Pengertian Lembar Kerja Siswa (LKS) yang Valid, Praktis & Efektif

Pengertian Lembar Kerja Siswa

Pengertian Lembar Kerja Siswa (LKS) – Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) atau yang sebelumnya dikenal dengan Lembar Kerja Siswa (LKS) merupakan bahan ajar yang dapat dicetak dalam bentuk lembaran-lembaran berisi ringkasan materi dan petunjuk pelaksanaan proses pembelajaran yang harus dilakukan oleh peserta didik (Prastowo, 2014).

Prastowo juga menambahkan bahwa materi ajar dalam LKPD dikemas sedemikian rupa sehingga peserta didik dapat mempelajari materi ajar tersebut secara mandiri. LKPD juga diartikan sebagai panduan bagi peserta didik dalam melakukan kegiatan penyelidikan atau pemecahan masalah (Trianto, 2012).

Sementara Depdiknas (2008) mendefinisikan LKPD sebagai lembaran-lembaran yang berisi pertanyaan atau soal yang harus dikerjakan oleh peserta didik dengan disertai petunjuk dan langkah-langkah kerja untuk menyelesaikannya.

Menurut Anggraini, dkk, (2016), Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) adalah lembaran-lembaran berisi materi, ringkasan, dan tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik.

Peran LKPD dalam pembelajaran salah satunya adalah sebagai bahan ajar yang bisa meminimalkan peran pendidik namun lebih mengaktifkan peserta didik.

Oleh karena itu untuk memperbaiki minat peserta didik untuk belajar dapat dilakukan guru dengan cara membuat LKPD lebih sistematis, berwarna serta bergambar untuk menarik perhatian dalam mempelajari LKPD tersebut.

Trianto (2010) menyatakan bahwa LKPD adalah panduan bagi siswa yang digunakan untuk melakukan penyelidikan dari suatu permasalahan. Kurikulum 2013 menuntut adanya perubahan dari LKS menjadi LKPD.

Perbedaan antara LKS dan LKPD selain pada kata siswa dan peserta didik adalah LKPD berisi muatan materi yang singkat dengan soal yang lebih interaktif dan kontekstual terhadap peserta didik (Mustika, dkk., dalam Nurhayati, 2019)

Pengertian LKPD dari beberapa pendapat ahli di atas menunjukkan bahwa LKPD adalah sekumpulan lembaran-lembaran panduan belajar yang harus dilalui oleh peserta didik berdasarkan tujuan dan pembelajaran tertentu beserta model pembelajaran yang telah disesuaikan oleh penulis untuk mencapai kompetensi yang diinginkan.

LKPD ini hendaklah dibuat dengan melihat kemampuan peserta didik agar pembelajaran dalam dapat berjalan dengan optimal.

Pengertian e-LKPD

Akhir-akhir ini juga banyak penelitian yang ditujukan untuk mengembangkan elektronik LKPD atau e-LKPD sebagai konsekuensi arah jaman yang berkembang menuju era serba digital.

e-LKPD merupakan bahan ajar yang menuntun peserta didik dalam mempermudah proses belajar mengajar yang diwujudkan dalam bentuk elektronik, biasanya e-LKPD dapat disajikan pada computer, laptop, maupun smartphone (Haqsari, 2014).

Hal ini didukung dengan pendapat Haryanto, Asrial, & Ernawati (2020) bahwa e-LKPD merupakan salah satu sarana untuk memfasilitasi kegiatan belajar mengajar untuk interaksi efektif antara peserta didik dengan guru.

e-LKPD sendiri memiliki kelebihan karena dapat di akses secara offline maupun online (Putri, 2013). e-LKPD juga merupakan salah satu inovasi teknologi digital yang mengubah materi cetak menjadi materi yang dapat diakses secara digital.

Kelebihan Penggunaan LKS

Penggunaan LKPD dalam proses pembelajaran dinilai memiliki beberapa kelebihan, antara lain (Hamdani, 2011):

  1. Meningkatkan aktivitas belajar
  2. Mendorong peserta didik mampu bekerja secara mandiri
  3. Membimbing peserta didik secara baik ke arah pengembangan konsep

Fungsi Lembar Kerja Siswa

Fungsi utama LKPD sebagai bahan ajar antara lain (Prastowo, 2014):

  1. Sebagai bahan ajar yang bisa meminimalkan peran guru, namun lebih mengaktifkan peserta didik.
  2. Sebagai bahan ajar yang mempermudah peserta didik untuk memahami materi yang diberikan
  3. Sebagai bahan ajar yang ringkas dan kaya tugas untuk berlatih
  4. Memudahkan pelaksanaan pengajaran kepada peserta didik

Macam-macam LKS

Penggunaan LKPD dalam proses pembelajaran dilatarbelakangi oleh tujuan yang hendak dicapai. Berdasarkan tujuan-tujuan tersebut LKPD dapat dibedakan menjadi beberapa macam (Prastowo, 2014):

  1. LKPD yang membantu peserta didik menemukan suatu konsep. LKPD ini memuat beberapa hal yang harus dikerjakan seperti mengamati dan menganalisis
  2. LKPD yang membantu peserta didik menerapkan dan mengintegrasikan berbagai konsep yang telah ditemukan.
  3. LKPD yang berfungsi sebagai penuntun belajar. LKPD ini pertanyaan atau isian yang jawabannya ada dalam buku.
  4. LKPD yang berfungsi sebagai penguatan. LKPD yang diberikan setelah peserta didik mempelajari topik tertentu.
  5. LKPD yang berfungsi sebagai praktikum
Baca Juga:  Kode Etik Guru Indonesia Terbaru 2021 Versi PGRI [Lengkap]

Cara Membuat LKS

Langkah-langkah pengembangan Depdiknas (2008), yaitu sebagai berikut:

  1. Melakukan analisis kurikulum

Analisis kurikulum dimaksudkan untuk menentukan materi-materi yang memerlukan bahan ajar LKPD. Hal ini dapat dilakukan dengan cara melihat materi pokok, pengalaman dalam kegiatan belajar mengajar, serta materi yang akan diajarkan, serta kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik.

  1. Menyusun peta kebutuhan LKPD

Penyusunan peta kebutuhan LKPD dimaksudkan untuk menentukan prioritas dari materi yang akan dimuat beserta urutan penyajiannya.

  1. Menentukan judul-judul LKPD

Proses penentuan judul dalam LKPD didasarkan atas kompetensi Dasar yang hendak dicapai, materi pokok serta pengalaman belajar yang terdapat dalam kurikulum.

  1. Penyusunan LKPD

Tahapan dalam penyusunan LKPD antara lain terdiri dari perumusan KD yang harus dikuasai, menentukan alat penilaian dan penyusunan materi.

Terakhir, format LKPD yang baik memiliki beberapa unsur utama, antara lain Judul, Petunjuk belajar, KD atau materi pokok, Informasi pendukung, Tugas atau langkah kerja, dan Penilaian (Asmaranti, 2017).

Pengertian Lembar Kerja Siswa yang Valid, Praktis & Efektif 

Lembar Kerja Siswa (LKS) merupakan bahan ajar yang harus memenuhi kriteria valid, praktis dan efektif sebelum diadakan diseminasi atau penyebarluasan penggunaan dalam pembelajaran sehari-hari.

Untuk mengembangkan bahan ajar yang baik, maka bahan ajar yang dikembangkan harus memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif (Akker, Bannan, Kelly, Nieveen & Plomp, 2013) berikut penjelasannya:

  1. Kevalidan

Bahan ajar dikatakan valid jika bahan ajar tersebut berkualitas baik, dimana bahan ajar fokus pada materi dan pendekatan pembelajaran yang digunakan.

Bahan ajar harus didasarkan pada materi (validasi isi) dan semua komponen harus secara konsisten dihubungkan satu sama lain (validasi konstruk) (Arifin, 2015). BSNP mengemukakan aspek kelayakan dinilai dari empat aspek, antara lain:

a.  Kelayakan isi

Dalam hal ini kelayakan dilihat dari segi keakuratan materi, cakupan materi, pendekatan yang digunakan dan kesesuaian dengan kompetensi.

b. Kelayakan bahasa

Baca Juga:  Cara Membuat Lembar Kerja Siswa (LKS), Syarat & Kriterianya

Dalam hal ini yang dilihat meliputi dari segi penulisan, kebenaran istilah, simbol dan kesesuaian dengan peserta didik.

c. Kelayakan penyajian

Dalam hal ini yang dilihat meliputi teknik penyajian dan pendukung penyajian.

d. Kelayakan kegrafikaan

Dalam hal ini yang dilihat meliputi tampilan bahan ajar, ukuran, serta ketepatan warna dan huruf.

Bahan ajar yang dikembangkan memenuhi semua pernyataan diatas, maka bahan ajar tersebut dapat dikatakan valid. Bahan ajar dikatakan valid apabila setelah dihitung secara statistik memenuhi nilai rata-rata minimal dalam kategori “baik” (Fatmasuci, 2017)

2. Kepraktisan

Kepraktisan mengandung arti kemudahan, baik dalam mempersiapkan, menggunaka, mengolah, dan menafsirkan (Arifin, 2015).

LKPD dapat digunakan dalam pembelajaran jika sebagai bahan ajar sudah dikatakan praktis, yaitu apabila setelah diuji statistik memenuhi nilai rata-rata minimal dalam kategori “baik” (Cahyono, 2017)

3. Keefektifan

Bahan ajar dikatakan efektif apabila peserta didik berhasil dalam proses pembelajaran dan terdapat kekonsistenan antara kurikulum, pengalaman belajar pencapaian proses pembelajaran.

Keefektifan LKPD dapat dilihat jika memenuhi indikator ketercapaian kompetensi oleh peserta didik meningkat. Peningkatan nilai dapat dilihat dari hasil pre-test ke hasil post-test pada kelas eksperimen dibandingkan dengan peningkatan nilai pre-test ke hasil post-test pada kelas kontrol (yang tidak menggunakan LKS).

Demikian bahasan kita mengenai pengertian lembar kerja siswa  beserta syarat kriterianya, yaitu valid, praktis dan efektif.

Artikel ini kami olah dari tesis:

  • Diyah Istriyani. Pengembangan e-LKPD Berbasis Problem Based Learning Untuk Menstimulus Kemampuan Problem Solving Pada Materi Barisan dan Deret. Tesis. Yogyakarta. Program Pascasarjana, Universitas Ahmad Dahlan.
  • Ageng Triyono. Pengembangan LKPD Berpendekatan Inkuiri Terbimbing Untuk meningkatkan Kemampuan berpikritis Peserta Didik kelas VII pada Materi Perbandingan. Tesis. Yogyakarta. Program Pascasarjana, Universitas Ahmad Dahlan.

You May Also Like

About the Author: Ageng Triyono

Curriculum Researcher & Developer | Guru Kampung | Penulis Lepas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *