Pendidik: Produsen Para Pahlawan Yang Jasanya Tak Terlupakan

Posted on

Ageng Triyono – Pemikiran, Pendidikan

haidunia.com – Ketika krisis besar dengan segala dimensinya telah melanda sebuah negeri, maka wajib hukumnya bagi penduduk negeri itu untuk memunculkan para pahlawan baru. Karena kelangkaan pahlawan adalah isyarat kematian sebuah bangsa, demikian tulis ustadz Anis Matta dalam bukunya Mencari Pahlawan Indonesia. Maka jika telah sampai pada kondisi sebagaimana yang dimaksud itu, tentunya akan timbul kewajiban pada diri-diri yang sadar untuk ikut andil melahirkan para pahlawan baru demi menjaga eksistensi negeri ini. Lantas dimana tempat dan sarana ‘industri’ pahlawan itu?

Pendidik: Produsen Para Pahlawan Yang Jasanya Tak Terlupakan

Jika membaca lembaran sejarah, kita hampir pasti akan menemukan banyak tokoh besar bangsa ini mengawali langkah perubahan disaat usia mereka masih duduk dibangku pendidikan. Meskipun mungkin pendidikan yang mereka jalani belum seperti model pendidikan formal atapun kampus sebagaimana generasi kita digembleng. Saya kira tidak keliru jika dunia pendidikan dengan segala keterkaitannya adalah wahana untuk memproduksi para pahlwan baru di masa depan.

Melalui tulisan ini saya mencoba menyampaikan angan-angan mengenai hadirnya barisan terseleksi yang tersusun dari para insan pendidik. Barisan inilah produsen para pahlawan itu. Tampilnya barisan ini nantinya adalah untuk memegang amanat perubahan. Darinya akan lahir anak-anak muda dengan tekad yang kuat memajukan umat. Bisakah, anda para pendidik, memiliki bayangan masa depan yang sama dengan saya? Yakni tentang kelahiran sebuah kaum baru, yang muncul dari gerbang-gerbang sekolah. Kaum baru yang sama sekali tidak disibukkan oleh topik-topik perbincangan anak-anak seusianya. Akan tetapi mereka telah berpikir untuk berkompetisi  merebut “piala-piala kepahlawanan” di dalam beragam arena kehidupan masa depan.

Tentunya tiada satupun orang besar di abad ini yang bukan murid dari seorang guru. Maka pendidik model seperti apa yang akan menjadi tokoh idola murid-muridnya yang kelak tumbuh dengan nama besar. Pantaslah menjadi kerinduan bersama, akan terbentuknya jamaah guru yang siap tampil di panggung sejarah. Guru yang siap menanggung beban keumatan yang tak dipikul oleh manusia-manusia lain pada umumnya. Guru yang kehidupannya menembus batas sisi-sisi kehidupan pribadi yang sempit, kemudian mewakafkan sebagian besar energi hidupnya untuk mengantarkan anak-anak manusia yang datang kepadanya, meraih cita-cita besar hidupnya dalam skala perdaban. 

BACA:  Mendidik Mereka yang Memiliki Keterbatasan

Mereka adalah para guru yang siap mengorbankan dirinya untuk kepentingan yang lebih luas, lagi siap menjadi pribadi seperti  apa yang disampaikan as-syahid Sayyid Quthb: “Orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Akan tetapi, orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.” Inilah sosok guru yang akan menjadi perbincangan kita dan dunia, mulai detik ini, ataupun sampai negeri ini dan negeri lain di belahan bumi mencapai takdir sejarah emas peradabannya. Semoga,  sebentar lagi dunia akan kembali hangat memperbincangkan tokoh-tokoh para guru yang harum namanya dalam kenangan sejarah seperti Syeikh Akhmad Yassin, yang maaf beliau ‘hanya’ berlatar belakang seorang guru ngaji. Ataupun Syeikh Al-Banna yang juga awalnya seorang guru biasa namun kemudian menjadi guru yang berhasil melahirkan banyak tokoh-tokoh besar perjuangan di berbagai belahan dunia.

Dalam konteks keindonesiaan, seyogyanya seorang guru pun sudah bisa menempatkan dirinya dalam skala peran yang nyata bagi kehidupan. Guru harus berani mendeklarasikan diri sebagai aktor utama di tengah panggung dunia. Mata masyarakat pun haru memandang bahawa peran guru dalam menjaga moral bangsa itu lebih penting dari para pelaku ekonomi dan bisnis, apalagi para pelaku dunia hiburan yang berseliweran saban hari di layar kaca. Dengan demikian, guru pun bukan lagi sekadar penghantar ilmu pengetahuan, namun ia adalah produsen yang menyiapkan kelahiran para pahlawan di masa depan. Semoga kita semua bisa menempatkan posisi guru dengan semestinya.

Oleh: Ageng Triyono
Editor: Deany Januarta Putra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *