Kriteria Ketuntasan Minimal; Cara Menetapkan & Contoh Format Nilai KKM

Kriteria Ketuntasan Minimal

Kriteria Ketuntasan Minimal – Kriteria paling rendah untuk menyatakan siswa mencapai ketuntasan belajar dinamakan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). KKM harus ditetapkan di awal tahun ajaran dimulai, melalui musyawarah dewan guru pada satu unit sekolah.

Pembahasan kita kali akan mencoba mengulik mengenai pengertian, fungsi dan cara atau prosedur penentuan KKM. Dalam artikel ini kami juga mencoba untuk melengkapinya dengan contoh format perhitungan KKM.

Selamat membaca dan semoga bermanfaat apa yang kami sajikan di sini!

Kriteria Kompetensi

Pada kurikulum 2013, peserta didik harus mencapai Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang meliputi ranah sikap, pengetahuan, dan ketrampilan. Pencapaian kompetensi ini harus benar-benar terukur.

Kunandar (2013) menyatakan bahwa kriteria kompeten meliputi;

(1) mampu memahami konsep yang mendasari standar kompetensi yang harus dikuasai atau dicapai,

(2) mampu melakukan pekerjaan sesuai dengan tuntutan standar kompetensi yang harus dicapai dengan cara dan prosedur yang benar serta hasil yang baik, dan

(3) mampu mengaplikasikan kemampuannya dalam kehidupan sehari-hari (di dalam maupun di luar sekolah).

Peserta didik yang memenuhi kriteria di atas akan benar-benar memiliki kompetensi yang nyata (real competence) dan bersifat relatif permanen.

Ketuntasan Belajar 

Pembelajaran tuntas merupakan pendekatan dalam pembelajaran yang mensyaratkan peserta didik menguasai secara tuntas kompetensi dasar mata pelajaran. Tujuan utama dari proses pembelajaran dengan pendekatan belajar tuntas adalah mempertinggi rata-rata prestasi seluruh peserta didik.

Dengan demikian, dalam proses pembelajaran diperlukan bantuan, serta perhatian khusus bagi peserta didik yang lambatpun dapat menguasai standar kompetensi yang ditentukan.

Ketuntasan belajar merupakan tingkat minimal pencapaian kompetensi sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang meliputi ketuntasan penguasaan substansi dan ketuntasan belajar dalam konteks kurun waktu belajar.

Selanjutnya ketuntasan penguasaan substansi merupakan ketuntasan belajar peserta didik untuk setiap kompetensi dasar (KD) yang ditetapkan.

Kriteria Ketuntasan Minimal

Pada kurikulum KTSP (2006), kriteria ketuntasan minimal (KKM) adalah kriteria ketuntasan belajar (KKB) yang ditentukan oleh satuan pendidikan. KKM pada akhir jenjang satuan pendidikan atau kelompok mata pelajaran selain ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan batas ambang kompetensi (Permendiknas no. 20/2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan).

Sementara itu pada Permendikbud no. 53 tahun 2015 dinyatakan bahwa Kriteria Ketuntasan Minimal adalah kriteria ketuntasan belajar yang ditentukan oleh Satuan Pendidikan yang mengacu pada standar kompetensi lulusan dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik, karakteristik mata pelajaran, dan kondisi satuan pendidikan.

Bagi pendidik, KKM dapat dijadikan acuan untuk menindaklanjuti hasil penilaian peserta didik untuk menentukan respon dalam bentuk remedial bagi yang belum mencapai atau layanan pengayaan bagi yang sudah melampaui KKM.

Fungsi Kriteria Ketuntasan Minimal

  1. sebagai acuan bagi pendidik dalam menilai kompetensi peserta didik sesuai kompetensi dasar mata pelajaran yang diikuti. Pendidik harus memberikan respon yang tepat terhadap pencapaian kompetensi dasar dalam bentuk pemberian layanan remedial atau layanan pengayaan;
  2. sebagai acuan bagi peserta didik dalam menyiapkan diri mengikuti penilaian mata pelajaran;
  3. dapat digunakan sebagai bagian dari komponen dalam melakukan evaluasi program pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah;
  4. merupakan kontrak pedagogik antara pendidik dengan peserta didik dan antara satuan pendidikan dengan masyarakat;
  5. merupakan target satuan pendidikan dalam pencapaian kompetensi tiap mata pelajaran.

Prosedur & Teknik Penetapan KKM

1. KKM ditentukan oleh satuan pendidikan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik, karakteristik mata pelajaran, dan kondisi satuan pendidikan.

2. Secara bertahap satuan pendidikan terus meningkatkan kriteria ketuntasan belajar dengan mempertimbangkan potensi dan karakteristik masing-masing satuan pendidikan sebagai bentuk peningkatan kualitas hasil belajar.

3. Alur penentuan KKM:

 

a. Penetapan nilai KKM diawali dengan melakukan analisis ketuntasan belajar minimal pada setiap indikator.

b. KKM Kompetensi Dasar (KD) diperoleh dari rata-rata KKM semua indikator pada KD tersebut.

c. KKM Mata Pelajaran diperoleh dari rata-rata KKM semua KD pada mata pelajaran tersebut.

d. Pada kurikulum KTSP (2006) sebelum penetapan KKM Mata pelajaran, didahului dengan KKM Standar Kompetensi (SK).

4. Teknik Penetapan KKM

Untuk menentukan KKM, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a. Karakteristik mata pelajaran. Karakteristik mata pelajaran dapat dilihat dari tingkat kesulitan atau kerumitan (kompleksitas) setiap indikator pencapaian atau KD yang harus dicapai siswa. Kompleksitas dinyatakan tinggi jika dalam penyampaiannya menuntut;

(1) pendidik yang memahami dengan benar kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik,

Baca Juga:  Sejarah Trigonometri; Pengertian, Penemu & Rumusnya

(2) guru yang kreatif dan inovatif dalam melaksanakan pembelajaran,

(3) waktu yang diperlukan cukup lama untuk memahami materi,

(4) menuntut penalaran dan kecermatan yang tinggi bagi siswa untuk mencapai kompetensi.

b. Kondisi satuan pendidikan. Ketersediaan sumber daya manusia, sarana dan prasarana pendidikan yang dibutuhkan, manajemen sekolah, kepedulian stakeholders sekolah merupakan contoh dari unsur kondisi satuan

c. Karakteristik peserta didik. Kondisi sosial lingkungan mayoritas peserta didik, kemampuan peserta didik dari hasil seleksi PPDB, Nilai UN, Rapor kelas IX, atau psikotes bagi kelas X, dan tingkat pencapaian peserta didik pada semester atau kelas sebelumnya dapat dijadikan pertimbangan penentuan KKM dari unsur karakteristik peserta didik.

Teknik penentuan KKM dapat dilakukan dengan barbagai cara. Di antaranya;

  1. dengan teknik memberi poin pada setiap aspek yang akan ditetapkan, dan
  2. menggunakan rentang nilai pada setiap aspek.

Berikut contoh kedua teknik penentuan KKM dengan kedua teknik tersebut.

Contoh 1. Teknik menentukan KKM dengan pemberian poin.

Teknik ini dilakukan dengan memberikan poin pada setiap aspek yang ditetapkan. Sebagai contoh, untuk kriteria karakteristik mata pelajaran (kompleksitas), kondisi satuan pendidikan, dan karakteristik siswa pemberian poin menurut tabel berikut:

Karakteristik Mapel (Kompleksitas) Kondisi Satuan Pendidikan (Daya Dukung) Karakteritik Siswa (Intake)
Tinggi 1 3 3
Sedang 2 2 2
Rendah 3 1 1

Misal pada KD “Menentukan nilai kebenaran dari suatu pernyataan majemuk dan pernyataan berkuantor” dapat diturunkan 4 indikator, 1) menentukan nilai kebenaran suatu pernyataan berkuantor, 2) menentukan ingkaran suatu pernyataan berkuantor, 3) menentukan nilai kebenaran suatu pernyataan majemuk, dan 4) menentukan ingkaran suatu pernyataan majemuk.

Untuk indikator (1), kompleksitas rendah (skor 3), daya dukung sedang (skor 2), dan intake sedang (skor 2), maka cara menentukan KKM untuk indikator (1) sebagai berikut:

KKM Indikator (1) =[(3+2+2)/9] x 100%

= 7,78% =78% (dibulatkan)

Saya persilakan anda untuk mencoba menentukan KKM indikator-indikator berikutnya. Maka anda akan mendapatkan hasil perhitungan sebagai berikut:

KD & KI Indikator Unsur-unsur Penetapan Kriteria Nilai KKM
Kompleksitas Daya Dukung Intake
KD:

Menentukan nilai kebenaran dari suatu pernyataan majemuk dan pernyataan berkuantor

70
1) Menentukan nilai kebenaran suatu pernyataan berkuantor Rendah

(3)

Sedang

(2)

 

Sedang

(2)

 

78
2) Menentukan ingkaran suatu pernyataan berkuantor Sedang (2) Sedang (2) Sedang (2) 67
3) Menentukan nilai kebenaran suatu pernyataan majemuk Rendah (3) Sedang (2) Sedang (2) 78
4) Menentukan ingkaran suatu pernyataan majemuk Tinggi (1) Sedang (2) Sedang (2) 56

Indikator keempat dipandang memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, karena ingkaran suatu pernyataan majemuk melibatkan bentuk-bentuk yang relatif rumit.

Rata-rata KKM semua indikator menyatakan KKM KD, sehingga bisa dihitung dengan menggunakan rumus:

KKM KD = (78 + 67 +78 + 56)/4 = 69, 75 = 70 (dibulatkan)

Contoh 2: teknik penentuan KKM dengan rentang nilai

Pada penentuan KKM denggan rentang nilai, seperti contoh berikut:

Karakteristik materi (Kompleksitas):

  • Tinggi, dengan rentang 50 – 65
  • Sedang, dengan rentang 66 – 80
  • Rendah, dengan rentang 81 – 100

Kondisi satuan pendidikan (Daya Dukung):

  • Tinggi, dengan rentang 85 – 100
  • Sedang, dengan rentang 70 – 80
  • Rendah, dengan rentang 55 – 69

Karakteristik peserta didik (Intake)

  • Tinggi, dengan renang 80 – 100
  • Sedang, dengan rentang 60 – 79
  • Rendah, dengan rentang 40 – 59.

Dalam menentukan rentang nilai dan menentukan nilai dari setiap kriteria, diperlukan kesepakatan dalam forum MGMP.

Contoh penentuan KKM dengan menggunakan rentang nilai.

Sekolah telah memiliki fasilitas lengkap seperti LCD proyektor, sehingga guru dapat melakukan visualisasi dinamis menggunakan aplikasi komputer tentang konsep dan aplikasi turunan, memiliki koleksi buku perpustakaan yang lengkap sehingga pada bagian daya dukung diberi skor tinggi.

Mayoritas siswa tinggal di lingkungan masyarakat yang terdidik, dan nilai yang tinggi pada semester sebelumnya, sehingga diberi skor 80.

KD & KI Indikator Unsur-unsur Penetapan Kriteria Nilai KKM
Kompleksitas Daya Dukung Intake
KD:

Menggunakan turunan pertama fungsi untuk menentukan titik maksimum, titik minimum, dan selang kemonotonan fungsi, serta kemiringan garis singgung kurva, persamaan garis singgung, dan garis normal kurva berkaitan dengan masalah kontekstual

80
1) Menggunakan turunan untuk menentukan nilai maksimum fungsi 75 90 80 82
2) Menggunakan turunan untuk menentukan nilai minimum fungsi 75 90 80 82
3) Menggunakan turunan untuk menentukan selang kemonotonan fungsi 75 90 80 82
4) Menggunakan turunan untuk menentukan gradien garis singgung 75 90 80 82
5) Menentukan persamaan garis singgung

 

70 90 80 80
6) Menentukan persamaan garis normal suatu kurva

 

65 90 80 78
7) Menggunakan konsep turunan untuk menyelesaikan permasalahan kontekstual 55 90 80 75

Indikator 7 dipandang memiliki tingkat kesulitan yang tinggi karena siswa ditantang untuk sanggup mengubah kalimat-kalimat verbal menjadi kalimat matematika, menyelesaikan secara matematis, dan menerjemahkan hasil penyelesaian ke permasalahan kontekstual.

Proses penghitungan KKM tiap indikator dilakukan dengan mengambil rata-rata semua komponen. Pada indikator pertama, maka nilai KKM-nya adalah : (75+90+80)/3 = 81, 67 = 82 (dibulatkan).

Dengan cara yang sama  untuk indikator ke-2 sampai ke-7 beturut-turut diperoleh nilai KKM 82, 82, 82,80, 78, 75. Dari rata rata ketujuh KKM untuk indikator di atas, diperoleh nilai KKM KD sebesar 80,14, dibulatkan menjadi 80.

Model Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal 

Apa yang sudah kita bahas di atas adalah prosedur atau cara penetapan kriteria ketuntasan minimal (KKM) untuk satu kompetensi dasar untuk satu kelas atau satu rombongan belajar (rombel).

Lantas bagaimana cara menetapkan KKM untuk semua rombongan belajar dalam satu sekolah. Berikut beberapa model penetapan kriteria ketuntasan minimal pada satuan pendidikan, yaitu ada dua model:

1. Lebih dari Satu Kriteria Ketuntasan Minimal

Satuan pendidikan dapat memilih setiap mata pelajaran memiliki KKM yang berbeda. Misalnya, KKM IPA (64), Matematika (60), Bahasa Indonesia (75), dan seterusnya.

Di samping itu, KKM juga dapat ditentukan berdasarkan rumpun mata pelajaran (kelompok mata pelajaran). Misalnya, rumpun MIPA (Matematika dan IPA) memiliki KKM 70, rumpun bahasa (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris) memiliki KKM 75, rumpun sosial (IPS dan PPKn) memiliki KKM 80, dan seterusnya.

2. Satu Kriteria Ketuntasan Minimal

 Satuan pendidikan dapat memilih satu KKM untuk semua mata pelajaran. Setelah KKM setiap mata pelajaran ditentukan, KKM satuan pendidikan dapat ditetapkan dengan memilih KKM yang terendah, rata-rata, atau modus dari seluruh KKM mata pelajaran.

Berdasar model KKM yang ada, satuan pendidikan dibolehkan memilih salah satu model sesuai ketetapan yang ada pada Panduan Penilaian Jenjang SD, SMP, SMA dan SMK.

Secara teknis prosedur penentuan Kriteri Ketuntasan Minimal dapat dilakukan dengan cara berikut.

1. Menghitung jumlah KD setiap mata pelajaran pada masing-masing tingkat kelas dalam satu tahun pelajaran.

2. Menentukan nilai aspek karakteristik peserta didik (intake), karakteristik mata pelajaran (kompleksitas materi/kompetensi), dan kondisi satuan pendidikan (daya dukung).

Dengan mencari rata-rata 3 aspek tersebut maka akan menjadi KKM KD pengetahuan dan keterampilan. Adapun yang dimaksud dengan 3 aspek tersebut adalah:

a. Karakteristik Peserta Didik (Intake)

    • Karakteristik peserta didik (intake) bagi peserta didik baru (kelas 1 SD) melalui hasil tes awal yang dilakukan oleh sekolah, peserta didik baru (kelas VII) antara lain memperhatikan rata-rata nilai rapor SD, nilai ujian sekolah SD, nilai hasil seleksi masuk peserta didik baru di jenjang SMP.
    • memperhatikan kualitas peserta didik yang dapat diidentikasi antara lain berdasarkan hasil ujian jenjang sebelumnya, atau nilai rapor sebelumnya.

b. Karakteristik Mata Pelajaran (Kompleksitas)

Karakteristik Mata Pelajaran (kompleksitas) adalah tingkat kesulitan dari masing-masing mata pelajaran, yang dapat ditetapkan antara lain melalui expert judgment guru mata pelajaran melalui forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) tingkat sekolah, dengan memperhatikan hasil analisis jumlah KD, kedalaman KD, keluasan KD, dan perlu tidaknya pengetahuan prasyarat.

c. Kondisi Satuan Pendidikan (Daya Dukung)

Kondisi Satuan Pendidikan (Daya Dukung) meliputi antara lain (1) kompetensi pendidik (misalnya nilai Uji Kompetensi Guru); (2) jumlah peserta didik dalam satu kelas; (3) predikat akreditasi sekolah; dan (4) kelayakan sarana prasarana sekolah.

3. KKM KD dasar untuk mendapatkan KKM mata pelajaran.

4. Jika satuan pendidikan menetapkan satu KKM maka KKM mata pelajaran dasar untuk mendapatkan KKM satuan pendidikan.

Keterangan:

a. Untuk memperoleh KKM mata pelajaran ataupun KKM satuan pendidikan bisa melalui rata-rata , nilai terendah, dan modus.

b. Jika satuan pendidikan memilih KKM mata pelajaran maka jenjang kelas pada satu sekolah memiliki interval untuk predikat yang akan digunakan ke dalam rapor siswa berbeda setiap mata pelajaran dan setiap jenjang kelas.

c. Tetapi jika dipilih model satu KKM maka cukup satu KKM yang disebut dengan KKM satuan pendidikan, memiliki satu interval dan satu predikat untuk semua kelas dan jenjang kelas pada satu sekolah.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada contoh berikut:

1. Lebih dari Satu Kriteria Ketuntasan Minimal

a. Kriteria Ketuntasan Minimal KD

Mata Pelajaran:  Matematika

Kelas                  : 1

Kompetensi Dasar Kompleksitas Intake Daya Dukung KKM Per KD
(0-100) (0-100) (0-100)
3.1 Menjelaskan makna bilangan cacah sampai dengan 99 sebagai banyak anggota suatu kumpulan objek 60 70 70 67
3.2 Menjelaskan bilangan sampai dua angka dan nilai tempat penyusun lambang bilangan menggunakan kumpulan benda konkret serta cara membacanya 65 70 70 68
3.3 Membandingkan dua bilangan sampai dua angka dengan menggunakan kumpulan benda- benda konkret 65 70 70 68
4.1 Menyajikan bilangan cacah sampai dengan 99  yang  bersesuaian  dengan  banyak anggota kumpulan objek yang disajikan 60 70 70 67
4.2 Menuliskan lambang bilangan sampai dua angka yang menyatakan banyak anggota suatu kumpulan objek dengan ide nilai tempat 60 70 70 67
4.3 Mengurutkan  bilangan-bilangan  sampai dua angka dari bilangan terkecil ke bilangan terbesar atau sebaliknya dengan menggunakan   kumpulan benda-benda konkret 65 70 70 68
KKM Muatan Mata Pelajaran Matematika 68

Berdasarkan olahan KD di atas KKM mata pelajaran Matematika adalah 68.

Lakukan hal yang sama untuk semua mata pelajaran yang diajarkan. Dan dari semua mata pelajaran ini maka akan diperoleh lebih dari satu KKM pada jenjang kelas.

b. Kriteria Ketuntasan Minimal Mata Pelajaran

Satuan Pendidikan: X

Kelas : X

Mata pelajaran KKM
Agama dan Budi Pekerti 70
PPKn 70
Matematika 75
B. Indonesia 71
IPA
IPS
SBDP 70
PJOK 75

2. Satu Kriteria Ketuntasan Minimal

Untuk mendapat satu KKM yang harus dilakukan guru terlebih dahulu mencari KKM mata pelajaran, dari KKM mata pelajaran pada semua kelas dan jenjang kelas direkap, kemudian dalam rapat dewan guru dimusyawarahkan menentukan KKM satuan pendidikan yang berasal dari nilai KKM terendah, rata-rata atau modus pada rekap KKM.

Langkah selanjutnya yang dilakukan adalah penetapan predikat untuk satuan pendidikan yang berasal dari KKM satuan pendidikan.

Muatan/

Mata pelajaran

Kelas

1. a

Kelas

1. b

Kelas

2.a

Kelas

2.b

Kelas

3

Kelas

4

Kelas

5

Kelas

6

Agama dan Budi 70 75 80 75 75 70 75 75
Pekerti
PPKn 70 70 70 70 70 75 80 70
Matematika 75 75 70 75 75 70 70 75
B. Indonesia 71 80 75 75 75 70 70 80
IPA 80 70 70

Berdasarkan rekap KKM mata pelajaran dari setiap kelas di atas maka KKM satuan pendidikan adalah 70. 70 merupakan nilai terendah dari semua KKM mata pelajaran yang ada.

Penetapan Perdikat

  1. Jika memilih model Lebih dari satu KKM maka guru harus mencari semua rentang interval dan predikat untuk semua mata pelajaran.
  2. Jika memilih model satu KKM maka guru cukup mencari satu interval dan satu predikat untuk semua kelas dan jenjang kelas pada satu sekolah.

Contoh:

Misalnya, suatu sekolah berdasarkan hasil analisis menentukan satu KKM untuk seluruh mata pelajaran atau satu mata pelajaran 60 berarti predikat Cukup dimulai dari nilai 60. Rentang predikat menggunakan rumus sebagai berikut:

Rentang Predikat = (Nilai Maksimum – KKM)/3

= (100-60)/3

= 13.33

*Keterangan: angka 3 pada rumus diperoleh dari jumlah predikat selain D (A, B, dan C)

Sehingga panjang interval untuk setiap predikat 13 atau 14. Karena rentang predikat nilainya 13 atau 14, maka untuk mata pelajaran Matematika, rentang predikatnya sebagai berikut.

Contoh Rentang Predikat untuk KKM Satuan Pendidikan 60

KKM Satuan Pendidikan *) Panjang Interval

RENTANG PREDIKAT

A (Sangat Baik) B (Baik) C (Cukup) D (Perlu Bimbingan)
60 40/3=13,3  87<A≤ 100 73<A≤ 87 60≤A≤ 73 D<60

Pada contoh di atas, rentang predikat untuk predikat A yaitu 13 sedangkan predikat B dan C rentang predikatnya 14.

Berikut disajikan tabel berisi beberapa contoh rentang predikat sesuai dengan KKM satuan pendidikan.

Contoh Rentang Predikat dari Beberapa KKM

KKM      Satuan Pendidikan*)

 

Panjang Interval  

 

RENTANG PREDIKAT

A(Sangat Baik) B (Baik) C (Cukup) D (Perlu Bimbingan)
80 20/3=6,7 93<A≤ 100 86<B≤ 93 80≤B≤ 86 D<80
75 25/3=8,3 92<A≤ 100 83<B≤ 92 75≤B≤ 83 D<75
70 30/3=10 89<A≤ 100 79<B≤ 89 70≤B≤ 79 D<70
65 35/3=11,7 88<A≤ 100 76<B≤ 88 65≤B≤ 76 D<65

Kenaikkan Kelas

Kenaikan kelas peserta didik ditetapkan melalui rapat dewan guru dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang telah disepakati oleh seluruh warga satuan pendidikan, seperti:

  1. minimal kehadiran;
  2. ketaatan pada tata tertib;
  3. peraturan lainnya yang berlaku di satuan pendidikan tersebut;
  4. peserta didik dinyatakan tidak naik kelas apabila hasil belajar dari paling sedikit 3 (tiga) mata pelajaran pada kompetensi pengetahuan keterampilan belum tuntas dan/atau sikap belum baik.

Demikian pembahasan kami mengenai Kriteria Ketuntasan Minimal. tentunya dalam pembahasan ini kami masih banyak kekurangan, maka kami sarankan pula agar anda merujuk kepada daftar pustaka di bawah ini:

Daftar Pustaka:

  • https://www.pdfdrive.com/kkm-dan-remedial-logika-sejarah-dan-filsafat-matematika-e53988702.html
  • 2016 . Panduan Penilaian Untuk Sekolah Dasar. Direktorat Pembinaan Pendidikan Dasar. Jakarta: Ditjen Dikdasmen Kemendikbud.
  • 2016 . Panduan Penilaian Untuk Sekolah Menengah. Direktorat Pembinaan Pendidikan Dasar Pertama. Jakarta: Ditjen Dikdasmen Kemendikbud.
  • 2018. Materi Penyegaran Kurikulum 2013 SD. Direktorat Pembinaan Pendidikan Dasar. Jakarta: Ditjen Dikdasmen Kemendikbud.
  • Modul Kurikulum 2013 Kepala Sekolah Jenjang SD. Jakarta: Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK).
Baca Juga:  Pengertian e Learning dan Contoh Penerapannya

You May Also Like

About the Author: Ageng Triyono

Edutech Enthusiast|Curriculum Researcher & Developer|Independent Learner of History|Founder Kontenpositif.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *