Piala Dunia Qatar 2022 : Perbudakan Modern

Posted on

Adnan Syarief – Pemikiran

Piala Dunia merupakan suatu kompetisi sepakbola yang diikuti oleh negara negara dari seluruh dunia dan diadakan dalam kurun waktu empat tahun sekali. Piala Dunia menjadi salah satu ajang sepakbola paling ditunggu oleh para penggemar sepakbola dari seluruh dunia. Qatar yang telah terpilih menjadi tuan rumah pertama kalinya akan mengadakan kompetisi bertaraf Internasonal ini pada tahun 2022 mendatang. Qatar tengah mempersiapkan beberapa stadion megah untuk menyambut Piala Dunia 2022 mendatang.

Proyek pembangunan stadion (sumber)

Dikutip dari BBC, total anggaran untuk stadion dan tempat latihan diperkirakan sekitar $6,5 miliar.

Hal ini menunjukkan betapa seriusnya pemerintah Qatar dalam menyambut Piala Dunia 2022, didukung dengan fasilitas stadion dan tempat latihan serta infrastruktur lainnya yang memadai dan megah.

Presiden FIFA, Gianni Infantino bahkan yakin bahwa Piala Dunia Qatar 2022 akan menjadi ‘Piala Dunia terbaik sepanjang masa’.

“Piala Dunia nanti akan sangat menarik, benar benar mengagumkan dan fantastis” ujar Infantino, seperti dilansir beIN Sports.

“Kami adalah FIFA dan kami hanya mau yang terbaik. Itu artinya, setiap Piala Dunia harus menjadi yang terbaik sepanjang masa, seperti halnya di Rusia kemarin (2018). Piala Dunia 2022 punya segala hal untuk menjadikannya ajang yang tak terlupakan” tambahnya.

Jadwal diselenggarakannya Piala Dunia Qatar 2022 mendatang juga turut berubah. Piala Dunia yang biasanya diselenggarakan pada bulan Mei, Juni, atau Juli menjadi tidak mungkin di Qatar. Suhu panas ekstrem yang mencapai 45 derajat celcius menjadikan jadwal harus dipindah pada akhir tahun 2022, sekitar bulan November-Desember, yang mana suhu udara diperkirakan berkisar antara 18-25 derajat celcius.

Tuai Kontrovesi

Qatar, adalah sebuah negara kecil yang terletak di Teluk Persia, Timur Tengah. Luasnya hanya 11,571 km persegi, tidak lebih dari setengah luas Jawa Tengah. Populasinya pun hanya 2,5 juta penduduk. Hal ini yang banyak menjadi kontroversi atas penunjukkannya pada 2010 lalu. Mulai dari isu suap sampai isu praktik tak manusiawi yang mengarah pada ‘perbudakan’ tenaga kerja.

Isu Alkohol, juga menjadi banyak perbincangan di masyarakat. Seperti yang kita ketahui, bahwa budaya masyarakat barat, yang dikenal suka berpesta alkohol dan minuman keras, tentu menjadi banyak perdebatan, dengan terpilihnya Qatar untuk menjamu para penggemar sepakbola dari seluruh dunia di tahun 2022. Terlebih ketika diselenggarakannya Piala Dunia 2022 di Qatar, yang dikenal sebagai negara muslim.

BACA:  Al quran; Petunjuk Jalan Menjadi Generasi Terbaik

Ketua pelaksana Piala Dunia Qatar 2022, Nasser al-Khater, megatakan bahwa alkohol memang bukan budaya Qatar. Namun ia memastikan bahwa alkohol akan dapat diakses oleh para penggemar yang ingin meminum minuman itu. Zona penggemar khusus akan diadakan, dimana alkohol bisa dibeli di situ. Seperti dilansir The Guardian.

Kritik banyak muncul dari sejumlah media, pakar olahraga, dan kelompok kelompok sosial dan hak asasi manusia turut menyoroti masalah masalah yang ada pada terpilihnya Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Sepakbola Qatar yang dianggap masih jauh di bawah, biaya yang tinggi, iklim, serta catatan hak asasi manusia Qatar. Ada banyak tuduhan suap juga, terhadap panitia dan komite Piala Dunia Qatar 2022 dan dari pihak FIFA.

Para pekerja imigran (sumber)

Salah satu masalah yang banyak menjadi perbincangan adalah mengenai Masalah Hak Asasi Manusia yang dinilai tak manusiawi yang dilakukan pada pekerja imigran. Hal ini banyak disebut sebagai “Perbudakan Modern”.

Dilansir dari The Guardian, Para pekerja diperlakukan tidak selayaknya, mereka seperti sedang menjadi buruh kerja paksa yang ada pada zaman dahulu. Beberapa pekerja Nepal juga mengaku bahwa mereka belum dibayar selama berbulan bulan dan gaji mereka ditahan untuk menghentikan mereka melarikan diri.

Sejumlah pekerja juga mengaku mereka tidak diberikan akses untuk air bersih dan listrik gratis dibawah terik matahari yang panas. Beberapa pekerja Nepal juga mencari perlindungan di kedutaan mereka di Doha, untuk melarikan diri dari kondisi kerja mereka yang brutal.

Para pekerja juga dilaporkan mengeluh atas upah rendah yang mereka dapat. Pekerja itu kebanyakan merupakan para pekerja migran yang banyak berasal dari Bangladesh, Nepal, Sri Lanka, dan Filipina yang telah pergi ke negara raja minyak tersebut demi mencari ‘makan’.

Seorang pekerja mengatakan kepada The Mirror, “Saya seorang pekerja di dalam stadion, dan juga membantu pekerjaan lainnya. Saya mendapat 900 riyal per bulan (3,4 jt)”. Yang lain juga mengatakan : “Terkadang anda tidak dibayar tepat waktu. Atau mungkin ada uang yang hilang jika mereka tidak membayar lembur, anda harus menunggu lama di bus pada akhir giliran kerja Anda. Itu membuat hari kerja anda lebih lama”. Para pekerja juga dilaporkan hanya mendapat 82 sen per jam di negara kaya akan minyak tersebut.

BACA:  PR Menyenangkan

Amnesty International, menyebutkan, banyak agen perekrut buruh abal abal. Mereka tidak terdaftar secara resmi, sehingga jauh dari pengawasan otoritas Qatar apalagi pemerintah negara asal pekerja.

Agen abal abal juga kerap melanggar perjanjian yang tertuang dalam kontrak kerja, terutama masalah upah pekerja. Gaji juga sering dibayar terlambat, kadang hingga berbulan bulan. Situasi ini membuat para pekerja yang harus bertahan hidup dengan sebisa mungkin menghemat makan atau makan seadanya. Banyak kebutuhan pokok yang sulit dipenuhi, apalagi kebutuhan sekunder atau bahkan tersier.

Fasilitas yag mereka terima juga banyak tidak memadai. Mereka mendapat mes atau apartemen yang sempit, dan juga air bersih dan listrik yang tidak layak. Fasilitas penunjang lainnya juga banyak yang terkesan menjijikkan atau tidak layak pakai.

Di sisi lain, jam kerjanya pun tidak teratur dan banyak tidak sesuai atau ‘ngaret’. Dari delapan jam sehari, menjadi 12 jam sehari, bahkan lebih, tanpa ada uang lembur. Kondisinya kian makin berat, mengingat cuaca ekstrim yang melanda Qatar. Beberapa pekerja bahkan ditolak untuk akses air bersih gratis selama jam kerja.

Investigasi dari The Guardian, mendapati banyak pekerja yang berada dalam proyek besar Qatar ini, mereka tidur 12 orang dalam sebuah ruangan dan banyak jatuh sakit karena kondisi tempat tinggal yang menjijikkan, kotor dan bobrok. Beberapa mengatakan dipaksa untuk bekerja tanpa dibayar dan dibiarkan mencari makan.

“Kami bekerja dengan perut kosong selama 24 jam, 12 jam kerja dan kemudian tidak ada makanan sepanjang malam” kata Ram Kumar Mahara, pekerja, 27 tahun. “Ketika saya mengeluh, manajer saya menyerang saya, mengusir saya keluar dari kamp kerja yang saya tinggali. Dan menolak untuk membayar saya apa pun. Saya harus meminta makan dari pekerja lain” tambahnya.

Di sisi lain, Kementrian tenaga kerja Qatar mengatakan memiliki aturan ketat yang mengatur bekerja di cuaca panas, penyediaan tenaga kerja dan pembayaran gaji segera.

“Kementrian menegakkan undang undang ini melalui inspeksi berkala untuk memastikan bahwa para pekerja menerima upah mereka tepat waktu. Jika sebuah perusahaan tidak mematuhi undang undang, kementrian menerapkan hukuman dan merujuk kasus tersebut ke otoritas kehakiman”.

Merenggut Nyawa

Isu ini pertama kali muncul pada 2013 melalui laporan dari The Guardian, dalam seri “Modern-day Slavery in Focus”. Mereka melaporkan temuan International Trade Union Confederation (ITUC) yang menyebutkan proyek pembangunan di Qatar untuk Piala Dunia 2022 telah meregang nyawa 4.000 jiwa buruh migran.

BACA:  Di Suatu Masa ...

Jika tidak ada perubahan atau kebijakan signifikan, maka jumlah buruh tewas diperkirakan dapat meningkat menjadi 600 orang per tahun atau hampir selusin dalam satu minggu.

Di sisi lain mengungkapkan bahwa 44 pekerja migran dari Nepal tewas pada 4 Juni sampai 8 Agustus 2013 yang setengah di antaranya disebabkan oleh serangan jantung di tempat mereka bekerja. Konsulat India di Qatar menyebutkan ada 82 buruh migran asal India yang meninggal antara Januari hingga Mei 2013, dan total dalam 2010-2012 mencapai lebih dari 700 orang.

Dua tahun setelahnya, menurut laporan dari Washington Post, angka kematian telah mencapai 1.200 orang. Angka ini jauh lebih besar ketimbang buruh tewas dalam proyek Olimpiade Beijing 2008 atau Piala Dunia 2014 di Brazil. Kondisi ini diperkirakan akan membunuh total 7.000 buruh hingga akhir pembangunan di 2022.

Stadion untuk Piala Dunia 2022

Namun, di sisi lain, Pemerintah Qatar menyangkal dan membantah laporan dari ITUC, Amnesty Internasional, dan The Guardian. Bukan angkanya, tapi klaim proyek pembangunan Piala Dunia sebagai penyebabnya. Beberapa pihak pun ada yang secara kritis mempertanyakan , apakah kematian itu benar benar murni karena kerja para buruh di lapangan.

Untuk melarikan diri dan resign dari pekerjaan mereka, bukan sesuatu hal yang mudah. Karena paspor para buruh banyak disita dan ditahan sebagai semacam jaminan agar mereka tidak kabur. Selain itu, mengumpulkan modal untuk pulang juga menjadi tantangan tersendiri bagi para buruh.

Hal ini yang menjadi banyak kontroversi. Para pekerja yang tidak diperlakukan layaknya manusia yang butuh akan kehidupan yang sejahtera dan makmur, yang telah banyak merenggut nyawa para buruh. Hal itu semua dilakukan demi terlaksananya sebuah ajang besar bagi Dunia sepak bola, yang tentunya akan menjadikan kebahagiaan dan kemeriahan tersendiri bagi pihak pihak tertentu, terutama para penggemar sepakbola dari seluruh dunia. Namun, dibalik itu semua, ada perjuangan besar para pekerja dan para buruh yang memiliki nasib jauh berbeda.

Oleh: Adnan Syarief
Editor: Deany Januarta Putra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *