Cara Pintar Matematika [Tips Belajar & Mengajar Anak SD]

cara pintar matematika

Cara Pintar Matematika [Tips Belajar & Mengajar Anak SD] – Cara memahami pelajaran matematika anak tingkat Sekolah Dasar  (SD) tentu berbeda dengan kakak kelasnya atau kita yang telah dewasa. Oleh sebab itu diperlukan tips kusus dalam aktivitas belajar-mengajar yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan usia anak didik.

Artikel ini tidak hanya menyajikan mengenai cara belajar dan mengajar anak SD, tetapi juga menyajikan bahasan mengenai hakikat anak didik, pengertian belajar matematika itu sendiri, prestasi belajar matematika, barulah kemudian kami cukupkan dengan cara belajar dan mengajarnya.

Semoga artikel ini bermanfaat, utamanya bagi rekan-rekan yang sedang mencari referensi untuk menulis karya ilmiah.

Hakikat Anak Didik Usia SD

Tentunya kita semua memahami bahwasanya perkembangan anak tingkat sekolah dasar berbeda dengan peserta didik yang telah menginjak usia dewasa. Beberapa karakter yang membedakan antara lain adalah;

  • perkembangan fisik
  • cara berpikirnya
  • cara bertindak
  • jenis hobi
  • pekerjaan yang bisa dilakukan
  • rasa berkeinginan
  • kemampuan bertanggungjawab, dan sebagainya.

Hakikatnya Sebagai Peserta Didik

Guru sebagai pendidik anak SD tentunya tidak bisa lagi menyamakan anak SD dapat berpikir dan bertindak seperti kakak kelasnya yang telah sekolah di bangku sekolah menengah, baik tingkat SMP maupun SMA.

Seorang guru SD sudah seharusnya memberikan perhatian dalam menyampaikan konsep-konsep matematika. Setidaknya tidak lagi menyampaikan matematika sesuai jalan pikirannya. Tetapi ikutilah alur berpikir anak usia SD.

Karena sudah barang tentu kemampuan berlogika anak SD berbeda dengan kita yang telah dewasa. Matematika yang bersifat abstrak tentu tak mudah untuk dimengerti menggunakan logika anak-anak. Karena memang mereka belum saatnya beripikir dan bertindak seperti orang dewasa.

Sebab itu, konsep-konsep matematis yang menurut kita mudah dan sederhana bisa jadi dipikir amat njelimet oleh anak SD. Selain itu, anak merupakan individu yang unik. Mereka memiliki karakternya masing-masing yang beragam. Baik dari sisi minat, bakat, kemampuan kepribadian, pengalaman lingkungan dan lain sebagainya.

Pengertian Belajar Matematika

Belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalamannya dalam berinteraksi dengan lingkungan. Perubahan yang dimaksud di sini termasuk juga dalam proses perkembangan mental yang terjadi dalam diri seorang anak.

Burton mengartikan belajar adalah perubahan dalam diri individu sebagai hasil interaksinya dengan lingkungannya. Interaksi yang dimaksud adalah untuk memenuhi kebutuhan dan menjadikannya lebih mampu melestarikan lingkungannya secara memadai.

Sedangkan pengertian matematika dijelaskan oleh Hudojo sebagai ilmu mengenai struktur dan hubungan-hubungannya, serta simbol-simbol yang diperlukan. Simbol-simbol tersebut dimaksudkan untuk membantu memanipulasi aturan-aturan dengan operasi yang ditetapkan.

Berdasarkan uraian di atas bisa kita simpulkan bahwa belajar matematika adalah; proses yang dijalani oleh individu maupun kelompok untuk mempelajari, mengenal, memecahkan dan mengembangkan matematika.

Lebih spesifik lagi, belajar matematika tingkat SD berarti belajar tentang pengertian, konsep dan rangkaian sifat, teorema dan prinsip-prinsip yang terdapat dalam pembelajaran matematika.

Namun pada dasarnya belajar matematika tidak terbatas pada usia dan tempat, karena setiap usaha yang kita lakukan baik sadar atau tidak sadar masih berhubungan dengan matematika.

Pentingnya Matematika Diajarkan Pada Anak SD

Matematika yang merupakan ilmu dengan objek abstrak telah dikembangkan melalui model-model pembelajaran yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah kehidupan sehari-hari.

Matematika juga dapat mengubah pola pikir yang matematis, sistimatis, logis, kritis dan cermat.

Matematika yang dipelajari oleh siswa SD dapat digunakan oleh anak pada usianya untuk kepentingan hidupnya sehari-hari dalam lingkungannya dan dijadikan dasar untuk mempelajari ilmu lain dalam perkembangan pendidikan yang akan ditempuh selanjutnya.

Oleh sebab itu, matematika merupakan bidang studi yang dipelajari dari tingkat SD hingga mahasiswa. Tentunya masih banyak alasan lain mengenai pentingnya seseorang mempelajari matematika.

Baca Juga:  Macam macam Kejujuran, Contoh Perilaku di Sekolah & Rumah

Cornelius mengemukakan lima alasan perlunya belajar matematika, yaitu sebagai berikut:

  1. Sarana berpikir yang jelas dan logis.
  2. Sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari.
  3. Sarana mengenal pola-pola hubungan dan generalisasi pengalaman.
  4. Sarana untuk mengembangkan kreativitas.
  5. Sarana untuk meningkatkan kesadaran terhadap perkembangan budaya.

Permasalahan Hasil Belajar Matematika

Sebelum kita menentukan tips atau cara pintar belajar matematika anak SD, maka sebaiknya kita ketahui terlebih dahulu beberapa masalah yang timbul dalam proses pembelajaran matematika di sekolah dasar.

Sebagaimana kita ketahui (dan juga menurut ahli), bahwasanya anak jenjang sekolah dasar rentang usianya sekitar 7-12 tahun, yang mana menurut Piaget pada usia tersebut seorang anak masih berpikir pada tahap operasi konkrit.

Sehingga kepada bapak ibu guru tidak bisa secara serta merta menerapkan cara pintar matematika tanpa mempertimbangkan hal tersebut, sampai pada waktunya mereka mampu berpikir secara formal.

Beberapa ciri-ciri tahap belajar yang dilalui anak pada usia ini adalah, anak dapat memahami operasi logis dengan bantuan benda-benda konkrit, belum dapat berpikir deduktif, berpikir secara transitif.

Contohnya pada operasi penjumlahan:

  • 2 + 2 = 4,
  • 4 + 2 = 6,
  • 6 + 2 = 8,
  • 10 + 2 = 12.

Proses ini sudah dapat dipahami oleh siswa.

Namun sebagaimana kita ketahui, matematika merupakan ilmu deduktif, formal, hierarki dan menggunakan bahasa simbol yang memiliki arti yang padat. Sehingga timbul perbedaan antara karakteristik matematika matematika itu sendiri dengan karakteristik anak usia SD tersebut.

Hal inilah yang menyebabkan matematika menjadi lebih sulit untuk dipahami oleh anak SD, terlebih Sang Guru kurang memperhatikan tahap perkembangan berpikir peserta didiknya.

Seorang guru hendaknya memiliki tips cara pintar matematika dengan metode yang tidak memberatkan anak didik. Cara pintar matematika tersebut berupa kemampuan guru untuk menghubungkan antara dunia anak yang belum dapat berpikir secara deduktif dengan konsep-konsep matematika yang deduktif.

Faktor lain yang perlu diperhatikan para guru SD adalah faktor keanekaragaman intelegensia siswa dan proporsi jumlah siswa dalam satu kelas pembelajaran.

Beberapa latar belakang masalah dalam pembelajaran matematika SD ini semoga menjadi catatan untuk kita solusikan bersama.

Cara Pintar Matematika: Tips Belajar & Mengajar Anak SD

Tips mengenai yang akan kami bagi pada kesempatan kali ini adalah tentang cara meningkatkan minat belajar matematika dan cara meningkatkan prestasi anak SD.

  1. Meningkatkan Minat Belajar Matematika Anak SD

Minat belajar tidak bisa di kesampingkan, karna minat belajar menjadi faktor penting dalam keberhasilan proses pembelajaran matematika. Anda bayangkan jika murid anda sudah tidak memiliki ketertarikan terhadap matematika. Maka anda akan mendapatkan kesulitan dalam menemukan cara untuk membuatnya pintar matematika.

Minat ini sangat penting, karena minat lahir dari keinginan sendiri, artinya keinginan belajar matematika itu timbul dari keinginan sendiri para peserta didik. Oleh karenanya ini sangat mendukung aktivitasnya dalam bermatematika di kelas.

Dengan adanya minat belajar pada diri si anak pula para guru akan mendapatkan kemudahan dalam membimbing dan mengarahkan peserta didik untuk belajar. Hal ini dikarenakan murid tak perlu lagi mendapatkan dorongan belajar dari luar jika minatnya belajar telah cukup memotivasinya.

Sebaliknya, jika anak didik menunjukkan minat belajar yang rendah, maka tugas guru dan orang tua untuk meningkatkan minat tersebut. Guru sebagai tenaga pengajar di kelas hendaknya berusaha sedapat mungkin untuk membangkitkan minat belajar pada anak didiknya dengan berbagai cara.

Misalnya;

  • dengan memperkenalkan kepada anak berbagai kegiatan belajar,
  • seperti bermain sambil belajar matematika,
  • menggunakan alat peraga yang menarik atau memanipulasi alat peraga,
  • menggunakan bermacam-macam metode pembelajaran pada saaat mengajar matematika,
  • mengaitkan pembelajaran matematika dengan dunia anak.

Contoh : Alat peraga  dapat disesuaikan dengan benda-benda permainan anak, misalnya kelereng, bola dan sebagainya.

Baca Juga:  Tupoksi Guru; Tugas Pokok dan Fungsi Pendidik Abad 21

Anak yang mencapai suatu prestasi belajar matematika, sebenarnya merupakan hasil kecerdasan dan minat terhadap matematika. Jadi seorang anak tidak mungkin sukses dalam belajar matematika tanpa adanya minat terhadap matematika.

Minat dapat timbul pada seseorang jika ia tertarik terhadap suatu objek. Perhatian ini akan terjadi dengan sendirinya atau mungkin timbul disebabkan adanya pengaruh dari luar.

Berikut adalah beberapa hal yang harus dilakukan guru dalam menumbuhkan minat anak dalam belajar matematika:

Semoga yang kami sampaikan ini menjadi salah satu alternatif cara pintar matematika yang bisa bapak/ ibu guru terapkan saat pembelajaran:

  1. Menyesuaikan bahan pelajaran yang diajarkan dengan dunia anak, misalnya dengan memanfaatkan lingkungan. Contoh:
  • Mengajar bangun ruang kubus dan balok guru dapat menggunakan ruang kelas dan kotak berbentuk kubus sebagai alat peraga.
  • Mengajar kerucut dapat dikaitkan dengan model topi ulang tahun atau tempat es krim.

 

2. Pembelajaran dapat dilakukan dengan cara dari mudah ke yang sukar atau dari konkret ke abstrak. Contoh :

Dari mudah ke yang sukar

  • Lingkaran diajarkan pada tahap awal kemudian dilanjutkan dengan jari-jari dan garis tengah, keliling lingkaran, luas lingkaran dan penggunaan lingkaran pada bangun ruang seperti kerucut, tabung dan bola.

Dari konkret ke abstrak

  • Mengajar penjumlahan bilangan cacah, misalnya 2 + 3 dimulai dengan memberikan model seperti 2 kelereng ditambah 3 kelereng kemudian digabung, sehingga mengahasilkan 5 kelereng. Kemudian dilanjutkan dengan tahap semi konkret dengan gambar 2 kelereng dan 3 kelereng seperti berikut :
  1. Penggunaan alat-alat peraga, hal ini dapat dilakukan dengan cara :
  • Langsung yaitu dengan memperlihatkan bendanya sendiri, mengadakan percobaan-percobaan yang dapat diamati anak didik.

Misalnya: Guru membawa alat-alat atau benda-benda peraga ke dalam kelas atau membawa anak didik ke laboratorium, kebun binatang dan sebagainya.

  • Tidak langsung yaitu dengan menunjukkan tiruan misalnya model, gambar-gambar, photo-photo dan sebagainya.
  1. Pembelajaran hendaknya membangkitkan aktivitas anak.

Hendaknya anak didik dilatih bekerja sendiri atau turut aktif selama pembelajaran berlangsung, misalnya :

  • Mengadakan berbagai percobaan dengan membuat kesimpulan, keterangan, memberikan pendapat dan sebagainya
  • Memberikan tugas-tugas untuk memecahkan masalah, menganalisis, mengambil keputusan dan sebagainya.
  • Mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan membimbing ke arah diskusi.
    1. Semua kegiatan belajar harus kontras.

Hal-hal yang tidak sama bahkan menimbulkan kontras akan dapat menarik perhatian anak, sehingga dapat menimbulkan minat untuk mengetahui lebih lanjut.

Contoh : segitiga dikontraskan dengan bangun datar yang lain seperti persegi panjang, jajar genjang, layang-layang dan sebagainya.

6. Belajar merupakan kegiatan yang dilakukan oleh anak didik secara aktif dan sadar.

Hal ini berarti bahwa aktivitas berpusat pada anak didik sedangkan guru lebih banyak berfungsi sebagai fasilitator (pembimbing) terjadinya proses belajar. Oleh karena itu untuk mengaktifkan siswa dalam belajar maka seorang guru matematika dapat membimbing anak.

Kiranya beberapa hal di atas bisa dicoba sebagai upaya untuk meningkatkan minat peserta didik dalam mempelajari matematika. Berikut kami sampaikan beberapa upaya untuk peningkatan prestasinya;

Upaya Peningkatan Prestasi Anak Dalam Pembelajaran Matematika

Untuk dapat meningkatkan prestasi anak dalam pembelajaran matematika, salah satu faktor penunjang adalah adanya proses belajar yang efektif. Kedewasaan manusia yang hidup dan berkembang adalah manusia yang selalu berubah dan perubahan itu merupakan hasil belajar.

Perubahan yang dialami seseorang karena hasil belajar dalam matematika menunjukkan pada suatu proses kedewasaan yang dialami oleh anak tersebut. Misalnya dari tidak tahu berhitung, menjadi tahu berhitung.

Dari tidak tahu bermacam-macam model geometri ruang, menjadi tahu geometri ruang. Belajar matematika adalah proses yang aktif, semakin bertambah aktif anak dalam belajar matematika semakin ingat anak akan pelajaran matematika itu.

Merencanakan dan menciptakan suatu “situasi” belajar matematika yang baik di sekolah maupun di rumah, memerlukan beberapa pengertian antara lain tentang proses belajar matematika yaitu memperbesar kesanggupan untuk situasi belajar matematika.

Baca Juga:  Tugas Pokok dan Fungsi Guru BK Dalam Kurikulum 2013

Makin baik cara belajar matematika, makin baik pula situasi belajar matematika, makin lancar dan efektif proses belajar matematika itu berlangsung. Proses belajar matematika dapat berlangsung dengan efektif jika orang tua bersama dengan guru mengetahui tugas apa yang akan dilaksanakan mengenai proses belajar matematika.

Berikut adalah beberapa cara pintar matematika berdasarkan latar belakang perkembangan usianya, yang perlu para guru upayakan:

  1. Belajar matematika merupakan suatu interaksi antara anak dengan lingkungan.

Dari lingkungannya si anak memilih apa yang ia butuhkan dan apa yang dapat ia pergunakan untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Maka, menyediakan suatu lingkungan belajar matematika yang kaya dengan stimulus (rangsangan-rangsangan) berarti membantu anak dalam pertumbuhan dan perkembangannya.

2. Belajar berarti berbuat.

Belajar matematika adalah suatu kegiatan, dengan bermain, berbuat, bekerja dengan alat-alat. Dengan berbuat anak menghayati sesuatu dengan seluruh indera dan jiwanya.

Konsep-konsep matematika menjadi lebih jelas dan mudah dipahami oleh anak sehingga konsep itu benar-benar tahan lama di dalam ingatan siswa.

  1. Belajar matematika berarti mengalami.

Mengalami berarti menghayati sesuatu aktual penghayatan. Dengan mengalami berulang-ulang perbuatan maka belajar matematika akan menjadi efektif, teknik akan menjadi lancar, konsep makin lama makin jelas dan generalisasi makin mudah disimpulkan.

Belajar matematika adalah suatu aktivitas yang bertujuan supaya tujuan matematika yang dirumuskan tercapai, maka pembelajaran harus menimbulkan aktivitas pada anak didik sebab dengan aktivitas dapat diperoleh pengalaman baru yang kelak merupakan.

Dengan meningkatnya aktivitas anak maka semakin meningkat pula pengalaman anak.

  1. Belajar matematika memerlukan motivasi

Anak didik adalah manusia yang membutuhkan bantuan dari sekitarnya sehingga dapat berkembang secara harmonis. Anak didik membutuhkan kemampuan untuk berkembang, misalnya kebutuhan untuk mengetahui dan menyelidiki, memperbaiki prestasi dan mendapatkan kepuasan atas hasil pekerjaannya.

Dengan memenuhi kebutuhan anak akan merupakan motivasi untuk mendorong atau melakukan suatu kegiatan. Motivasi itu dapat dirangsang melalui :

a. Merencanakan kegiatan belajar matematika dengan memperhitungkan kebutuhan minat dan kesanggupan anak didik.

b. Menggunakan perencanaan pembelajaran matematika bersama dengan anak didik.

  1. Belajar matematika memerlukan kesiapan anak didik

Kesiapan artinya bahwa anak sudah matang dan sudah menguasai apa yang diperlukan. Anak yang belum siap tidak boleh dipaksa untuk belajar matematika karena akan membuat anak itu malas belajar dan merasa tidak mampu belajar.

  1. Belajar matematika harus menggunakan daya pikir

Berpikir konkret pada prinsipnya hanya pada jenjang SD dan setelah itu akan beralih ke taraf berpikir abstrak. Hal ini disebabkan matematika merupakan ilmu yang abstrak.

Contoh : Penjumlahan 5 + 3 = 8 dimulai dengan menggabungkan 5 lidi dengan 3 lidi. Selanjutnya pada kelas yang lebih tinggi, 5 + 3 langsung dijawab dengan 8.

Untuk membantu anak berpikir abstrak, harus banyak diberikan pengalaman-pengalaman dengan berbagai alat peraga.

Pengalaman-pengalaman berpikir akan memberikan kesanggupan kepada anak untuk memecahkan persoalan dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Belajar matematika melalui latihan (drill)

Untuk memperoleh keterampilan dalam matematika diperoleh latihan berkali-kali atau terus menerus.

Contoh : Untuk terampil menjumlah, mengurang, mengali, dan membagi, maka anak harus secara teratur melakukan latihan baik lisan maupun tertulis. Dengan mengetahui komponen-komponen proses belajar mengajar, maka orang tua dan guru akan lebih mudah dalam meningkatkan prestasi belajar anak dalam matematika.

Demikian, semoga uraian dalam artikel ini bisa dijadikan referensi rekan-rekan dalam mengajar maupun menyusun karya ilmiah.

You May Also Like

About the Author: Ageng Triyono

Curriculum Researcher & Developer | Guru Kampung | Penulis Lepas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *