Buat Apa Kita Mengikuti Ambisi China?

Posted on

Ageng Triyono – Pemikiran

Akhir-akhir ini pemerintah Republik Indonesia sering menggandeng China untuk menyelesaikan beberapa proyek infrastrukturnya. Sampai-sampai terkesan seolah hanya China lah yang mampu memenuhi kriteria lelang proyek yang ditenderkah pemerintahan Pak Jokowi. Sehingga tak jarang pemerintah mendapatkan ‘nyinyir’ dari para hatters di jagad sosmed. Tentu tulisan saya bukan untuk mengomentari lebih lanjut perihal ini.  Bagi saya lebih menarik jika kita mengulas perkembangan China dari sisi kesejarahannya. Barangkali, darinya kita kan mendapatkan pelajaran yang baik.

Mao Zedong dan Sukarno (Sumber foto)

Memperbincangkan China sebagai sebuah negara maju saat ini, kita tak bisa lepas untuk membahas bagaimana sosok pemimpin besar revolusi mereka; Mao Zedong dalam mengikhtiarkan negeri yang dijuluki sebagai Tirai Bambu itu tumbuh besar menjadi raksasa dunia.

Mao terlahir dalam bimbingan Buddha dan Confusianis. Namun sosoknya yang berkarakter revolusioner tak mudah menerima ajaran-ajaran agama, utamanya yang dipandang kontra revolusi. Saat Konghucu mengamini kaumnya; “Berlaku pelan bukanlah sesuatu yang salah, asal tak berhenti melakukan kerja”, penyampian semacam ini pasti tak mudah diterima oleh para revolusioner yang lebih sering menganggap waktu adalah musuh bersama untuk secepatnya ditaklukkan. Mao Zedong, adalah salah satu yang mewakili para pemimpin revolusi dunia, yang juga beranggapan demikian. Dipengaruhilah para loyalis Mao agar tak menghidupkan ajaran Konghucu itu, dengan alasan kontra revolusioner. Tetapi yang dikehendakinya adalah apa yang sebaliknya, yakni sebuah sebuah ‘yuejin’ alias lompatan. Ini  yang Mao maui, dan bukan melangkah pelan, atau sekadar bergerak ke depan.  Maka semenjak 1957 bergiatlah rezimnya untuk mengkampanyekan istilah itu.

Ambisinya untuk segera melompat meninggi mensejajari bangsa-bangsa lain, Barat utamanya, segera dicanangkan. Target diketok, yakni 15 tahun dari 1957 harus bisa mengimbangi kemajuan Inggris. Kemudian hari itu pun masih dirasa terlalu lama, sehingga direkatkanlah kembali menjadi tujuh tahun. Tak cukup dianggap singkat pula jatah tujuh tahun itu, maka dipangkas lagi; “cukup tiga tahun saja”, ucap Mao dengan nada tegas penuh ambisi.  Dan pihak yang mengecamnya harus siap di cap “anti kiri”, atau anti revolusi. Begitulah cara Ketua Besar China dalam mengemudikan revolusi negerinya. Seolah ia ingin meringkas waktu; satu hari di Cina sama dengan 20 tahun di dunia.

BACA:  Belajarlah Mengelola Perbedaan dari Indonesia

Ambisi Mao itu kemudian menyeret rakyat dalam sebuah rutinitas kerja yang kurang dikenal sebelumnya. Mao ingin memajukan China melalui roda industri. Maka para kaum tani digiring. Kebun dan ladang pertanian terpaksa ditinggal demi mengabdi pada tanur-tanur di pabrik pencetak baja. Akhirnya, makin hari rakyat kian merasa lelah oleh pola kerja yang berlebihan. Sumber-sumber pertanian pun menjadi tertelantarkan. Lalu berefek pada ancaman kekurangan pangan nan meluas. Buruh tak sedikit yang tercatat mati.

Singkatnya proyek ambisius Mao saat itu tak sepenuhnya bisa dibilang berhasil, dan baru dimulai lagi setelah berganti rezim. Memang, bertolak dari gagasan Mao itu, kita sekarang menyaksikan perekonomian Cina tumbuh mengesankan. Sudah melebihi Inggris sebagaimana diancang-ancangkannya. Bahkan barang-barang keluaran pabrik-pabrik produksi milik China kini berhasil membanjiri pasaran dunia.

Tembok Raksasa Cina (Sumber foto)

Mungkin kita pun akan terkesan dengan kerja keras mereka, tetapi ingatlah, yang mereka bangun itu adalah peradaban material semata  yang  banyak membawa masalah baru dan rawan membawanya pada keruntuhan. Anak-anak mudanya tetap mengalami kekeringan rohani akibat kemaraunya keimanan pada hal-hal yang bersifat agamis. Sehingga anak-anak muda mereka hanya pandai bekerja saja. Hasilnya anak-anak muda itu berhasil membangun apartemen tapi tak terpenghuni, karna mereka sekadar membangun untuk investasi bukan untuk ditempati. Muncullah kota hantu, kota tak berpenghuni yang dikenal dengan ordos di sana. Begitulah!

Saat mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia, tentu bukan pembangunan ala Mao yang dimaui Sang Panglima Besar Revolusi; Bung Karno dan juga  para founding father lainnya. Para pemimpin kita leboh menghendaki pembangunan manusia Indonesia eluruhnya dan seutuhnya.

Nah, apakah sudah cukup benar yang dilakukan Pak Jokowi dan jajarannya, jika hanya berkaca pada China dalam membangun Indonesia. Infrastruktur dibangun dimana-mana yang juga atas prakarsa modal dari China, namun apakah sudah tepat guna infra strukur itu dibangun dalam wantu saat ini. Bukan kah masih banyak sisi lain yang lebih menuntut dipikirkan dan diselesaikan dengan segera.

BACA:  Refleksi Kemerdekaan, Mengapa Kita Mau Merdeka?

Oleh: Ageng Triyono
editor: Deany Januarta Putra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *