Al quran; Petunjuk Jalan Menjadi Generasi Terbaik

Posted on

Ageng Triyono – Pemikiran, Pendidikan

Masyarakat Madani atau yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi civil society, banyak diartikan sebagai sebuah masyarakat yang berperadaban. Jika kita lacak melalui wikipedia, istilah Masyarakat Madani ini pertama kali dipopulerkan oleh Anwar Ibrahim. Menurut beliau, masyarakat madani adalah sebuah sistem sosial kemasyarakatan yang tumbuh subur berdasarkan prinsip-prinsip moral yang mana menjamin keseimbangan antara kebebasan individu dengan kestabilan hidup bermasyarakat. Berangkat dari kata madani, sudah pasti bahwa konsep masyarakat yang dimaksud disini akan merujuk pada konsep masyarakat Madinah yang dibangun oleh Rasululloh SAW. Sang Nabi telah berhasil membangun masyarakat yang berbudaya, berbudi pekerti luhur, berkemajuan, modern, dan damai dalam perbedaan ragam kabilah-kabilah. Sehingga penting konsep yang beliau bangun untuk dipelajari para calon negarawan.

Generasi terbaik (Sumber)

Mari kita sama-sama catat kembali kehidupan para sahabat yang sangat diberkahi pada eranya. Merekalah manusia-manusia yang menjadi bagian kunci utama dari terbentuknya masyarakat madani. Kemudia dapat kita selidiki dengan seksama kiranya apa yang menjadi kunci keberhasilan mereka mencapai tingkat kehormatan antar bangsa yang begitu tinggi.

Kira-kira pada kisaran empat belas abad silam, di Madinah telah terbangun sebuah masyarakat terbaik semuka bumi. Masyarakat itu terdiri dari sekumpulan manusia terbina yang tiada dua dan bandingnya. Nabi pun menyanjung mereka;

“Sebaik-baik umat ku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka”

HR. Bukhari

Status khoira ummatii pada hadits tadi tentu lah tidak diperoleh secara tiba-tiba. Sekian tahap kelulusan wajib dilewati bagi mereka yang menjadi anggota masyarakat itu. Tiga generasi umat yang berurutan dan bertalian itu wajib mencukupi syarat-syaratnya. Alhamdulillah semua lulus. Semua menyelesaikan tanggungjawabnya sesuai status yang disandangnya.

BACA:  Menulis Ngawur

Barangkali kita akan sedikit mengiri. Karna lahir belakangan sehingga tak berkesempatan bergaul bersamanya. Sementara dalam hal ini, orang sukses sangat dipengaruhi oleh siapa yang sehari-hari bersamanya. Orang jaman ini pun mengakui akan hal itu. Bahkan sampai ada yang membuat ukuran sukses lebih nyata; ‘sukses seorang pada 25 tahun mendatang dipengaruhi oleh siapa (komunitas) yang sekarang bersamanya.

Apakah sukses mereka menjadi generasi terbaik semata-mata karna dibersamai ataupun dekat dengan Nabi? Yang terjadi pada generasi terbaik itu kondisi alamiahnya memang begitu. Angkatan pertama dididik sendiri oleh pengajar utama kita, yakni Rasululloh SAW. Pasca kenabiannya, para sahabat langsung mengambil alih tugas mentoring yang beliau tinggalkan. Pada proses kaderisasi berikutnya, angkatan atba’ut tabi’iin, disahabati para at-tabi’un. Mereka tumbuh saling berkelindan menata hidup dan berkembang bersama membangun masyarakat dakwah atas dasar tauhid dan bimbingan wahyu.

Mekkah (Sumber)

Para sahabat berhasil mewujudkan masyarakat madani bukanlah semata-mata karna mereka didampingi atau sejaman Rasulullah, karna jika demikian maka menjadi tidak adil bagi kita yang hidup jauh dari periode kenabian. Akan tetapi mereka menjadi generasi terbaik adalah karena berhasil menjadikan Al quran sebagai pedoman hidup individu dan bermasyarakat.

Terbukti pada rentang waktu berikutnya yang mana relatif jauh jarak usianya, Alloh kembali memunculkan satu panglima perang terbaik yang memimpin sejumlah pasukan terbaik pula. Itu pun juga tidak serta merta. Bukan kun fayakun. Tetapi pemimpin dan pasukannya itu harus melalui proses penempaan yang berjenjang. Sedang mereka sudah tidak dibersamai lagi oleh tiga angkatan generasi terbaik di awal. Sangat luar biasa, ternyata generasi Al Fatih sanggup mencapai posisi itu. Sabda nabi empat belas abad silam ini; “Konstantinopel pasti akan ditaklukkan. Rajanya adalah sebaik-baik raja dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara…”, dibuktikan oleh Al Fatih bersama pasukannya pada delapan abad berikutnya. Ternyata mereka bisa!

BACA:  Problem Solving

Pun jeda waktu berikutnya hadir pemimpin Harun Ar Rasyid yang kebingungan hendak membagi zakat, karna distribusi ekonomi rakyatnya telah makmur merata. Dengan cara yang mana semua itu terlaksana?

Pada gelombang sejarah berikutnya di tengah kaum muslimin hadir tokoh panglima perang Sholahudin Al Ayyubi. Dengan cara apa ia mengkondisikan pasukannya? Juga periode sejarah berikutnya hadir pula Umar bin Abdul Azis. Dengan ilmu yang mana ia memimpin? Para orang-orang besar beserta orang-orang yang dipimpinnya itu berhasil mendapatkan predikat generasi terbaik pada jamannya masing-masing karena mereka menghidupkan Al quran dalam kehidupan nyata dengan sebenar-benarnya. Sehingga pencapaian status ‘pemimpin & pasukan terbaik’ bisa mereka realisasikan meskipun tanpa asistensi langsung dari Nabi ataupun para salafus shalih. Maka menjadi benarlah kata Sayyid Quthb; “Jika karna didampingi Nabi para sahabat menjadi generasi terbaik dan sebagian di jamin masuk syurga, itu tidak adil”. Maka in syaa Allah dalam tafakur yang panjang, kita sampai pada kesimpulan yang sama, bahwasanya  apa yang dicapai oleh para manusia terbaik itu adalah melalui jalan pengamalan Al quran. Wallahu a’lam bis-shawab

Oleh: Ageng Triyono
Editor: Deany Januarta Putra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *