Penyakit Wahn; Embrio Kekalahan Negeri-negeri Muslim!

Posted on

Ageng Triyono – Pemikiran

“Katakanlah Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Tanya seorang sahabat yang di dadanya sedang dipenuhi kekawatiran.  Bagaimana tak gelisah, saat Nabinya yang diketahui tiada pernah dusta sekata pun menyampaikan sabdanya; “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring.” Kegelisahan itu pun tak menjadi pupus dengan jawaban yang disampaikan Nabinya, “Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian wahn.” Demikian hadits dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam Ahmad.

Sumber foto: an-najah.net

Wahn! “Apa itu wahn?” Kata yang juga cukup awam di pendengaran para teman dan sebaya di kampus kala itu. Sehingga Nabi pun bergegas memberikan definisinya. “Cinta dunia dan takut mati”, jawaban ringkas yang beliau shallallhu ‘alaihi wasallam sampaikan. Definisi wahn itu pun selanjutnya menjadi mudah kita sama-sama maknai.

Cinta dunia, melingkupi segala kesibukan tingkah laku manusia demi urusan yang dicintainya, yakni dunia saja. Menumpuk kemewahan. Hedonisme menjadikan kebahagian dunia sebagai satu satunya tujuan. Imajinasinya primitif, mengidolakan para super star. Saling berebut sebab takut tidak kebagian. Enggan berbagi karna belum sanggup kehilangan. Sedang takut mati menjadi perasaan yang mampu memupuskan semangat perjuangan. Membius kita, yang afwan kadang tak malu-malu menyebut sebagai sosok pemimpin, tetapi tergeletak saja saat seruan tugas itu menghampiri. Harus memenuhi urusan perut dulu, atau urusan yang lain. Sehingga kesempatan-kesempatan itu pun terlewat. Sehingga hanya memberikan energi-energi sisa untuk beramal. 

BACA:  Menyambung Sejarah Emas Umat Islam

Implikasi dari  penyakit wahn yang bersarang adalah disebutkan langsung oleh Nabi “Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian”. Musuh memahami spirit jihad untuk fight di medan laga telah melemah. Genderang perang tak lagi bertabuh. Mereka pun paham di antara kaum muslimin tinggal sedikit saja yang mewarisi semangat laskar-laskar Badar. Diri mejadi pengecut, mudah menunduk kala bertatap muka lawan. Menjadi hina dan musuh tiada gentar lagi.

Sumber foto: busy.org

Sadar kondisi umat muslim melemah, mereka mulai bergerak menyergap. Invansi ke negeri-negeri muslim di mulai. Penetrasi Barat ke dunia Islam mulai digetolkan. Pertama-tama oleh dua bangsa Eropa terkemuka, Inggris dan Perancis. Keduanya memang sedang berlomba menambah luasnya tanah jajahan. Inggris terlebih dahulu menginjakkan kakinya di India. Kemudian Prancis merasa perlu menghalangi komunikasi antara Barat dan Timur yang diwakili oleh India itu. Maka ditargetlah Mesir oleh Prancis yang harus dikuasai terlebih dahulu. Sehingga pintu gerbang penaklaukan negeri di sekitar India bisa ditutup dihalangi sementara oleh Prancis dengan dikuasainya Mesir. Untuk hal itu Prancis mengutus jenderalnya yang masyur, Napoleon Bonaparte, seorang perwira artileri untuk melakukan aksi-aksi militer di Mesir. Semenjak invansi oleh Napoleon mulailah terasa, di bawah tekanan senjata, rakyat mesir yang masih merupakan bagian kedaulatan Turki Utsmani kala itu, menerima kehadiran Barat bersama seperangkat kemodernannya.

Namun jauh hari sebelum kejadian pada Mesir, dibelahan bumi Asia Tenggara, negeri tempat Islam baru saja berkembang yang merupakan daerah penghasil rempah-rempah juga menjadi ajang perebutan  negara Eropa. Maka berkobar pula perang melawan kerajaan Islam Malaka dan Samudra Pasai melawan Portugis. Yang berakhir dengan penaklukan Portugis di tahun 1511M.

BACA:  Cerita Tewasnya Pimpinan ISIS: Abu Bakr Al Baghdadi

Memang kobaran api jihad para ksatria muslim itu membara, namun catatan sejarah tak bisa memungkiri bahwasanya kaum muslimin di Mesir, di India, maupun di Asia Tenggara pada umumnya sudah mulai mengidap wahn, sehingga tak ada rasa takut lagi pada musuh-musuh yang sedang bergerak menaklukan negeri-negeri Islam. Belum lagi ditambah minimnya perlengkapan pertahanan, sehingga pukulan telak pun banyak mendarat di negeri-negeri muslim. Itulah salah satu dampak wahn! Maka, hindarilah!

Oleh: Ageng Triyono
Editor: Deany Januarta Putra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *