Menyambung Sejarah Emas Umat Islam

Posted on

Ageng Triyono – Pemikiran

Tiada tengkar lagi saat Michael Hart menyelesaikan ‘The 100 A Ranking Of The Most Influental Persons In History’ dengan menobatkan Rasulullah Shalallallahu alai wassalam sebagai orang paling berpengaruh sepanjang sejarah. Setelah menyeleksi sebanyak mungkin pembesar dunia, Hart tak mendapatkan pembanding sepadan, apalagi melebihi nabi dalam ragam skalanya. Nama Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib paling banyak diucap pengikutnya hingga terlanjur mengharumi sehamparan bumi.

Zaman keemasan Islam (sumber)

Umumnya kaum cerdik cendekia non muslim juga memiliki kekaguman serupa. Demikian halnya Bernard Shaw, yang ia sampaikan seakan mewakili pengakuan jujur para tokoh barat lainnya. “Agama yang dibawa Muhammad sungguh merupakan tolak ukur mulia bagi perkembangan sejarah selanjutnya. Islamlah satu-satunya agama yang memiliki kekuasaan terhadap fase-fase kehidupan yang berbeda-beda. Sepatutnyalah Muhammad disebut sebagai juru penyelamat nilai-nilai kemanusiaan. Sekiranya orang seperti dirinya ditetapkan sebagai pemimpin  pada kurun ini, jelas akan mampu memecahkan segala persoalan”, begitu keyakinan Shaw.

Keistimewaan rasululloh shalallallahu alaihi wassalam sangat memanjakan para penulis biografi. Tintanya tak pernah kering menguraikan kemuliaan beliau. Artinya mereka tak pernah kehabisan tema pembahasannya. Portofolio beliau lengkap tanpa cela disetiap prestasinya. Hingga tebalnya halaman buku ‘Sejarah Muhammad’ tiada cukup lagi menuntaskan pembahasannya, meski direvisi dan sekian kali cetak berulang. Dibukukan berjilid pun tak  menampung berjibunnya kisah yang sejak mudanya digelari Al amin.

Ditambah cerita keagungan Islam yang tiada ‘titik’, terus berkoma, tanpa jeda, ceritanya berlanjut menyusuri pesona generasi setelahnya dan setelahnya. Karna sejarah keemasan Islam terangkai dan tak bisa diurai dari kerja-kerja peradaban generasi setelahnya. Para sahabat adalah sebuah tim yang berisi manusia-manusia terbaik hasil didikan langsung Sang Guru peradaban. Dari perjuangan generasi awal itu berkah Islam bisa kita rasakan sampai nafas kita di detik ini. Serta akan terus berlangsung hingga yaumil akhir.

Islam tetap kokoh. Seperti pohon yang buahnya sepanjang masa, tingginya menjulang, rantingnya bercabag-cabang, daunnya rimbun rindang, akarnya tunggang menghujam. Tak roboh oleh terpaan topan dan daunnya tak berguguran oleh kemaraunya jaman. Manfaatnya amat nyata bagi dunia. Manisnya sari buah dakwah bisa dinikmati siapa saja, selamanya, terkecuali yang menolaknya.

BACA:  Problem Solving

Hikmah-hikmah yang diwariskan bagai mata air yang tak surut. Bersumberkan rangkaian sirah rasulullah beserta sahabatnya terus mengalir tanpa terbendung. Ibrah-nya membasahi sejarah, meneteskan inspirasi, dan memercikkan keteladanan sampai sekarang, meski telah sekian jauhnya jarak kehidupan mereka.

Semua menjadi pelajaran yang tak putus bertali sampai generasi kita abad ini. Itu sebab bejibunnya ahli yang mengkaji, menyeminarkan, maupun buku yang menuliskan langkah mereka membangun peradaban, sama sekali tak pernah  mengeringkan hikmah yang digali. Justru inspirasi baru segera bersusulan seselesainya dinapaktilasi amaliah konkret khoirunnas itu.

Artinya apa? Sumber-sumber pembelajaran itu masih tersedia. Prosesi pendidikan yang kala itu berhasil membentuk individu-individu terbaik, kemudian mereka saling berpegang tangan untuk menaklukan dunia bisa dilaksanakan sekarang. Murid-murid yang akan kembali mendamaikan dunia dari segala adalah penduduk bumi saat ini. Hanya tidak semua dari kita khusu menerimanya. Karna bebalnya iman di dada ini, hingga tuturan hikmah mengalir begitu saja tanpa tertampung. Terlewatkan dan  kita gundah setelah tahu  ditadah umat lain.

Islam dan sejarah (sumber)

Hikmah itu adalah barang milik orang beriman, kata rosululloh. Dan dimana saja kita menemukannya, maka ambillah! Menyerapnya tanpa sisa dan menjadikannya sebagai sebaik-baik pelajaran. Kemudian mendampingkannya bersama praktik keteladanan generasi awal adalah pelajaran paling utuh disegala dimensi hidup ini. Tiada lain bagi pengharap kemuliaan hidup kecuali belajar dari pengalaman mereka membangun peradaban.

Mereka adalah role model. “Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di zamanku, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian orang-orang setelahnya.”(HR. Bukhari-Muslim). Sebab itu, lelakunya paling ideal diteladani. Sikapnya panutan setiap keadaan. Ucapan lisanya sebaik-baik kesantunan. Nilai dan gagasan yang diwariskannya ukuran kebijaksanaan. Ayunan pedangnya adalah tebasan pembebasan dari kekufuran. Palunya adalah ketokkan keadilan. Pesona akhlaknya adalah kesempurnaan cara bersosial. Begitulah keseharian masyarakat dakwah terbaik yang pernah Alloh hadirkan di muka bumi.

BACA:  Mencetak Generasi Tangguh Seperti Muhammad Al-Fatih

Sungguh, tiada pantas mencari jalan lain kecuali mempelajari dan menyusuri jalan dakwah mereka. Cukuplah kita megulanginya, bukan memulainya. Karna mengulangi jelas lebih mudah dari memulainya. Nyata dibuktikan sejarah. Prestasinya mendunia dan ceriteranya teladan seantero benua. Maka wajibnya kita segera memilihnya sebagai sebaik-baik referensi amal pergerakan.

Kurang apa prestasi mereka? Simaklah, ujung jejaknya masih membekas. Jengkal-jengkal perjalanan mereka selama empat belas abad silam menuju beberapa abad berikutnya dapat akurat kita review. Diawali pembentukan kemuslimannya, hingga keberhasilannya menjelajah menguasai lebih dua pertiga dunia, membentang dari Andalusia sampai Asia, semua tenunan indah dalam berlembar-lembar catatan sejarah. Ditambah taburan karya para filsuf, ilmuwan, dan insinyur muslim yang ikut menyulami sejarah emas peradaban pada rentang itu, mudah kita bedah. Batas-batas benua yang tertembusi oleh cepatnya perkembangan Islam juga mudah kita patoki. Simak saja, dimana Islam pernah singgah, pasti ada tapak peradabannya di sana. Sinar kebangkitan sains dan teknologi Daulah Abasiyah yang meninggi memercusuar menyinari kegelapan langit peradaban Eropa juga telah diakui sendiri oleh bangsa mereka. Sementara jangkauan luasnya wilayah Daulah Utsmaniyah kala berkuasa meraba benua Asia hingga meyentuh kita di belantara nusantara. Selengkapnya tentu bisa ditelusuri lebih detail pada sumber referensi yang lebih melimpah. Tugas kita adalah menyambung cerita sukses itu. Artinya kita menjadi tim pelanjut sejarah kegemilangan mereka. Dengan metode dan ajaran serta tuturan-turan hikmah yang mereka wariskan. maka secara SOP kita sesungguhnya adalah satu tim dengan nabi dan para sahabat.  Bukan tidak mungkin, generasi masa kini adalah tim impian yang Allah dan rasulnya harapkan untuk memenangkan agama haq ini. Pemimpinnya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukannya adalah sebaik-baik pasukan.

BACA:  Kenakalan Murid adalah Petunjuk Mengenai Cara untuk Mendidiknya

Sekali lagi menyambung, atau melanjutkan! Atau separahnya adalah mengulanginya. Tetapi bukan memulai. Karna mengulangi lebih mudah daripada memulai. Setidaknya pengalaman adalah pelajaran yang telah dibuktikan.Tugas kita adalah membuktikannya kembali di jaman ini.

Saya kira ini adalah sebuah tawaran. Adakah kemauan dihati meski haya sebesar dzarrah? Jika iya, ucapkan selamat pada diri anda. Karna anda telah berniat menjadi bagian dari kejayaan umat ini. Dan bukan yang nrima ing pandum di tengah kubangan kehinaan umat yang berkepanjangan.

Sanggupilah tawaran ini! Awalilah dengan mendeklarasikan diri sepenuh iman; “Aku adalah bagian sejarah emas Islam”.

Oleh: Ageng Triyono
Editor: Deany Januarta Putra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *