Menulis? Mulai dari Mana?

Posted on

Rumaisha Putri – Motivasi

Ada yang tak boleh hilang meski kian berkurang. Hal itu bernama kreatifitas dan daya imajinasi manusia pada umumnya. Pertama-tama muncul hal-hal abstrak tak beraturan di kepala. Kemudian menjadi pola pikir yang runtut. Lalu menjadi sebuah karya nyata. Dibaca sekian ratus jiwa bahkan menjadi bahan referensi. Sebagian diangkat menjadi kajian, sebagian dikemas kembali dalam bentuk visual berupa film, dan sebagainya.

Sumber foto: rmx.news

Bagi penulis baik yang berpengalaman maupun pemula, ada kesejahteraan batin tersendiri melewati hal-hal seperti ini sehingga jangan heran bila ada orang yang rela menghabiskan seluruh hidupnya untuk menulis dan menulis. Jangan heran bila seorang penulis -baik lepas maupun yang tidak- rela tak tidur berhari-hari, atau melek semalam suntuk menikmati ketikan demi ketikannya.

Sebab mereka telah menemukan sendiri cara merapikan ide-ide yang tersimpan dalam otaknya. Mereka sudah memahami jalan pikirannya sendiri sehingga pekerjaan yang tersisa hanyalah cara penuangan gagasan dengan gaya bahasa sesuai kebiasaan. Sesederhana itu.

Pertanyaannya, darimana mereka memulai? Baiklah, untuk dipahami bahwa yang menulis tulisan inipun masih jauh dari kata berpengalaman. Namun cara terbaik dalam mengaplikasikan ilmu adalah membagikannya sesederhana mungkin agar mudah dicerna orang-orang yang butuh untuk memahaminya.

Mereka Mulai Membaca

Hal yang sangat perlu dipahami pertama kali adalah bahwa tidak ada satupun penulis di dunia ini yang tak punya minat tinggi dalam membaca. Bahkan penulis novel masyhur Tere Liye dalam sebuah seminar kepenulisan pernah mengatakan, “Satu paragraf yang kamu tulis setara dengan 1000 buku yang harus kamu baca.”

Tapi tenang. Berdasarkan pengalaman pribadi, minat baca tak serta merta tumbuh dengan cara sesulit itu. Saya sendiri, bertahun-tahun majalah dan buku cerita tampil di rak buku rumah hanya untuk saya lihat gambarnya. Hanya untuk sekedar membaca rubrik komiknya lalu dicampak begitu saja tanpa mengkhatamkan seluruh isinya. Mencari gambar lain di majalah baru.

BACA:  Di Suatu Masa ...

Tapi ternyata, semakin sering melihat gambar di atas kertas, rasa ingin mengetahui lebih lanjut deskripsi gambar tersebut perlahan tumbuh. Jika telah menemukan hal menarik dalam bacaan yang lebih panjang dari biasanya di satu buku atau majalah, maka tentu kita akan mencari buku atau majalah lainnya dengan jenis rubrik yang sama.

Umumnya dari gambar lalu akan tertarik pada cerita fiksi. Dari cerita fiksi lalu tertarik pada biografi, lalu merambat kepada karya-karya umum, sampai bacaan kita menjadi beragam.

Terus seperti itu hingga tanpa kita sadari cakrawala berpikir kita mulai berkembang. Tanpa kita sadari milyaran sel otak yang terpisah-pisah mulai menyatu dan mulai agresif menghantar informasi dari jejaring satu ke jejaring otak lainnya.

Jangan lupa tanamkan rasa takjub dalam diri kita saat membaca, bahwa kita sedang beranjak dari ketidaktahuan menuju pengetahuan baru. Selalulah berpikir dan bersyukur atas satu kata atau kalimat yang baru saja mengisi cakrawala berpikir kita hari ini hingga menjadi andil kecil yang membukit untuk kualitas intelektual kita di masa depan.

Mereka Mulai Menulis

Orang dengan minat baca tinggi bisa jadi memiliki kemauan untuk menulis, namun dalam realisasinya, ketika melihat tulisannya tak seideal tulisan yang biasa dibacanya ia akan berhenti.

Sumber foto: inc.com

Ini tidak benar. Melihat hasil tulisan di permulaan memang agak memalukan saat kita baca kembali. Tapi percayalah semua penulis melewati proses yang sama. Karena itu muncullah istilah diary yang kerap diidentikkan dengan tulisan penuh rahasia dan aib yang kita simpan sendiri dalam buku khusus.

Untuk apa mengabadikan aib? Jawabannya adalah agar di masa depan kita lebih sadar dengan tahap perkembangan pribadi kita. Selain melatih kemampuan menulis, juga membantu kita untuk lebih mengenal diri sendiri. Orang yang tak tahu sejarah dirinya, sama halnya seperti daun kering yang jatuh tanpa tahu dari pohon mana ia berasal. Dengan mengetahui sejarah perkembangan diri kita tak akan kaget dengan hari ini bahkan dapat menerawang masa depan.

BACA:  Mencetak Generasi Tangguh Seperti Muhammad Al-Fatih

Diary bagi saya bukan hanya sekumpulan rahasia-rahasia yang diabadikan lalu disimpan. Saya mengandaikan bahwa diary adalah penerbit tulisan yang saya kelola sendiri. Menerbitkan tulisan sendiri, saya hiasi gambar atau desain sendiri, saya baca sendiri, saya tertawai sendiri, saya deskripsikan segala kejadian yang perlu diabadikan sendiri.

Dengan mindset bahwa diary adalah penerbit tulisan, saya menjadi termotivasi untuk menghasilkan tulisan sebaik mungkin dengan pembahasan yang layak diabadikan. Karena bagaimanapun saya yakin bahwa diary itu suatu saat pasti akan terbaca -sengaja atau tidak sengaja- oleh orang selain saya.

Ketika membaca kembali saya memposisikan diri seolah saya adalah orang lain. Saya tergelak karena geli melihat tulisan sendiri. Namun seiring berjalannya waktu dengan konsistensi menulis diary minimal satu kali sehari, ternyata tulisan saya tak terus seperti itu lagi. Gaya bahasa menjadi lebih tertata dan tak lagi susah untuk mendeskripsikan suatu kejadian pada suatu hari.

Saya pun kemudian dapat memilah mana masalah yang perlu dituangkan ke dalam tulisan dan mana yang tak perlu dibahas lebih lanjut. Kita jadi lebih memahami skala prioritas hidup dan tak lagi mempersoalkan masalah sepele.

Puncaknya, 8 tahun kemudian diary saya pun bertransformasi menjadi bacaan umum di kalangan teman-teman sejawat. Yaitu saat saya merasa kumpulan deskripsi harian itu sudah lebih ideal untuk dibaca orang lain. Tak jarang sebagian mereka mendapat manfaat atau inspirasi dari diary tersebut lalu mengajak saya berdiskusi. Salah satu dari mereka mengatakan,

“Kenapa aku suka baca diarymu? Karena aku merasa isi kepalaku yang banyak tapi tak beraturan ini seperti disuarakan dalam tulisanmu.”

See? Ini membuktikan bahwa setiap dari kita selalu punya amunisi. Tak ada alasan untuk tak punya ide. Kita sebenarnya selalu punya bahasan untuk dituangkan. Hanya saja kita belum menemukan jalan untuk menyalurkan aspirasi itu ke dalam tulisan.

BACA:  Surplus Sarjana Pendidikan: Calon Guru Mau Kemana?

Maka berlatihlah untuk mendeskripsikan hari ini. Lalu bacalah kembali. Tulis lagi. Baca lagi. Curahkan perhatian kita kepada lingkungan sekitar dan lihat apa yang bisa diabadikan dari sana.

Apa Pentingnya Membaca dan Menulis?

Bacalah. Inilah perintah pertama yang Allah turunkan ketika mengajari Nabiyyuna Muhammad shallallahu’alaihiwasallam. Bukan tanpa rahasia. Bukan tanpa makna. Bukan pula pembebanan. Namun perintah inilah yang mendidik manusia dalam membentuk peradaban mulai dari zaman purba hingga zaman teknologi padat ilmu pengetahuan seperti sekarang. Semua dimulai dari “Bacalah”.

Sumber foto: weareteachers.com

Lalu menulis. Tahukah kalian makhluk apa yang pertama kali diciptakan Allah sebelum segala sesuatu tercipta?

Jawabannya adalah pena. Lalu dengan pena itulah Allah menulis takdir-takdirnya. Menulis ketentuan-ketentuannya. Pena adalah pengikat inspirasi untuk mengubah dunia. Pena adalah teman baik tabiat manusia yang kerap lupa. Pena pula penghibur hati manusia yang lara. Pena pula penggetar hati manusia lewat isi-isi ancamannya. Pena, ialah ciptaan Allah paling menakjubkan yang pernah ada.

Dengan pena, ada manfaat abadi yang dapat dikenang dan menjadi amal jariyah ketika kita tak mampu membela diri sendiri dihadapan-Nya. Jangan tunggu esok untuk membaca dan menulis. Terlalu banyak peristiwa dalam satu hari untuk kita sia-siakan hari ini.

Oleh: Rumaisha Putri
Editor: Deany Januarta Putra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *