Allah Akan Menyatukan Hati Para Pejuang yang Satu Visi

Posted on

Ageng Triyono – Pendidikan, Pemikiran

Sungguh saya pribadi masih harus melalui tahap-tahap pembinaan untuk disebut sebagai pejuang, tetapi itu tak mengapa. Tentu saya siap diajak oleh anda untuk duduk bersama, berfikir, berembug pikir untuk memberikan sesuatu bagi Indonesia. Mungkin pula kemampuan kita saat ini belum seberapa, tetapi jika jumlah manusia yang sadar perannya sebagai anak bangsa Indonesia kian hari makin bertambah,  maka akan semakin berat bobot kebaikan untuk negeri ini. Meskipun saya, anda  dan lainnya saat sekarang belum juga saling kenal, tapi biarlah  Allah nanti yang akan mengatur perjumpaan kita pada waktu yang pas.  Karna tak mungkin Allah buta atas apa yang sedang kita persiapkan. Maka, ikut bersiaplah!

Pemuda Al Kahfi (Sumber foto)

Uniknya, hikmah yang Allah sampaikan lewat ayat-ayatnya yang mulia ini. “(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).” (QS: Al-Kahfi: 10).

Kisah Pemuda Kahfi adalah ceritera sekumpulan anak muda yang belum pernah bertegur sapa sebelumnya, juga berasal dari latar belakang yang berbeda. Kita sebut saja satu dari mereka itu ada yang anak pejabat, dan yang lain anak pengusaha, anak aparat dan seterusnya. Masing-masing adalah pribadi-pribadi yang kukuh menjaga diri atas kondisi rezim yang rusak secara moral dan prinsip-prinnsip ketauhidannya.

Sadar akan mandat kehidupannya, mereka pun tahu betul harus melakuan perubahan besar untuk merombak rezim yang bejat itu. Tugas hidupnya bukanlah tinggal diam dan berpangku tangan, apalagi cukup duduk turut menyaksikan. Mereka pun gelisah atas situasi itu.  Tetapi kekuatan belum tersusun, rekan-rekan sevisi tak sempat terhimpun, dan cara-cara kerja masih jauh tak direncana. Dengan kata lain masing-masing menghadapi situasi yang tak mungkin dirubah dengan tangannya seorang. Sedang jika kondisi ini dibiarkan berlanjut mencuat khawatiran suatu saat lengah, bisa berakibat prinsip-prinsip hidupnya mulai tercemari. Dengan bahasa kita sekarang, mereka hanya bisa berkata tidak! Tidak untuk terlibat dalam tindak tanduk yang membinasakan masyarakatnya.

BACA:  Antara Jalan Cita atau Sekedar Perantara

Disaat tak ada kawan untuk melawan, ketika tak ada saudara seiya sekata dalam kebaikan, sementara kondisi jaman begitu mengancam. Mereka hanya bisa bersuara tidak!, dan menghindar. Itulah amaliah konkret yang bisa mereka upayakan. Sementara menyendiri demi keamanan aqidahnya menjadi pilihan mereka. Atas kehendak Allah, pemuda-pemuda itu kemudian dikopidaratkan  dalam sebuah gua, tersebutlah mereka sebagai pemuda kahfi. Dan di gua itulah sekolompok anak muda yang progresif dan sevisi itu dipertemukan dan ditidurkan oleh Allah agar tak tenggelam dalam arus kerusakan masyarakat sekitarnya.

Sebagaimana ketika Muhammad SAW muda yang gelisah menyaksikan kerusakan kaumnya. Beliau pun berkata Tidak! Tidak!, untuk mengikuti tingkah laku kaum Quraisy pada masa itu. Dan kemudian merenunglah beliau di gua Hiro. Sebelum mendapatkan instruksi dari Allah untuk melaksanakan perubahan besar.

Menolak kerusakan adalah hal yang setiap orang bisa upayakan. Agar kehancuran tak lalu berlanjut. Biar kerusakan tak terus mengalir membasahi yang masih bisa diselamatkan.

Itu adalah sikap bertahan, sedikitnya kita tidak memutuskan apa yang telah disambung oleh para pejuang terdahulu. Dan tidak ikut meruntuhkan apa yang sudah mereka bangun. Andai tak bisa menamabah tinggi bangunannya tugas kita adalah menjaganya tetap utuh. Mari berkata ‘tidak’ untuk membela koruptor, berkata tidak untuk investor asing yang tak memberikan keuntungan berkeadilan, dan berkata tidak untuk politisi kotor. Biar, yang tak murni, terbakar mati!

Saudaraku, bertahanlah dalam kebaikan! Jika kita belum berhasil menyusun kekuatan, cukupkan sikap kita dengan menolak kerusakan. Belajar  menjadi orang yang benar dan bersabar bersama kebenaran itulah kuncinya.  Insya Allah, sedikit saja terdetik niat yang baik di dada kita, Allah pasti membantu. Pada waktu yang tepat Allah akan meng-kopi darat-kan kita semua dalam satu perjuangan. Dan kita akan menjadi bagian dari tim impian yang dinanti-nanti untuk memenangkan umat ini!

BACA:  Drama di Balik Konflik Libia-Italia 1911

Oleh: Ageng Triyono
Editor: Deany Januarta Putra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *