Cara Membuat Soal HOTS dan Langkah Pengembangannya

Cara Membuat Soal HOTS dan Strategi Langkah-langkah Pengembangannya – Soal HOTS sangat dibutuhkan perannya dalam dunia pendidikan era revolusi industri 4.0 sekarang ini.

High Order Thinking Skills (HOTS) atau keterampilan berpikir tingkat tinggi yang menjadi tuntutan skill abad 21 diantaranya adalah kemampuan berpikir kreatif dan berpikir kritis. Kemampuan berpikir kreatif dan berpikir kritis ini dapat dilatih melalui pemberian contoh-contoh soal HOTS saat pembelajaran di sekolah.

Sehingga cara membuat soal HOTS sangat penting untuk dikuasai oleh para guru mata pelajaran di sekolah.

Apalagi jika perhatikan tujuan dari penyusunan soal HOTS adalah untuk mengembangkan kemampuan berpikir kreatif dan berpikir kritis peserta didik, maka sudah seharusnya para guru juga memiliki cara membuat soal HOTS dengan kreatif.

Soal-soal HOTS juga harus tersedia dalam jumlah yang cukup dan bervariasi untuk setiap kompetensi dasar yang hendak dicapai dalam tujuan pembelajaran.

Sebagai referensi bagi anda kami juga telah mengulas beberapa artikel mengenai soal HOTS. Antara lain contoh soal hots matematika SMP serta ciri-ciri dan karakter soal HOTS. Kami sarankan anda juga mengunjungi laman tersebut.

Cara membuat soal HOTS yang akan kita bahas dalam artikel ini antara lain konsep dasar penyusunan soal HOTS, prinsip penilaian HOTS, karakteristik soal HOTS, level kognitif soal HOTS, stimulus soal HOTS, peran soal HOTS dalam penilaian dan cara membuat soal HOTS.
Selamat membaca!

Konsep Dasar Penyusunan Soal HOTS

Dasar penyusunan soal High Order Thinking Skill tidak dapat dipisahkan dari proses penilaian menggunakan instrumen bermuatan soal HOTS. Penilaian HOTS sendiri pastinya harus bersesuaian dengan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan di kelas oleh para guru mata pelajaran.

Sehingga tugas guru mata pelajaran tidak sekadar melaksanakan penilaian berbasis soal-soal HOTS, tetapi juga harus melaksanakan pembelajaran yang dapat melatih keterampilan berpikir tingkat tinggi para peserta didik.

Tujuan utama penilaian HOTS tentunya ditujukan untuk mengetahui peningkatan ketrampilan berpikir tingkat tinggi yang lebih efektif dari para peserta didik. Oleh sebab itu para guru perlu memperhatikan beberapa prinsip umum dalam penilaian HOTS.

Prinsip Umum Penilaian HOTS

Prinsip penilaian HOTS secara umum adalah sebagai berikut:
1. Menentukan secara tepat dan jelas apa yang akan dinilai.
2. Merencanakan tugas yang menuntut siswa untuk menunjukkan pengetahuan atau keterampilan yang mereka miliki.
3. Menentukan langkah apa yang akan diambil sebagai bukti peningkatan pengetahuan dan kecakapan siswa yang telah ditunjukkan dalam proses.

Adapun penilaian berpikir tingkat tinggi sudah pasti menggunakan soal-soal HOTS. Soal HOTS yang hendak dikembangkan harus memuat beberapa setidaknya 3 prinsip soal HOTS berikut:

1. Menyajikan stimulus bagi siswa untuk dipikirkan, biasanya dalam bentuk pengantar teks, visual, skenario, wacana, atau masalah (kasus).

2. Menggunakan permasalahan baru bagi siswa, belum dibahas di kelas, dan bukan pertanyaan hanya untuk proses mengingat.

3. Membedakan antara tingkat kesulitan soal (mudah, sedang, atau sulit) dan level kognitif (berpikir tingkat rendah dan berpikir tingkat tinggi).

Level Kognitif dan Taksonomi Bloom

Level kognitif dan taksonomi bloom tentunya tidak asing lagi bagi anda yang pernah menempuh pendidikan di Fakultas Keguruan & Ilmu Pendidikan (FKIP). Namun tidak ada salahnya jika pada kesempatan kali ini kita coba review kembali.

Proses berpikir dan klasifikasinya yang paling dikenal dalam dunia pendidikan selama ini adalah Taksonomi Bloom. Taksonomi tersebut digagas oleh Benyamin Bloom dan dipublikasikan bersama koleganya pada tahun 1956.

Setelah 40 tahun, taksonomi tersebut direvisi, terutama oleh Lorin Anderson dan David Krathwol dan dipublikasi tahun 2001.

Dalam Taksonomi Bloom yang direvisi tersebut, dirumuskan 6 level proses berpikir, yaitu mengingat (remembering), memahami (understanding), menerapkan (applying), menganalisis (analyzing), mengevaluasi (evaluating), dan mengkreasi (creating).

Lebih jelas mengenai tingkat level berpikir menurut taksonomi Bloom & revisi Anderson bisa dilihat dalam bagan berikut:

Level Kognitif taksnomi bloom

Enam level kognitif dari taksonomi bloom di atas selalu menjadi rujukan saat kita hendak menyusun soal-soal HOTS.

Soal-soal HOTS saat ini masih merupakan instrumen yang dipercaya dapat mendekati pengukuran keterampilan yang dimiliki oleh peserta didik.

Melalui instrumen soal HOTS dalam sebuah proses asesmen kita bisa mengukur beberapa ketrampilan dari para peserta didik. Diantaranya adalah sebagai berikut:

1) transfer satu konsep ke konsep lainnya,
2) memproses dan mengintegrasikan informasi,
3) mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-beda,
4) menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah (problem solving), dan
5) menelaah ide dan informasi secara kritis.

Baca Juga:  Cara Pintar Matematika [Tips Belajar & Mengajar Anak SD]

Dengan demikian soal-soal HOTS menguji ketrampilan berpikir menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta, dan tidak lagi sekadar mengingat (remembering), memahami (understanding), atau menerapkan (applying).

Atau bisa disimpulkan, soal-soal HOTS akan mengukur kemampuan menganalisis (analyzing-C4), mengevaluasi (evaluating-C5), dan mencipta (creating-C6).

Kata Kerja Operasional (KKO)

Kata kerja operasional (KKO) yang ada pada pengelompokkan Taksonomi Bloom menggambarkan proses berpikir. Jadi bukanlah kata kerja yang digunakan pada naskah soal.

Oleh karena itu saat para guru merumuskan indikator soal HOTS hendaknya tidak terjebak pada pengelompokkan KKO. Sebagai contoh kata kerja ‘menentukan’ pada Taksonomi Bloom ada pada ranah C2 dan C3.

Tetapi dalam konteks penulisan soal-soal HOTS, kata kerja ‘menentukan’ bisa jadi ada pada ranah C5 (mengevaluasi). Hal ini karena proses menentukan keputusan dalam soal tersebut telah didahului proses menganalisis informasi yang disajikan pada oleh stimulus.

Bahkan kata kerja ‘menentukan’ bisa digolongkan C6 (mencipta) bila pertanyaan menuntut kemampuan menyusun strategi pemecahan masalah baru.

Jadi, ranah kata kerja operasional (KKO) sangat dipengaruhi oleh proses berpikir apa yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan.

Dimensi Metakognitif Soal HOTS

Dimensi metakognitif adalah gambaran kemampuan peserta didik dalam menghubungkan beberapa konsep yang berbeda, menginterpretasikan, memecahkan masalah (problem solving), memilih strategi pemecahan masalah, menemukan (discovery) metode baru, berargumen (reasoning), dan mengambil keputusan yang tepat.

Jika kita lihat dari dimensi pengetahuan, maka soal HOTS secara umum dapat digunakan untuk mengukur dimensi metakognitif tersebut.

Sehingga tidak sekadar mengukur dimensi faktual, konseptual, atau prosedural saja.

Stimulus Soal HOTS

Soal HOTS umumnya menggunakan stimulus dalam struktur soalnya. Stimulus merupakan komponen dari soal untuk memahami informasi yang disajikan dalam soal itu sendiri.

Stimulus soal HOTS harus disajikan secara konstekstual dan menarik. Stimulus dapat bersumber dari isu-isu global seperti masalah teknologi informasi, sains, ekonomi, kesehatan, pendidikan, infrastruktur, dan lain-lain.

Stimulus soal HOTS juga dapat bersumber dari permasalahan-permasalahan yang ada di lingkungan sekitar sekolah seperti budaya, adat, kasus-kasus di daerah, atau berbagai keunggulan yang terdapat di daerah tertentu.

Stimulus soal HOTS yang baik memuat beberapa informasi/gagasan, yang dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan mencari hubungan antarinformasi, transfer informasi, dan terkait langsung dengan pokok pertanyaan.

Untuk membuat stimulus yang baik, dapat dipilih dari informasi-informasi, topik, wacana, situasi, berita atau bentuk lain yang sedang mengemuka (trending topic).

Sangat dianjurkan pula untuk mengangkat permasalahan-permasalahan yang dekat dengan lingkungan peserta didik tinggal atau bersumber dari isu global yang sedang viral.

Perlu diperhatikan, jika ternyata stimulus yang diberikan tidak menarik justru muncul ketidakseriusan dari peserta didik untuk membaca informasi yang disajikan dalam stimulus.

Atau bisa saja tanpa membaca stimulus tersebut ternyata ending-nya sudah diketahui karena stimulus yang dibawakan dalam soal  sudah sering diangkat, sudah umum diketahui.

Selain itu, soal dengan stimulus yang kurang menarik ataupun sudah sering digunakan, akan sulit menunjukkan kemampuan peserta didik yang sebenarnya dalam hal menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah menggunakan logika berpikir kritisnya.

Karakteristik Soal HOTS

Karakteritik soal HOTS perlu sekali dikenali oleh para guru mata pelajaran, dan menjadi bagian dari cara membuat soal HOTS yang harus dipahami dengan benar.

Karakteritik soal HOTS adalah sebagai berikut:

1. Mengukur Keterampilan berpikir Tingkat Tinggi

Keterampilan berpikir tingkat tinggi menurut ACER (The Australian Council for Educational Research) merupakan roses menganalisis, merefleksi, memberikan argumen (alasan), menerapkan konsep pada situasi berbeda, menyusun, dan mencipta.

Keterampilan berpikir tingkat tinggi meliputi beberapa kemampuan untuk:

a. memecahkan masalah (problem solving)
b. keterampilan berpikir kritis (critical thinking)
c. berpikir kreatif (creative thinking)
d. kemampuan berargumen (reasoning)
e. dan kemampuan mengambil keputusan (decision making).

Keterampilan berpikir tingkat tinggi merupakan salah satu kompetensi penting dalam dunia modern, sehingga wajib dimiliki oleh setiap peserta didik.

Dalam kaitannya dengan pemberian soal HOTS, maka kreativitas seorang peserta didik dalam mengerjakan soal HOTS dapat dilihat dari kemampuannya dalam hal:

  1. menyelesaikan permasalahan yang tidak familiar;
  2. mengevaluasi strategi yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dari berbagai sudut pandang yang berbeda;
  3. menemukan model-model penyelesaian baru yang berbeda dengan cara-cara sebelumnya.

2. Berbasis Permasalahan Kontekstual dan Menarik (Contextual and Trending Topic)

Soal-soal HOTS merupakan instrumen yang berbasis situasi nyata. Harapannya peserta didik dapat menerapkan konsep-konsep pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan masalah yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa permasalahan kontekstual yang  dapat dijadikan stimulus dalam penyusunan soal HOTS diantaranya hal-hal yang sedang dihadapi masyarakat secara umum, seperti:

  • terkait dengan lingkungan hidup,
  • kesehatan,
  • kebumian dan ruang angkasa,
  • kehidupan bersosial,
  • penetrasi budaya,
  • serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan.

Hal-hal tersebut di atas sangat penting untuk diangkat sebagai stimulus soal HOTS, karena kontekstualisasi masalah dapat membangkitkan sikap kritis dan peduli terhadap lingkungan.

3. Tidak Rutin dan Mengusung Kebaruan

Salah satu tujuan penyusunan soal-soal HOTS adalah untuk membangun peserta didik dalam menyelesaikan permasalahan kontekstual.

Maka perlu dipikirkan agar soal HOTS yang akan disusun memenuhi kriteria tidak rutin dan mengusung kebaruan. Salah satu langkahnya adalah tidak mengujikan satu soal secara berulang-ulang pada kelas peserta didik yang sama.

Karena sebuah soal HOTS jika diujikan berulang pada peserta didik yang sama akan menjadi tidak HOTS. Tentunya jika soal diberikan berulang peserta didik akan dapat menebak langsung tanpa melalui proses berpikir.

Baca Juga:  20 Soal HOTS Matematika SMP dan Pembahasannya

Atau dengan kata lain soal tersebut adalah soal rutin dan tidak mengusung kebaruan dalam berpikir. Karena peserta didik sudah bisa menjawab secara hafalan atau hanya mengingat.

Soal yang pada awalnya bertipe HOTS tersebut tidak lagi dapat mendorong peserta tes untuk berpikir kreatif untuk menemukan solusi baru dan menggali ide-ide orisinil yang dimiliki peserta tes untuk menyelesaikan masalah.

 Tingkat Kesukaran Soal HOTS

Apakah soal HOTS pasti merupakan soal yang sulit dikerjakan? mari kita bahas disini!

1. Soal Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi dan Tingkat Kesukaran Soal

Banyak yang salah menafsirkan bahwa soal HOTS adalah soal yang sulit. Ternyata yang sulit dikerjakan oleh peserta didik belum tentu soal HOTS, demikian pula sebaliknya ‘difficulty’ is not the same as the higher order thinking.”

Kalimat sederhana ini bermakna bahwa soal yang sulit tidaklah sama dengan soal HOTS. Kenyataannya, baik soal LOTS maupun HOTS, keduanya memiliki rentang tingkat kesulitan yang sama dari yang mudah, sedang dan sulit.

Dengan kata lain, ada soal LOTS yang mudah dan ada juga soal HOTS yang mudah, demikian juga dengan tingkat kesulitan yang tinggi ada juga pada soal LOTS.

Sebagai contoh, untuk mengetahui arti sebuah kata yang tidak umum (uncommon word) mungkin memiliki tingkat kesukaran yang sangat tinggi karena hanya sedikit peserta didik yang mampu menjawab benar, tetapi kemampuan untuk menjawab permasalahan tersebut tidak termasuk higher order thinking skills.

Sebaliknya sebuah soal yang meminta murid untuk menganalisa dengan melakukan pengelompokan benda berdasarkan ciri fisik bukan merupakan soal yang sulit untuk dijawab oleh murid.

Tingkat kesukaran (mudah v.s. sukar) dan dimensi proses berpikir (berpikir tingat rendah v.s. berpikir tingkat tinggi) merupakan dua hal yang berbeda.

Kesalahpahaman interpretasi kalau LOTS itu mudah dan HOTS itu sulit dapat mempengaruhi proses pembelajaran. Implikasi dari kesalahpahaman ini adalah guru menjadi enggan memberikan atau membiasakan peserta didiknya untuk berpikir tingkat tinggi.

Alasannya adalah karena peserta didiknya tidak siap. Sehingga dalam pembelajarannya cukup dengan hanya menerapkan pembelajaran LOTS dan tugas yang bersifat drill.

Peranan Soal HOTS

Peranan atau fungsi soal HOTS dalam penilaian hasil belajar bisa kita rinci sebagai berikut:

1. Mempersiapkan kompetensi siswa menyongsong abad ke-21

Proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat proses penilaian hasil belajar diharapkan dapat membekali para peserta didik dengan sejumlah kompetensi yang menjadi tuntutan skill abad 21.

Setidaknya ada 3 kelompok keterampilan yang menjadi tuntutan skill abad 21, yaitu:

a) memiliki karakter yang baik (religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas);

b) memiliki kemampuan 4C (critical thinking, creativity, collaboration, dan communication); serta

c) menguasai literasi mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori.

Pemberian soal-soal HOTS dalam pembelajaran maupun saat proses penilaian diharapkan dapat dijadikan sarana latihan bagi peserta didik untuk mengasah skill dasar yang dibutuhkan dalam kehidupan era digital ini.

Jika kita tinjau dari tujuan penyusunan soal HOTS maka melalui proses penilaian hasil belajar berbasis soal HOTS kita akan mendapatkan gambaran kemampuan peserta didik dalam hal;

(a) keterampilan berpikir kritis (critical thinking),
(b) kreativitas (creativity) dan
(c) rasa percaya diri (learning self reliance),

Semua keterampilan tersebut bisa dibangun melalui kegiatan latihan menyelesaikan permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari (problem-solving).

2. Memupuk Rasa Cinta dan Peduli Kemajuan Daerah (Local Genius)

Soal-soal HOTS hendaknya dikembangkan secara kreatif oleh guru sesuai dengan situasi dan kondisi di daerahnya masing-masing.

Kreativitas guru dalam hal pemilihan stimulus yang berbasis permasalahan daerah di lingkungan satuan pendidikannya bisa menjadi faktor penunjang keberhasilan daripada tujuan penyusunan soal HOTS.

Pada dasarnya permasalahan yang terjadi di daerah sekitar peserta didik setempat dapat diangkat sebagai stimulus kontekstual. Sehingga apa yang ada dalam stimulus soal dapat dilihat dan dirasakan secara lebih dekat oleh peserta didik.

Selain itu penyajian soal HOTS juga akan berdampak positif terhadap peningkatan rasa memiliki dan cinta terhadap potensi-potensi yang ada di daerahnya.

Pada saatnya peserta didik akan terpanggil untuk berkontribusi dalam pemecahan berbagai permasalahan yang timbul di daerahnya tersebut.

3. Meningkatkan Motivasi Belajar

Pembelajaran di sekolah harus dapat membuat peserta didik merasa apa yang didapatnya dalam kelas benar-benar memberikan manfaat.

Terlebih sampai dapat memberikan solusi atas permasalahan yang terjadi di masyarakat. Dengan begitu peserta didik akan merasakan betul bahwa yang dipelajari memiliki nilai jika nantinya terjun hidup bermasyarakat.

Jika kita kaitkan dengan soal HOTS, maka tantangan-tantangan yang terjadi di masyarakat tersebut dapat dijadikan stimulus kontekstual dalam struktur soal HOTS yang akan disusun.

Sehingga soal HOTS tersebut memiliki daya tarik di mata peserta didik dan pada nantinya dapat menambah motivasi belajar serta menghadirkan keinginan berpikir lebih lanjut untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat.

4. Meningkatkan Mutu dan Akuntabilitas Penilaian Hasil Belajar

Instrumen penilaian dikatakan baik apabila dapat memberikan informasi yang akurat terhadap kemampuan peserta didik. Akuntabilitas pelaksanaan penilaian hasil belajar oleh guru dan sekolah menjadi sangat penting untuk mengukur dan mengetahui kemampuan riil yang telah dicapai oleh peserta didik.

Baca Juga:  Contoh Soal HOTS SD ; Matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia

Sehingga kepercayaan masyarakat kepada pihak penyelenggara pendidikan semakin meningkat.

Pada Kurikulum 2013 sebagian besar tuntutan KD berada pada level 3 (menganalisis, mengevaluasi, atau mencipta). Maka dengan sendirinya soal-soal HOTS yang diberikan dapat menggambarkan keterampilan berpikir tigkat tinggi yang dicapai sekaligus sebagai indikator peningkatan mutu penilaian hasil belajar.

Cara Membuat Soal HOTS

Cara membuat soal HOTS prosedurnya dapat anda ikuti pada langkah-langkah penyusunan Soal HOTS pada bagan berikut ini.

haidunia.com_Langkah-langkah Penyusunan Soal HOTSCara menulis soal HOTS sebagaimana prosedur di atas bisa saja anda susun secara lebih ringkas. Tetapi pada prinsipnya, sebelum menulis butir soal HOTS, terlebih dahulu anda tentukan perilaku yang hendak diukur.

Begitu juga materi yang akan dijadikan dasar pertanyaan (stimulus) harus dirumuskan konteksnya sesuai perilaku yang hendak diukur tersebut.

Karena tidak semua materi dalam buku paket mendukung untuk penulisan soal HOTS, maka anda pun dituntut untuk memiliki penguasaan materi yang lebih baik dan tidak sekadar teks book.

Selain penguasaan materi ajar, anda juga dituntut memiliki keterampilan dalam penulisan naskah soal, dan kemampuan berkreasi agar stimulus yang dipilih benar-benar menarik dan kontekstual.

Cara membuat soal HOTS selengkapnya dipaparkan dalam  langkah-langkah penyusunan soal-soal HOTS berikut:

1. Menganalisis KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS

Kompetensi dasar (KD) sebaiknya terlebih dahulu dipilih karena memang tidak semua KD dapat dibuatkan soal bertipe HOTS. Maka para guru mata pelajaran perlu memilih KD yang memuat KKO yang pada ranah C4, C5, atau C6.

Para guru mata pelajaran bisa secara mandiri atau saling berdiskusi melalui forum MGMP dalam melakukan analisis KD-KD yang dapat dibuatkan soal bertipe HOTS.

2. Menyusun Kisi-kisi Soal

Kisi-kisi penulisan soal-soal HOTS bertujuan untuk membantu memudahkan para guru menulis butir soal. Kisi-kisi tersebut antara lain diperlukan dalam:

(a) menentukan kemampuan minimal tuntutan KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS,
(b) memilih materi pokok yang terkait dengan KD yang akan diuji,
(c) merumuskan indikator soal, dan
(d) menentukan level kognitif.

3. Merumuskan Stimulus yang Menarik dan Kontekstual

Stimulus soal HOTS harus menarik, artinya stimulus harus dapat mendorong peserta didik untuk membaca stimulus. Stimulus yang menarik umumnya baru, belum pernah dibaca oleh peserta didik, atau isu-isu yang sedang mengemuka.

Sedangkan stimulus kontekstual berarti stimulus yang sesuai dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, mendorong peserta didik untuk membaca.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menyusun stimulus soal HOTS:

(1) pilihlah beberapa informasi dapat berupa gambar, grafik, tabel, wacana, dll yang memiliki keterkaitan dalam sebuah kasus;

(2) stimulus hendaknya menuntut kemampuan menginterpretasi, mencari hubungan, menganalisis, menyimpulkan, atau menciptakan;

(3) pilihlah kasus/permasalahan konstekstual dan menarik (terkini) yang memotivasi siswa untuk membaca (pengecualian untuk mapel Bahasa, Sejarah boleh tidak kontekstual); dan

(4) terkait langsung dengan pertanyaan (pokok soal), dan berfungsi.

4. Menulis butir pertanyaan sesuai dengan kisi-kisi soal

Butir-butir pertanyaan ditulis sesuai dengan kaidah penulisan butir soal HOTS. Kaidah penulisan butir soal HOTS, pada dasarnya hampir sama dengan kaidah penulisan butir soal pada umumnya.

Perbedaannya terletak pada aspek materi (harus disesuaikan dengan karakteristik soal HOTS di atas), sedangkan pada aspek konstruksi dan bahasa relatif sama.

5. Membuat pedoman penskoran (rubrik) atau kunci jawaban

 Setiap butir soal HOTS yang ditulis harus dilengkapi dengan pedoman penskoran atau kunci jawaban. Pedoman penskoran dibuat untuk bentuk soal uraian.

Sedangkan kunci jawaban dibuat untuk bentuk soal pilihan ganda, dan isian singkat.

Dengan selesainya anda menuliskan rubrik soal maka bisa dikatakan teknis penulisan soal HOTS telah selesai. Untuk menguatkan kualitas soal HOTS yang anda susun bisa dimintakan validasi kepada guru senior, MGMP atau pun pihak lain yang dipandang memiliki kepakaran dalam bidang evaluasi pendidikan.

Langkah-langkah Pengembangan Soal HOTS di Sekolah

Pembelajaran dan penilaian HOTS di tingkat sekolah dapat diimplementasikan dalam bentuk kegiatan sebagai berikut.

1. Kepala sekolah memberikan arahan teknis kepada guru-guru/MGMP sekolah tentang strategi pembelajaran dan penilaian HOTS yang mencakup:

(a) Menganalisis KD yang dapat dibuatkan soal-soal HOTS;
(b) Menyusun kisi-kisi soal HOTS;
(c) Menulis butir soal HOTS;
(d) Membuat kunci jawaban atau pedoman penskoran penilaian HOTS;
(e) Menelaah dan memperbaiki butir soal HOTS;
(f) Menggunakan beberapa soal HOTS dalam penilaian hasil belajar.

2. Wakasek kurikulum dan Tim Pengembang Kurikulum Sekolah menyusun rencana kegiatan untuk masing-masing MGMP sekolah yang memuat antara lain uraian kegiatan, sasaran/hasil, pelaksana, jadwal pelaksanaan kegiatan;

3. Kepala sekolah menugaskan guru/MGMP sekolah melaksanakan kegiatan sesuai rencana kegiatan;

4. Guru/MGMP sekolah melaksanakan kegiatan sesuai penugasan dari kepala sekolah;

5. Kepala sekolah dan wakasek kurikulum melakukan evaluasi terhadap hasil penugasan kepada guru/MGMP sekolah;

6. Kepala sekolah mengadministrasikan hasil kerja penugasan guru/MGMP sekolah, sebagai bukti fisik kegiatan penyusunan soal-soal HOTS.

Sekian pembahasan kita mengenai cara membuat soal HOTS yang langkah-langkahnya sudah kita uraikan sebagaimana di atas. Semoga apa yang kami sajikan bisa menambah referensi yang anda butuhkan.

You May Also Like

About the Author: Ageng Triyono

Edutech Enthusiast|Curriculum Researcher & Developer|Independent Learner of History|Founder Kontenpositif.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *