Cerita Tewasnya Pimpinan ISIS: Abu Bakr Al Baghdadi

Posted on

Adnan Syarief – Pemikiran

Pemimpin kelompok  ISIS (Islamic State of Iraq and Syria), Abu Bakr Al Baghdadi dipastikan tewas dalam operasi militer yang dilakukan oleh pasukan khusus Amerika Serikat.

Abu Bakr Al Baghdadi (Sumber)

Hal itu diungkapkan langsung oleh Presiden AS, Donald Trump dalam pernyataannya di siaran televisi.

“Abu Bakr Al Baghdadi sudah tewas. Ia adalah pendiri dan pemimpin ISIS, organisasi teroris yang paling kejam dan keras di dunia. Amerika Serikat telah memburu Baghdadi selama bertahun tahun.Menangkapnya atau membunuhnya menjadi prioritas keamanan nasional pemerintahan saya.” Ujar Trump seperti dilansir BBC, pada Minggu(27/10).

“Ia tewas setelah berlari ke terowongan buntu, merintih, menangis dan menjerit sepanjang waktu, mati seperti anjing.” tambahnya.

Selain Baghdadi, Trump juga menyatakan ia tewas bersama tiga anaknya dan dua istrinya.

Dikutip CNN, Senin(28/10), Trump berkata bahwa al Baghdadi meledakkan diri dengan bom rompinya setelah ia terpojok oleh pasukan AS dalam serangan dua jam malam hari di persembunyiannya, di Suriah Utara.

Operasi khusus dimulai pada sabtu sore dengan delapan helikopter yang membawa pasukan elit Amerika Serikat, termasuk Delta Force.

Laporan dari New York Times, menyebutkan bahwa Al Baghdadi bersembunyi di Provinsi Idlib, sebuah wilayah yang didominasi oleh kelompok pesaing ISIS, Al Qaeda. Para pejabat AS juga mengaku kaget dan terkejut atas hal ini.

“Pasukan operasi khusus AS melancarkan serangan malam hari yang berbahaya dan berani di Suriah barat laut dan merampungkan misi secara sempurna. Personel AS benar benar luar biasa. Saya menyaksikan sebagian besar aksi mereka” kata Trump, seperti dilansir BBC.

Trump juga menyebutkan bahwa pasukan juga membunuh beberapa pengikut al Baghdadi di dalam terowongan.

Tempat persembunyian Abu Bakr Al Baghdadi

Siapa Baghdadi?

Abu Bakr Al Baghdadi, merupakan  salah satu buronan paling di cari di dunia. Ia menjadi target pemburuan, setelah memproklamirkan bahwa dirinya adalah khalifah-kepala negara, di Irak barat dan utara-timur Suriah.

Bernama asli Ibrahim Awwad Ibrahim al Badri, lahir pada tahun 1971 di Samarra, sebuah kota kecil di sisi timur Sungai Tigris, Irak.

BACA:  Ketidaktahuan yang Ditertawakan

Ia juga meraih pendidikan master dan PhD dalam kajian pada kebudayaan, sejarah, hukum dan jurisprudensi islam di Univertas Islam Baghdad (sekarang berganti nama menjadi Universitas Irak). Dia juga dikenal sebagai seorang ulama di Masjid Hanbal Ahmad ibn Imam di Sammara, tempat kelahirannya, pada saat invasi AS ke Irak tahun 2003.

Setelah invasi AS ke Irak tahun 2003, al Baghdadi dan beberapa lainnya mendirikan kelompok yang bernama Jamaat Jaysh Ahl al-Sunnah wa-l-Jamaah (JJASJ), angkatan bersenjata kelompok warga Sunni. Ia menjabat sebagai kepala kelompok komite syariah. Baghdadi juga sempat ditahan oleh pasukan pimpinan AS dari bulan Februari-Desember 2004. Namun, ia dibebaskan, karena tidak dianggap sebagai ancaman tingkat tinggi.

Kemudian, Baghdadi dan kelompoknya bergabung dengan Majlis Syuro al Mujahidin atau Dewan Syuro Mujahidin (DSM) pada tahun 2006, ia ada dalam struktur dewan hukum DSM.

Tidak lama  kemudian, di akhir tahun 2006 mereka mengumumkan perubahan nama menjadi Negara Islam Irak (ISI). Baghdadi ada dalam urusan pengawas umum komite syariah ISI.

Lalu pada 2010, pimpinan ISI, Abu Umar Al Baghdadi dan wakilnya tewas akibat serangan AS. Kemudian, Abu Bakr Al Baghdadi menggantikan posisinya sebagai pemimpin ISI, dari situlah ia mulai dikenal.

Lalu, pada April 2013, Baghdadi mengumumkan penggabungan pasukannya yang ada di Irak dan Suriah dan akhirnya terbentuklah Islamic State of Iraq and Syria atau Islamic State in Iraq and the Levant, atau biasa dikenal dengan singkatan ISIS/ISIL.

Kebangkitan dan Kejatuhan

Setelah berhasil menaklukkan sejumlah kota di Irak, pada Juni 2014 ISIS mendeklarasikan berdirinya ‘kekhalifahan’ atau pemerintahan negara Islam dan menghapuskan semua batas negara. Baghdadi sebagai pemimpin tertinggi atau ia menyebutnya  ‘khalifah’ ,menunjuk dirinya sebagai pemimpin bagi seluruh 1,5 milyar umat muslim di seluruh dunia. ISIS juga mengubah namanya menjadi Islamic State atau biasa disingkat IS.

BACA:  Refleksi Kemerdekaan, Mengapa Kita Mau Merdeka?

Setelah mendirikan pemerintahan, Baghdadi menunjukkan muka kepada publik untuk pertama kalinya dalam sebuah khotbah Jum’at di sebuah masjid di kota Mosul, Irak. Baghdadi sebelumnya memang belum pernah memerlihatkan wajahnya selama empat tahun menjadi pemimpin kelompok ini. Sebelumnya, beberapa foto memang pernah dibocorkan.

Setelah kurang lebih sebulan setelah mendirikan ‘kekhalifahan’ ISIS, Baghdadi dan kelompoknya kembali melakukan serangan.

Di Irak, ISIS membantai ribuan warga Yazidi di Gunung Sinjar dan memaksa lebih dari 7 ribu wanita untuk menjadi budak seks mereka. Di Suriah, ISIS juga berhasil melancarkan beberapa serangan udara.

Kemudian, pada September 2014, AS membentuk sebuah koalisi militer yang ditujukan untuk melawan kebrutalan ISIS dan mulai melakukan beberapa serangan udara di Irak untuk menghentikan kelompok radkal itu. Hal itu diminta langsung oleh pemerintah Irak setelah kehilangan kendali atas Mosul.

Pada 2015, ISIS terus melakukan serangan di seluruh penjuru, sampai akhirnya pada tahun 2016, ISIS mulai kehilangan beberapa wilayah kekuasaannya di Irak dan Suriah. Pada bulan Oktober 2016, pasukan Irak yang dibantu oleh pimpinan koalisi AS mulai melakukan operasi untuk mengambil alih salah satu markas vital ISIS di Irak, Mosul.

Walaupun sudah mulai banyak kehilangan wilayah kekuasaannya, berdasarkan data dari University of Maryland, ISIS dtercatat tetap melakukan lebih dari 1.400 serangan dan telah membunuh sebanyak kurang lebih 7 ribu orang sepanjang tahun 2016.

Lalu, pada Tahun 2017, menjadi tahun kekalahan besar ISIS. kota Mosul akhirnya berhasil diambil alih oleh Irak yang dibantu oleh koalisi militer AS, setelah menjalani pertempuran sengit selama berbulan bulan. Perdana Menteri Irak, Haider al-Abadi menyatakan bahwa itu menjadi pengakuan kekalahan ISIS di Irak.  Masjid Agung Al Nuri, yang menjadi tempat deklarasi berdirinya pemerintahan atau ‘kekhalifahan ISIS pada tahun 2014, habis diledakkan oleh ISIS sendiri.

Tahun 2018, Suriah yang didukung rezim Rusia dan Iran, berhasil membebaskan sebagian besar wilayah ISIS yang ada di Suriah.

BACA:  Antara Jalan Cita atau Sekedar Perantara

Lalu, pada bulan Agustus, Baghdadi melalui rekaman suara berdurasi 55 menit mengakui hilangnya sebagian besar wilayah ISIS di Irak dan Suriah,  ia juga tetap meminta kepada para militan ISIS tetap melanjutkan pertempuran. Presiden Donald Trump, secara mengejutkan juga menarik seluruh pasukan AS dari Suriah

Tahun 2019, dapat dibilang menjadi tahun kehancuran ISIS, Pasukan Demokratik Suriah (SDF) mengumumkan bahwa perang telah ‘berakhir’ dengan ISIS. Sebuah desa kecil di Suriah, Baghouz, diyakini sebagai markas terakhir ISIS di Suriah.

Kemudian, pada bulan Maret 2019, Baghouz, markas terakhir ISIS di Suriah, kembali diambil alih oleh Suriah, hal ini menjadikan kekalahan total ISIS di Suriah. “Pasukan Demokratik Suriah menyatakan pembersihan total atas hal yang disebut kekhalifahan dan seratus persen kekalahan teritorial ISIS”. Ujar Juru Bicara SDF, Mustafa Bali.

Meski, markas terakhir ISIS telah dihancurkan, ISIS diyakini tetap menjadi ancaman. Sisa sisa militan ISIS yang bersembunyi di gurun gurun terpencil dan kota kota di Irak masih melakukan aksi aksi kecil, berupa serangan penembakkan/penculikan atau menunggu kebangkitan ISIS nanti.

Oktober 2019, pimpinan tertinggi ISIS, Abu Bakr al Baghdadi, dinyatakan tewas bunuh diri setelah terpojok oleh operasi tengah malam pasukan khusus Amerika Serikat, di persembunyiannya, Suriah Utara. Dilansir Reuters, Jenazahnya pun dibuang kelaut oleh militer Amerika Serikat, karena jasadnya dipastikan termutilasi usai meledakkan diri. Sebelum dibuang kelaut, jenazah baghdadi sempat dilaporkan telah menjalani pemakaman sesuai ajaran tradisi Islam.

Bukan hanya Baghdadi, sebelumnya, pendiri dan pemimpin kelompok Al Qaeda, Osama bin Laden, juga tewas dalam sergapan operasi militer Amerika Serikat di Abottabad, Pakistan pada tahun 2011.Organisasi yang dipimpin bin laden juga pernah dianggap sebagai kelompok jihadis yang paling mematikan di dunia.

Oleh: Adnan Syarief
Editor: Deany Januarta Putra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *