Belajarlah Mengelola Perbedaan dari Indonesia

Posted on

Ageng Triyono – Pemikiran

haidunia.com – Cara Belajar Siswa Aktif atau biasa disingkat CBSA menjadi metode belajar andalan yang digunakan bapak/ibu guru saat mendampingi saya dan yang sebaya dengan saya saat  ini duduk di bangku sekolah dasar. Tidak jarang, dengan metode ini seorang murid terus dirangsang untuk tunjuk jari ataupun maju ke muka kelas sebelum menjawab pertanyaan dari sang guru. Demi mewakili kawan seangkatan, suatu kali satu diantara kami harus maju ke muka kelas. Ia memberanikan seorang diri menghadapi sesosok guru beserta gambar dunia yang sudah dipampang selebar papan tulis. Masih berseragam merah-putih kala itu. Setelah merenung dan lirak-lirik sebentar, masih terngiang di benak saya saat telunjuk mungil kawan saya itu menuding titik-titik lokasi yang menjadi jawaban dari pertanyaan Sang Guru. Sayang, sasaran jawaban lebih banyak menjadi bahan gurauan teman-teman daripada tepukan tangan. Sejak itu geografi seolah pelajaran tebak-tebakkan saja bagi kami di kelas. Dan sang guru adalah sosok yang terkena wajib pasang senyuman, lagi harus panjang nafas dalam menghadapi murid setipikal kami. Serta dituntut selalu riang gembira, segaduh apapun kelasnya.

www.bumi-to-mars.blogspot.com

Teringat kelucuan masa kecil itu, melalui risalah sederhana ini saya ingin menitip harap kepada bapak/ibu guru. Saat berkesempatan mengampu pembelajaran sebagaimana sepenggal kisah kecil saya di atas. Mintalah murid anda agar lebih semangat mempelajari peta, dengan menyampaikan jawaban dengan serius atas pertanyaan semisal: “Tunjukkan, dari negeri yang manakah Islam akan bangkit kembali?” Saya yakin jawabannya tak satu suara. Tetapi anda tak perlu ragu untuk mengarahkan jawabannya. Dengan sepenuh hati, tunjuk saja, atau jika perlu lingkarilah peta wilayah Nusantara sebagai jawaban yang semestinya.

BACA:  Belajar Kepahlawanan dari para Pengajar Muda

Landscape Indonesia

Ya, Indonesia. Jangan ada ragu menyebut kata yang mewakili sepetak negeri di peta dunia yang mana wilayahnya berupa jajaran pulau-pulau berpagarkan lautan. Terbentang diantara . Atau dengan lain kata; jarak Barat ke Timurnya sejauh London sampai Moskow. Sedang dari Utara ke Selatan setara selama perjalanan dari Jerman menuju Aljazair. Di sepanjang bentangan itu sedikitnya berdiam diri 216 juta jiwa seorang muslim, alias setara 88% dari total penghuninya. Terinci lagi dalam sedikitnya 740 suku bangsa yang bertegur sapa dalam 583 ragam bahasa. Dan semua dibebaskan haknya untuk meyakini satu dari lima pilihan agama resmi yang dianut negara, sedang selainnya dipersilahkan mengikuti aliran kepercayaan yang dipahami. Tiada lain, inialh bentang wilayah yang dinamakan Indonesia, dengan semua halnya tiada lain semakin menambah berbhineka namun tetap satu jua, yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, kondisi itu melangkahkan pengalaman Indonesia jauh lebih ke depan mendahului bangsa lain dalam hal mengelola yang berbeda dan membariskan yang tak seragam. Sehingga keberhasilan menenun bangsa bersulamkan warna-warni perbedaan ini mulai menjadi lirikan negeri-negeri lain. Mereka hendak berguru pada kita tentang bagaimana merawat keragaman latar belakang dan kepentingan. Dipandanglah Indonesia sebagai laboratorium kehidupan dunia yang lengkap sekaligus ‘masternya’ dalam berbhineka tunggal ika. Dimana learning center-nya adalah dari ujung Sumatera hingga puncak Papua.  Semua problematika Indonesia sebagai negara adalah studi kasusnya.

Sumber foto: suaramerdeka

Keragaman Indonesia

Itu menjadi prestasi yang langka. Karna sedikit sekali bangsa yang mengalami ujian masalah perbedaan, sedang tidak semua lulus melewatinya. Alhamdulillah fase berdarah-darah untuk mencapai kata persatuan Indonesia, hingga berdirinya Indonesia Raya sepanjang usianya telah selesai dilalui Indonesia.

BACA:  Kenakalan Murid adalah Petunjuk Mengenai Cara untuk Mendidiknya

Dari seluruh pemimpin dunia tentulah Rosulullah paling piawai menyelesaikan urusan ini. Hanyalah kalimat kekaguman yang tak berujung pangkal yang bisa kita ucapkan. Karna apa yang dicapai beliau sungguh mengagumkan. Saya pun tak berani membandingkan pencapaian para pemimpin Indonesia dari setiap ordenya dengan keberhasilan beliau. Tiada bandingnya. Hanya saja secara kasat mata, kelok jalan yang Indonesia tempuh tampak mirip dengan perjalanan beliau menyatukan kabilah hingga ujung tegaknya Daulah Madinah. Tampak sebaya. Proses merangkul semua golongan menuju persatuan Indonesia sama kualitas terjalnya. Hingga beberapa jeda waktu kemudian kita cukup pantas dianggap telah menuntaskan fase pendirian sebuah negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bersusunkan beragam kabilah bahkan harus menyambung berpulau-pulau menjadi satu. Itu menyiratkan bahwa perjuangan membesarkan Indonesia menyerupai portofolio perjalanan Nabi SAW membangun peradaban di Jazirah Arab. Atau sekelas dengan mengepalai 22 negeri Islam di bawah kenabian beliau SAW masa itu. Setipe dalam tingkat kerumitan dan tantangan. Saya kira ringkasnya begitu!

Sumber gambar: indonesiabaik

Maka berani kita ajukan hipotesa; jika dapat mengelola Indonesia maka akan mampu mengelola dunia Islam yang baru. Keberhasilan kader umat sukses merekayasa masa depan Indonesia, indikasi sangat mungkin mereka mampu bergerak merekontruksi kekuatan dunia Islam yang baru. Sekaligus landscape sebuah negeri muslim yang berhasil menyelesaikan permasalahan dalam negeri dan mengelola cia-citanya, serta berkontribusi maksimal di kancah internasional. Yang menggambarkan negara merdeka dengan sesungguhnya telah menghapus penjajahan di atas dunia, melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah yang terancam, mensejahterakan yang kekurangan, mencerdaskan yang belum berpengetahuan, dan mendamaikan dunia yang penuh sengketa. Singkatnya, bisa mengelola Indonesia Insya Allah akan dimungkinkan bisa mengelola dunia. Maka, kalian negeri-negeri muslim yang masih saling bersengketa antar sesama anak bangsanya, belajarlah mengelola perbedaan dari Indonesia!

BACA:  Antara Jalan Cita atau Sekedar Perantara

Oleh: Ageng Triyono
Editor: Deany Januarta Putra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *