullah terdapat dalam firman Allah Q.S Al-Baqarah ayat 152: “Maka ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu…”

Al-Ghazali dalam Al-Munqidz sebagaimana dikutip oleh Samsul Munir menjelaskan bahwa dzikir kepada Allah merupakan hiasan bagi kaum sufi. Syarat utama bagi orang yang menempuh jalan Allah adalah membersihkan hati secara menyeluruh dari selain-Nya. Sementara itu, kuncinya dengan dzikir kepada Allah.

3. Tawakal

Menurut Al-Ghazali sebagaimana dikutip Mahyudin, kata tawakal asalnya dari kata wikalah yang artinya menyerahkan atau mewakilkan. Jadi tawakal adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah setelah berbuat semaksimal mungkin, untuk mendapatkan sesuatu yang diharapkannya. Firman Allah QS. Ali-Imran (3): 159:

“…Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal”.

4. Shidqu (Jujur)

Shidqu atau sidiq berasal dari kata shadaqa yang berarti benar. Benar disini bukan lawan kata salah, tetapi lawan kata dusta, sehingga lebih tepat dimaknai jujur atau kejujuran. Adapun yang dimaksud jujur adalah memberitahukan, menuturkan sesuatu dengan sebenarnya, sesuai dengan fakta (kejadian)nya.

Pemberitahuan ini tidak hanya dalam ucapan, tetapi juga dalam perbuatan. Dengan demikian, shidqu adalah berlaku benar dan jujur, baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Orang yang jujur adalah orang yang berkata, berpenampilan, dan bertindak apa adanya, tanpa dibuat-buat. Kejujuran adalah sikap yang jauh dari kepalsuan dan kepura-puraan.kejujuran berarti sikap ksatria. Sebuah sikap yang dibangun oleh kematangan jiwa dan kejernihan hati.

Salah satu sifat yang akan bisa meraih kemenangan surga dengan kejujuran. Dan sebaliknya bila curang berarti meraih kerugian di neraka. Bersabda  Nabi  SAW  kepada  Ali  Karramallahu  Wajhah:

“Hai  Ali! Jujurlah walaupun kejujuran itu mencelakakan kamu di dunia, karena bahwasannya kejujuran itu bermanfaat bagimu di akhirat”.

Jujur adalah bagian dari akhlak Nabi, bahkan orang Quraish juga mengakui kejujuran beliau. Walaupun mereka mendustakan beliau mengenai kenabiannya namun tidak seorang pun berani mendustakannya tentang hal-hal yang lain.

Abu Jahal telah berkata kepada beliau: “Kami tidak pernah mendustakan engkau dan engkau bukanlah seorang pendusta tetapi kami mendustakan apa yang engkau bawa itu”.

Jujur merupakan akhlak terpuji yang paling penting serta memerlukan kesungguhan untuk teguh kepadanya. Allah SWT menciptakan langit dan bumi dengan jujur dan menyuruh manusia membangun hidup mereka di atas kejujuran. Karena itu manusia jangan berkata atau berbuat kecuali yang jujur.

Jujur mempunyai beberapa bentuk, diantaranya:

a. Jujur pada diri sendiri

Disebut pula jujur dalam keputusan. Seorang muslim jika memutuskan sesuatu yang harus dikerjakan, hendaklah tidak ragu-ragu meneruskannya hingga selesai.

Baca Juga:  Cara Mendapatkan KIP Kuliah 2021; Syarat & Tahapannya

b. Jujur dalam berkata

Seorang muslim jangan berkata kecuali jujur. Allah berfirman dalam Q.S Al-Ahzab ayat 70: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”.

c. Jujur dalam berjanji

Seorang muslim bila menjanjikan sesuatu hendaklah memenuhinya. Jika tidak, ia terkena tanda munafik. Diantara janji itu ada janji kepada anak-anak. Dalam hal ini Islam berpesan agar jujur kepada mereka, supaya setelah dewasa mereka pun jujur dan berkata serta berbuat jujur pula.

d. Jujur dalam usaha

Seorang muslim jika menjalani usaha dengan seseorang hendaklah bersikap jujur, tidak menipu dan tidak curang kepadanya. Jujur dalam perkataan itu membawanya kepada jujur dalam perbuatan dan kebaikan dalam segala hal.

5. Sabar

Sabar menurut terminologi adalah keadaan jiwa yang kokoh, stabil, dan konsekuen dalam pendirian. Jiwanya tidak tergoyahkan, pendiriannya tidak berubah bagaimanapun berat tantangan yang dihadapi.

Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani sabar dibagi menjadi tiga tingkatan:

a. Ash-Shabru Lillah (sabar untuk Allah), yaitu keteguhan hati dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya.

b. Ash-Shabru ma’a Allah (sabar bersama Allah), yaitu keteguhan hati dalam menerima segala keputusan dan tindakan Allah.

c. Ash-Shabru’ala Allah (sabar atas Allah), yaitu keteguhan hati dan kemantapan sikap dalam menghadapi apa yang dijanjikan-Nya, berupa rezeki atau kelaparan hidup.

6. Iffah (Memelihara Kesucian Diri)

Iffah adalah mengekang hawa nafsu dari angkara murka. Lebih spesifik lagi, yang dimaksud dengan al-iffah adalah sikap yang bisa menjaga seseorang dari melakukan perbuatan-perbuatan dosa, baik yang bisa dilakukan dengan tangan, lisan atau kepopulerannya.

Al-iffah (memelihara kesucian diri) termasuk dalam rangkaian akhlak karimah yang dituntut dalam ajaran Islam. Menjaga diri dari segala keburukan dan memelihara kehormatan hendaklah dilakukan pada setiap waktu.

Dengan penjagaan diri secara ketat, maka dapatlah diri dipertahankan untuk selalu berada pada status khair an-nas (sebaik-baik manusia). Hal ini dilakukan mulai dari memelihara hati (qalb) untuk tidak berbuat rencana dan angan-angan yang buruk.

Iffah merupakan akhlak paling tinggi dan dicintai Allah SWT. Dengan memiliki akhlak iffah seseorang yang sudah dewasa akan mampu menahan dirinya dari dorongan syahwat, mengambil hak orang lain dan sebagainya.

Namun ketika sifat itu sudah tidak dimiliki lagi maka secara otomatis pula tidak ada lagi daya tahan dalam dirinya. Sehingga pada saat sekarang ini sifat iffah mulai memudar dari masyarakat, akibatnya banyak terjadi perilaku mengumbar syahwat dan perzinaan semakin sulit dibendung.

Oleh sebab itulah, iffah pada diri manusia merupakan sifat potensial yang harus dididik, ditanamkan serta dilatih secara sungguh-sungguh dalam diri manusia, sehingga bisa menjadi benteng dalam menjaga kemuliaan eksistensi dirinya.

Pentingnya sifat ini ditanamkan dalam diri seorang muslim karena ia merupakan perintah agama yang banyak memberikan kebaikan. Firman Allah SWT dalam Alqur’an surat Al-A‟la ayat 14: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri dengan beriman”.

Keuntungan yang diperoleh dengan menjaga kesucian diri dalam Alqur’an surat Al-Furqon ayat 75: “Mereka itulah yang dibalasi dengan martabat yang tinggi dalam surga karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat didalamnya”.

Menurut Al-Ghazali, dari kesucian diri akan lahir sifat-sifat terpuji lainnya, seperti dermawan, malu, sabar, toleran, qanaah, wara’, lembut, dan membantu. Kesucian diri terbagi ke dalam beberapa bagian:

a. Kesucian pancaindra

Allah menyuruh bagi setiap muslim untuk menjaga kesucian pancaindra, firman-Nya dalam QS. An-Nur ayat 33: “Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian dirinya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya….”

b. Kesucian jasad

Firman Allah untuk menjaga kesucian jasad bagi setiap muslim dalam QS. Al-Ahzab ayat 59: “…Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu…”

c. Kesucian dari memakan harta orang lain

Tentang hal ini Allah berfirman dalam QS. An-Nisa‟ ayat 6:  “…Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan janganlah kamu tergesa-gesa membelanjakannya sebelum mereka dewasa.

Barang siapa diantara pemelihara itu mampu, maka hendaklah ia menahan diri dari memakan harta anak yatim itu dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut…”

d. Kesucian lisan

Firman  Allah  dalam  QS.  Al-Baqarah  ayat  273  yang  artinya; “Berinfaklah kepada orang-orang fakir yang terikat jihad di jalan Allah, mereka tidak dapat berusaha dibumi, orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kayak arena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak…”

7. Bijaksana

Bijaksana ini dalam bahasa Arab disebut fathanah artinya kecerdikan. Ini adalah salah satu sifat Rasulullah, kalau beliau tidak bijaksana tidak mungkin kaumnya akan senang kepadanya dan tidak mungkin pula akan disegani oleh kawan dan lawan.

Jadi dalam menghadapi suatu masalah selalulah memakai kecerdikan atau kebijaksanaan sehingga persoalan itu dapat diselesaikan dengan baik, tidak ada yang merasa dirugikan.

8. Ihsan

Ihsan adalah berbuat baik dalam hal ketaatan terhadap Allah. Ihsan merupakan perbuatan terpuji. Berbuat ihsan juga dapat menciptakan suasana harmonis dengan masyarakat. Jika semua orang mukmin mengembangkan sifat-sifat ihsan, mulai dari saling menghargai toleransi, saling menolong, saling memaafkan, menyambung tali silaturahmi maka solidaritas akan terjalin dengan kuat.

Ruang Lingkup Akhlak Mahmudah

Seperti halnya ibadah dan muamalah, akhlak dalam Islam juga mempunyai ruang lingkup, yaitu:

1. Akhlak Mahmudah Terhadap Allah SWT

Lingkup akhlak terhadap Allah SWT antara lain ialah:

a. Beribadah kepada Allah SWT

Hubungan manusia dengan Allah diwujudkan dalam bentuk ritualitas peribadatan seperti shalat, puasa, zakat, dan haji.

b. Mencintai Allah SWT diatas segalanya

Mencintai Allah melebihi cintanya kepada apa dan siapa pun dengan jalan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya, mengharapkan ridha-Nya, mensyukuri nikmat dan karunia-Nya serta berserah diri hanya kepada-Nya.

c. Berdzikir kepada Allah

Mengingat Allah dalam berbagai situasi merupakan salah satu wujud akhlak manusia kepada-Nya. Dia menyuruh orang mukmin berdzikir kepada-Nya untuk mendapatkan ketenangan.

d. Berdoa, tawaddu‟ dan tawakal

Berdoa atau memohon kepada Allah sesuai hajat harus dilakukan dengan cara sebaik mungkin, penuh keikhlasan dan keyakinan bahwa doanya akan dikabulkan Allah SWT. Dalam berdoa, manusia dianjurkan untuk tawaddu’ yaitu bersimpuh mengakui kelemahan dan keterbatasan serta memohon pertolongan-Nya dengan penuh harap.

2. Akhlak Mahmudah Terhadap Makhluk

Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup sendiri, perlu berinteraksi dengan sesamanya dengan akhlak yang baik. Diantara akhlak terhadap sesama yaitu:

a. Akhlak terhadap Rasulullah SAW

Mencintai Rasulullah secara tulus dengan mengikuti semua sunahnya. Menjadikannya sebagai panutan, suri teladan dalam hidup dan kehidupan. Menjalankan apa yang disuruhnya dan meninggalkan segala apa yang dilarangnya.

Mengikuti dan menaati Rasulullah, berarti juga mengikuti jalan petunjuk dan ajaran yang disampaikan Rasulullah. Petunjuk dan ajaran yang disampaikan Rasulullah terdapat dalam Alquran dan sunnah.

Itulah dua warisan yang ditinggalkan Rasulullah untuk umat manusia, yang apabila selalu berpegang teguh kepadanya, maka umat manusia tidak akan tersesat untuk selama-lamanya.

Mengucapkan shalawat dan salam kepada Rasulullah. Dengan membaca shalawat dan salam kepada Rasulullah, berarti seseorang telah mencintai beliau, karena membaca shalawat dan salam adalah mendoakan, menyebut, dan juga mencintai Rasulullah.

b. Akhlak terhadap kedua orang tua

Mencintai mereka melebihi cintanya kepada kerabat lain. Mendoakan mereka untuk keselamatan dan ampunan kendati pun mereka telah meninggal dunia.

c. Akhlak terhadap diri sendiri

Memelihara kesucian diri, menutup aurat, adil, ikhlas, pemaaf, rendah hati dan menjauhi sifat dengki dan dendam.

d. Akhlak terhadap keluarga, karib dan kerabat

Saling membina rasa cinta dan kasih sayang, mencintai dan membenci karena Allah SWT.

e. Akhlak terhadap tetangga

Saling mengunjungi, membantu saat senang maupun susah, dan hormat menghormati.

Baca Juga:  30 Contoh Soal SKB Pranata Komputer CPNS 2021

f. Akhlak terhadap masyarakat

Memuliakan tamu, menghormati nilai dan norma yang berlaku, bermusyawarah dalam segala urusan untuk kepentingan bersama.

3. Akhlak Mahmudah Terhadap Alam

Islam sebagai agama universal mengajarkan tata cara peribadatan dan interaksi tidak hanya dengan Allah SWT dan sesama manusia tetapi juga dengan lingkungan alam sekitarnya. Hubungan segitiga ini sejalan dengan misi Islam yang dikenal sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.

Akhlak manusia terhadap alam diwujudkan dalam bentuk tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan dengan tujuan yang hanya untuk ambisi dan hasrat ekonomi.

Ciri-ciri Akhlak Mahmudah

Ajaran-ajaran agama Islam, merupakan tuntunan yang ditujukan kepada manusia agar hidup di dunia menurut aturan dan norma yang terpuji. Karena itu, akhlak dalam ajaran Islam memiliki kandungan untuk berbuat baik dan terpuji.

Adapun ciri-ciri akhlak Islam adalah:

1. Kebaikan yang absolut

Karena berdasar pada Al-Qur’an dan sunnah, maka kebaikan dalam akhlak Islam bersifat absolute (mutlak). Islamlah yang bias menjamin kebaikan yang mutlak. Karena Islam telah menciptakan akhlak luhur yang menjaamin kebaikan yang murni, baik untuk perorangan maupun masyarakat, di setiap lingkungan, keadaan, dan pada setiap waktu.

2. Kebaikan yang menyeluruh

Kebaikan dalam Islam disebut universal, karena kebaikan yang terdapat di dalamnya dapat digunakan untuk seluruh umat manusia, kapan saja dan dimana saja.Islam telah menciptakan akhlak yang sesuai dengan jiwa (fitrah) manusia, di samping diterima pula oleh akal sehat.

3. Kemantapan

Akhlak Islamiyah menjamin kebaikan yang mutlak dan sesuai pada diri manusia.Ia bersifat tetap, langgeng, dan mantap, sebab yang menciptakan Tuhan yang bijaksana, yang selalu memeliharanya dengan kebaikan yang mutlak.

4. Kewajiban yang dipatuhi

Akhlak yang bersumber dari agama Islam wajib ditaati manusia. Sebab ia mempunyai daya kekuatan yang tinggi menguasai lahir batin dan dalam keadaan suka dan duka, juga tunduk pada kekuasaan rohani yang dapat mendorong untuk tetap berpegang kepadanya.

5. Pengawasan yang menyeluruh

Agama Islam adalah pengawas hati nurani dan akal yang sehat, hati nurani dapat dijadikan ukuran dalam menetapkan hukum dan ikhtiar.Agama Islam menjunjung tinggi akal, sebagaimana banyak dijelaskan dalam ayat-ayat Alquran.

Dengan demikian, akhlak dalam Islam pengawasannya bersifat menyeluruh, bagi seluruh umat manusia pemeluk Islam.

Faktor Pengaruh Pembentuk Akhlak Mahmudah

Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan akhlak seseorang sebagai berikut:

1. Insting (naluri)

Aneka corak refleksi sikap, tindakan, dan perbuatan manusia dimotivasi oleh kehendak yang dimotori oleh insting seseorang. Insting merupakan tabiat yang dibawa manusia sejak lahir. Para psikologi menjelaskan bahwa insting berfungsi sebagai motivator penggerak yang mendorong lahirnya tingkah laku sebagai berikut:

a. Naluri berjuang (combative instinct). Tabiat manusia untuk mempertahankan diri dari gangguan dan tantangan.

b. Naluri bertuhan. Tabiat manusia mencari dan merindukan penciptanya. Naluri manusia itu merupakan paket yang secara fitrah sudah ada dan tanpa perlu dipelajari terlebih dahulu.

2. Adat/kebiasaan

Adat/kebiasaan adalah setiap tindakan dan perbuatan seseorang yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan.

3. Wiratsah (keturunan)

Adapun warisan adalah berpindahnya sifat-sifat tertentu dari pokok (orangtua) kepada cabang (anak keturunan). Sifat-sifat asasi anak merupakan pantulan sifat-sifat asasi orang tuanya.

4. Milieu 

Artinya, suatu yang melingkupi tubuh yang hidup meliputi tanah dan udara, sedangkan lingkungan manusia ialah apa yang mengelilinginya. Milieu ada 2 macam sebagai berikut:

a. Lingkungan alam

Alam yang melingkupi manusia merupakan faktor yang memengaruhi dan menentukan tingkah laku seseorang.

b. Lingkungan pergaulan

Manusia hidup selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Itulah sebabnya manusia harus bergaul. Oleh karena itu, dalam pergaulan akan saling memengaruhi dalam pikiran, sifat, dan tingkah laku.

Selain faktor-faktor diatas, untuk membentuk akhlak seseorang diperlukan proses-proses tertentu, antara lain:

Pertama, melalui keteladanan (Qudwah, uswah). Orang tua dan guru yang biasa memberikan keteladanan mengenai perilaku baik, maka biasanya akan ditiru oleh anak-anaknya dan muridnya dalam mengembangkan pola perilaku mereka.

Kedua, melalui ta’lim (pengajaran). Misalnya, dengan mengajarkan empati dengan sikap disiplin.

Ketiga, pembiasaan (ta’wid). Melatih anak atau murid dengan perbuatan terpuji yang bisa membentuk kepribadiannya. Sebagai contoh anak sejak kecil dibiasakan membaca basmalah sebelum makan. Jika hal itu dibiasakan, maka akan menjadi akhlak mulia bagi anak ketika ia tumbuh dewasa.

Keempat, pemberian motivasi (targhib/ reward, motivation). Memberikan motivasi baik berupa pujian atau hadiah tertentu akan menjadi latihan positif dalam proses pembentukan akhlak, terutama ketika ia masih kecil.

Kelima, pemberian ancaman dan sangsi hukum (punishment, warning). Dalam rangka proses pembentukan akhlak kadang diperlukan ancaman, sehingga anak tidak bersikap sembrono.

Menurut Hamka sebagaimana dikutip oleh Zahruddin juga menyebutkan beberapa hal yang mendorong seseorang untuk berbuat baik, diantaranya:

  1. Karena bujukan atau ancaman dari manusia lain.
  2. Mengharap pujian, atau karena takut mendapat cela.
  3. Karena kebaikan dirinya (dorongan hati nurani).
  4. Mengharap pahala dan surga.
  5. Mengharap pujian dan takut azab Tuhan.
  6. Mengharap keridhaan Allah semata.

Dengan memiliki akhlak mahmudah (terpuji), maka dapat menumbuhkan kerukunan antar tetangga yang terwujud dalam sikap saling menghormati, saling melindungi, saling menjaga, dan saling peduli sehingga seluruh lapisan masyarakat akan menjadi tenang, aman, damai, dan sejahtera.

Jika keadaan lingkungan sosial seperti itu, akan tercipta suasana kondusif yang terjadi di masyarakat, sehingga setiap orang dapat menjalankan aktivitasnya dengan baik, tanpa adanya gangguan dan kekhawatiran akan keselamatan dirinya, dan pembangunan masyarakat (sarana dan prasarana) akan terlaksana dengan baik.

Sifat Seseorang Berakhlak Mahmudah

Beberapa sifat yang dimiliki oleh seseorang dengan akhlak mahmudah diantaranya:

1. Segera bertaubat jika berbuat dosa, yaitu sebuah kesungguhan untuk meninggalkan segala kemaksiatan, terlebih itu jika termasuk dosa besar dan berazam untuk tidak melakukannya kembali.

2. Zuhud, yaitu sebuah pola kehidupan seorang mukmin yang sederhana dan rela meninggalkan kemewahan meskipun dirinya mampu untuk menampakkan kehidupan dunia yang lebih mempesona bagi orang lain.

3. Takut kepada Allah, yaitu sikap seorang muslim yang yakin dengan mengenali  sifat-sifat Allah, yang dengan pengenalan itu ia mempunyai perasaan takut jika berbuat maksiat kepada-Nya.

4. Mahabbah (cinta Allah dan Rasul), yaitu sikap menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai yang dicintai melebihi segala yang lain. Hal itu bisa dicerminkan dengan rela berkorban bagi kebaikan dan kemajuan Islam.

5. Sabar. Sabar merupakan separuh dari iman. Sabar ditunjukkan dengan kuatnya iman dalam meridhoi apa-apa yang dijadikan Alloh sebagai bentuk ujian keimanannya.

6. Syukur, yaitu sikap seorang mukmin yang mencerminkan rasa berterima kasih kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan. Hal ini bisa ditunjukkan dengan memperbaiki ibadah dan memperbanyak amal shalih.

7. Ikhlas, yaitu sikap membersihkan amalan dan pekerjaannya dari tujuan-tujuan yang tidak diridhoi Allah.

8. Tawakal ialah meletakkan ketergantungan hanya pada Allah setelah melaksanakan ikhtiar sebaik mungkin.

9. Ridho dengan qada Allah adalah sikap mahmudah yang mana ia selalu merasa adanya kebaikan dalam setiap ketentuan Allah, meskipun secara lahiriah itu adalah sebuah musibah kehidupan.

10. Mengingati mati. Mengingat mati  juga merupakan bagian dari akhlak mahmudah seorang mukmin yang menyadari kehidupan di dunia ini hanya sementara.

Demikian bahasan kita mengenai arti akhlak mahmudah, dan beberapa hal yang berkaitan dengannya. Materi ini kami sadur dari salah satu tesis, yang mana anda jika anda masih membutuhkan referensi mengenai arti akhlak mahmudah lain bisa merujuk langsung ke beberapa tesis yang berkaitan dengan tema-tema arti akhlak mahmudah.

Semoga arti akhlak mahmudah ini cukup menambah pengetahuan kita semua!

You May Also Like

About the Author: haidunia

Baca artikel terbaru dan menarik lainnya hanya di https://www.haidunia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *