Puisi Roman Picisan Tentang Sahabat, Rindu & Cinta

puisi roman picisan

Puisi Roman Picisan Tentang Cinta, Sahabat & Kehidupan – Salah satu cara untuk menyampaikan pesan moral manusia adalah lewat karya sastra. Beberapa hasil karya goresan pena saudara Saidna Zulfiqar bin Tahir bisa dengan mudah anda kutip dari laman ini.

Karena tim www.haidunia.com telah merangkum puisi roman picisan tentang cinta, persahabatan dan tentang kehisupan pada umumnya.

Selamat membaca!

Puisi Roman Picisan Tentang Cinta

Monkey’s Love

Karya Saidna Zulfiqar bin Tahir

 

Ada monyet melempar pisang

Bersampul amplop berisi kutu

Kepada kera yang akut berkuku

Menyeringai cergas ajak bersekutu

Karena katanya aku kutu buku

Lugu mengangguk mencari kutu

Tersimpuh lunglai di atas bangku

 

Senewen mengeliru dalam berpangku

Kebungkaman terus membelenggu

Lugas pilon kera tiada menentu

Menghela minat mencari tahu

Tiada jawaban menjajak laku

Karena ini afeksi usia tertentu

Alamiah sebagai ketentuan baku

Kemasygulan usil mengganggu

Trial dan error menjadi perunggu

Merenggut pisang ketusuk paku

Memanjat kelapa ketimpuk sagu

Monyet kera semakin bersatu

Menyisir jurang tanpa arah menentu

Semua itu tak mungkin terbantu

Licinnya pinus berlendir paku

Yang kebetulan cengang terpaku

Lagu pembuka yang amat merdu

 

Ya…Yuk!

Saidna Zulfiqar bin Tahir

 

Polosnya aku

Tabu oleh rasa sendiri

Ragu oleh kepolosanmu

Namun yakin oleh perasaan ini

Cinta yang tak mungkin ku ucap

Rasa yang sulit diungkap

 

Membisu dalam kebodohan sendiri

Menyapa pun sulit

Tangan ini serasa kesemutan

Mulut ini terkunci

Hanya untuk satu kata

 

Tuk mengantongi satu kata darimu

Aku terperangkap keayuanmu

Matamu sayu

Tak mampu kurayu

Tuturmu kemayu

Membuat mulut ini layu

Bodohnya aku hingga tak mampu merayu

Padahal ku tau engkau pemalu

Yang juga menyimpan mau

Karena engkau juga ragu

Engkau yang pertama

Hadir dalam mimpiku

Engkau yang pertama

Menghias dinding jiwa

Engkau yang pertama

Mengontrak kamar hati

Engkau yang pertama

Nyalakan lampu kehidupan

Hanya kamu…

Karena kamu…

Untukmu aku ada

Kepadamu semua harapan itu

Kini Engkau tiada

Entah kemana dan dimana

Tiada kabar…tiada berita

Kemana harus ku mencari

Hingga kecewa menghampiri

Kutau engkau telah dimiliki

Keinginan terpalang deadlock

Biarlah rasa itu tetap kusimpan

Biarlah rasa itu tetap kupendam

Dan ‘kan slalu kukenang

Hingga akhir…

Lagi Gila Cinta

Saidna Zulfiqar bin Tahir

 

Lagi-lagi cinta yang kutuliskan

Lagi-lagi cinta yang kurasakan

Lagi-lagi cinta yang ku mainkan

Lagi-lagi cinta yang ku korbankan

 

Puisi Roman Picisan Tentang Rindu

 

Rindu Itu

Saidna Zulfiqar bin Tahir

 

Aku terseret dalam kerinduan

Di bawah ketekmu kutergilas

Roda kehidupan berkembangkempis

Menindih membuatku demam tulang

Tak berdaya dalam kemanyunan

Aku tersesat dalam kesendirian

Di bawah bayangmu kutersiksa

Terik matahari kian membakar keinginan

Mualkan isi kepala seakan rontok

Kusadar kutelah botak karenamu

 

Aku terjepit oleh keinginan

Di bawah perut berkata lain

Bisikan hati mencoba tegap

Pusingkan kepala atas – bawah

Yang sama botak berpeluh keringat

Menahan sesuatu yang lama tak tertahankan

 

Menyentuh sesuatu yang ingin disentuh

Di balik kekeramatan itu…

Aku terperangkap oleh nafsu

Di dalam penjara yang tak terkunci

Leluasa berlalu lalang sesuka hati

Tanpa penjagaan ketat

Di balik benda yang kadang ketat

Namun selalu tertekan

Oleh licinnya rayuan

Aku terendam oleh air sabun

 

Bagaikan cucian yang bisa menertawai

Seakan mencibir dan berkata

Cucian deh loee….!!!

Memang….

Namun itu hanyalah iblis

Yang mencoba memberikan kunci

Aku terkunci dalam kegelapan

Mencoba meraba pintu

Yang kudapati hanyalah kursi

Baca Juga:  Puisi Doa Untuk Ibu yang Sudah Meninggal, Merinding!

Tanpa harus melalui pemilihan umum

Kumampu bersandar sesaat

Beristigfar atas kesalahan

Yang tak mungkin engkau fahami

 

Catatan Kerinduan

Saidna Zulfiqar bin Tahir

Hari-harimu adalah hari-hariku

Yang slalu terperangkap kemacetan sang waktu

Antrean kendaraan yang

menghantarkan perasaanku

Terasa begitu lambat

Hingga kerinduan itu berteriak

Membakar suasana hati

Walau peluh berkristal ria

Jariku nakal memencet keypad

Lantumkan debaran kerinduan

Yang slalu haus

 

Tatkala melirik pajangan minuman dingin di pinggir jalan

Entah mengapa…?

Tak satupun rambu lalulintas yang mampu hentikan ingatanku akan bayangmu

Yang kerap gentayangan menakuti hari-hariku

Hingga kusadari ketikanku terhenti oleh suara halus

Membisikan kedamaian dalam kehancuran

 

Tak sedetikpun jariku terbesit bisikan

Dan memaksaku terus alirkan kerinduan

Dalam tulisan yang tak menentu

Karna kerinduan itu begitu cepat

Menggerogoti setiap pembuluh darah

Dan telah bersemayam bagaikan tumor yang siap merenggut nafasku

Kaulah kerinduanku yang slalu kurindukan….

GG (Gadysa & Gelbina)

 

Alpamu

Saidna Zulfiqar bin Tahir

 

Alpamu hanyutkan kepercayaan

Kebimbangan yang terseret arus zaman

Melilit ranting hari kerapuhan tanpa harapan

Meski hadiranmu terparafkan dalam absen keyakinan

Yang terciplak rapih dalam daftar putih tanpa tipe-x dan noda

Namun lembaran hati terbuka oleh sepoian lembut angin

Membisikan kenangan yang terkungkung penantian pasti tanpa kepastian

Hanyalah risau….

 

Yakinkan keraguan yang lama terpresentasikan

Di dalam ruang fikir tanpa kesimpulan

Kupanggil hati dan menanyakan alasan

Maupun surat keterangan izin sebagai penguat keyakinan

Adalah kepasrahan terhembus lirih dalam potret malaikat

Sebagai balasan kejujuran yang mengada dan menenangkan keadaan

Saat pembahasan materi seminar segera disimpulkan

Sumpalan kue berkotak dan aqua kan mengakhiri penat dahaga kejenuhan

Bercampur peluh yang terlukis dengan keringat lusuh kian bugar tanpa kerutan

Mungkinkah kehadiran itu mutlak diabsenkan

Sebagai wujud kedisiplinan hati temani raga yang tak pernah berolah raga

Apakah itu yang dinamakan formalitas dan dinamika

Rasa terkontaminasi formalin pengawet relasi dalam ikatan ikrar?

 

Ataukah bunga yang kadang mekar semerbak

dan kadang layu tersengat matahari sore

Mudah-mudahan semua mudah dan dimudahkan

Karna kunci jawaban ujian akhir telah tebocorkan

Sukseslah dengan kemampuan menjawab soal dari orang lain

Semoga itu adalah awal pembelajaran

 

Nyayian Jiwa

Saidna Zulfiqar bin Tahir

 

Kesendirian bertabur bintang

Menatap bulan penuh bimbang

Di balik awan tertutup ladang

Di atas bumi terus begadang

Kalut asa dalam bimbang

Kemelut hati tiada berimbang

Meski kata telah terdendang

Namun fakta terus menentang

Ketika tangan mulai terentang

Kaki ini ikut menendang

Rasa itu tiggal lah gendang

Bertabu ria sekedar lambang

Jari jemari terasa kejang

Jeruji hati semakin terpajang

Meski diri telah telanjang

Hasrat itu tataplah lajang

Mata ini mampu memandang

Mulut ini sulit berbincang

Kaku gerak serasa pincang

Rasa di dada kian mengguncang

Senyum ini terasa sumbang

 

Pendamkan rasa dalam gelombang

Badai datang terus menghadang

Semua itu kan slalu dikenang

Cinta itu tlah merajut benang

Rindu itu berbunga senang

Meski rasa selalu terkekang

Mungkin kita bukanlah sepasang

Saat suka engkau melayang

Saat duka engkau terbayang

Meski aku bukanlah abang

 

Namun engkaulah yang tersayang

Hati ini bukan keranjang

Kala tangis mulai berkumandang

 

Rintih nasib saat sembahyang

Menanti takdir datang menjelang

Sebelum nafas mengerang

Persiapkan diri untuk berdendang

 

Setia

Saidna Zulfiqar bin Tahir

Dulu aku setia

Karena si dia selalu setia

Dulu aku bersedia

Karena si dia masih belia

Dulu aku aku ceria

Karena si dia sangat mulia

Baca Juga:  Aku Dimana (Serial Puisi Penyejuk Hati Bag 1)

Kini aku bahagia

Karena si dia tetap setia

Kini aku bersuka-ria

Karena kami selalu se-iya

 

Tak sedetikpun ada niat menduakanmu

Tak sehelai kain pun menghalangi ingatanku padamu

Tak seorangpun yang dapat menggantikanmu

Karena cintamu adalah nafasku

Karena dirimu adalah diriku Kami satu yang sengaja disatukan

Dalam meraih Ridha-Mu

 

Puisi Roman Picisan Tentang Sahabat

Sahabat

Saidna Zulfiqar bin Tahir

 

Sahabat

Kau begitu dekat

Karena kita sederajat

Saat hidupku meningkat

Senyummu kian berat

 

Ku kira kau turut bahagia dan melompat

Gak taunya kau bangsat

Pandai lidahmu bersilat

Karena kau penjilat

Fitnah kau rekat

Actingmu merangkul erat

Percayaku berkarat

Milikku pun kau sikat

Pacarku minggat

Karena kau berkhianat

Alasanmu singkat

Seakan tak berserat

Ku tau perasaanmu dipantat

Hingga kau begitu bejat

Jalanmu terlalu sesat

 

Bagimu tak ada sesuatupun yang keramat

Kini kau terjerat

Mulai kembali merapat

Istrimu berangkat

Kaupun melarat

Orang tuamu wafat

Menunggumu di hari kiamat

 

 

Sahabat

Karya: Anonim

Hai Sahabatku…

Sudah lama ku tak mendengar suara indah mu…

Suara yang sudah lama tak kudengar kembali…

Suara yang dulu pernah menjadi motivasi hidup ku…

 

Bisa kah aku melihat mata indah mu lagi?

Mata yang membawaku ke alam yang tentram dan damai…

Disaat ku melihat mata mu, seakan ku merasakan kebahagiaan

Aku rindu segala nya tentang diri mu

 

Kita yang dulu selalu bersama

Kita yang dulu saling berbagi tawa dan duka

Kita yang dulu saling menjaga rahasia hati

Apakah kau juga rindu padaku?

 

Seakan aku harus menggapai langit ketujuh

Jauh sekali

Mungkinkah aku bisa bertemu dengan mu lagi?

Bisakah kita kembali sedia kala?

 

Menyalurkan kebahagiaan satu sama lain

Berbagi beban hidup tanpa ada rasa sungkan

Akankah keajaiban datang kepada ku?

Kuharap Tuhan mendengar doa ku

 

Puisi Sahabat

Karya: Anonim

Gumpalan awan itu seolah berkisah tentangkita
Langit nan biru adalah suasana bahagia dan ceria kita
Sementara, hujan deras itu bagai air mata
Mentari yang cerah menjadi wajah kita semua

Warna-warni pelangi seolah jalan warna perjalanan kita
Sebagai penanda hujan reda
Kala perbedaan, perselisihan
Berubah menjadi keindahan

Langit menjadi beribu bahasa
Kadang menyangkal dan kadang mengiyakan
Kadang menyedihkan dan kadang menggembirakan
Itupun tak bisa lagi kita sangkal

Dunia memang begitu adanya
Pun tentang persahabatan
Namun, toh kita tetap bersama
Sebagai kawan bahkan saudara

 

Terkenang Sahabat

Karya: Hariyanti Saragih

Telah kita lewati. . .
Masa-masa indah bersama
Mencucurkan air mata bersama
Menanggung gelak tawa bersama

Kini tiada lagi. . .
Tawa canda penuh riang
Yang selalu menghiasi hari ku

Kau jauh disana
Begitu mudah menggantikan ku
Tapi aku disini
Tak dapat mencari sosok seperti mu

Aku tak berharap
Menjadi yang terpenting di hidup mu
Aku hanya berharap
Jika suatu hari kau mendengar nama ku
Kau akan berkata “Dia sahabat ku”

 

 

Slamat Jalan

Saidna Zulfiqar bin Tahir (Dedicated to Jazuly Hasan)

 

Sekian lama tiada kabar

Berita tentang dirimu

Sekian tahun kau menghilang

Bagaikan ditelan waktu

Tiada seorangpun tau

Dimanakah engkau kini

Hingga tiba suatu waktu

Duka datang mengusikku

Slamat jalan kawan smoga engkau tenang

 

Slamat jalan teman dirimu ‘kan dikenang

Sekian tahun kita bersama

Penuh canda dan penuh suka

Secepat itu berakhir

Oleh duka yang tak terduga

Hanya doa ku panjatkan

Semoga engkau bahagia

Dalam kasih dan rahmat-Nya

Surga itu ‘kan jadi milikmu

Slamat jalan kawan smoga engkau tenang

Baca Juga:  Rantau (Serial Puisi Pengobat Rindu Di Kala Jauh)

 

Slamat jalan teman dirimu ‘kan dikenang

Slalu bersama dalam kenangan

Menitip masa depan

 

Puisi Roman Picisan Tentang Kehidupan

Pasca Konflik

Saidna Zulfiqar bin Tahir

 

Enaknya jadi mahasiswa

Pastinya banyak kawan dan lawan

Semua harus dijalani

 

Karna hidup adalah tantangan

Yang harus dihadapi

Dijalani dan dimaknai

Makna di balik makna

Sense di balik sensasi

Kusadar…..

Ternyata aku masih kurang ajar

Butuh banyak diajar

Harusnya sekalian dihajar

Biar semakin sadar

Agar hidup bermodal kepintaran

Berbau kelicikan berlogika

Agar tetap survive

Sebagai pria jelek yang intelek

Aku orang kecil

Bertubuh kecil

Ingin menjadi besar

 

Paling tidak menjadi guru besar

Paling iya jadi duta besar

Sebagai target dalam hidup

Yang harus kuraih

Semoga…dan semoga Amien…

 

Jenuh

Saidna Zulfiqar bin Tahir

 

Hati ini lebih berhati-hati

Mudah terbolak-balik

Mondar-mandir bagaikan setrika

Telat sedikit hangus

Gosong bercampur kesal

Tertutupi hitam bekas terbakar

Gelap dan semakin menjadi angker

Seakan penunggu itu berpesta

Menari di setiap sela kamar ku

Menggelitik setiap tubuhku

 

Mengganggu hari-hari

Tiada mampu berkonsentrasi

Hingga bosan datang memanggil

Semua harapan dan impian lenyap seketika

Harapkan sesuatu datang mengusik

Namun kebrisikan semakin nyaring

Gendang telinga terasa bergema

Alarm tanda bencana alam

Bersiaplah untuk mengungsi

Hati itu telah mencair

Tiada bekas yang mengesankan

Cinta pamit tanpa kompromi

Karena manis menjadi pahit

Cinta itu hanyalah keinginan sesaat

Sesaat senang sesaat melayang

 

Beribu saat kesal, saat itupun menyesal

Mengapa semua ini dijalani

Sedangkan semua jalan terkunci

Mengapa masih dipertahankan

Sedangkan polisi-polisi di hati telah cuti

Namun itulah harapan

Tak mungkin tercapai 100 persen

Jika tercapai maka bukanlah harapan

Berhentilah berharap

Berhentilah bersungut

Karna kejenuhan hanyalah rasa

Yang timbul karena harapan

Dan hilang bersama impian

Berubah menjadi hantu

Selalu menghantuiku

Paksakan sesuatu dalam permintaan

Hingga bosan melihatmu

Engkaulah sejatinya hantu

Maafkan bila aku bosan diganggu

Maafkan bila kau kutinggalkan

Putus segera diputuskan

Semoga harapan itu masih ada

 

Meski kejenuhan merongrong kamar ku Semangat!!!

Selagi mimpi dan cita menanti Semoga impian kan jadi nyata

 

Racun VS Madu

Saidna Zulfiqar bin Tahir

 

Andai kesendirian adalah racun

Hanya engkaulah obatnya

Andai kebersamaan adalah madu

Akulah yang tolol mengabaikanmu

Kuracuni kesendirianku

Hanya dengan obat sementara

Kumadui kebersamaanmu

Dengan ketololan menduakanmu

Andai ketiadaanmu adalah racun

Hanya Engkaulah keyakinanku

Andai kehadiranmu madu

 

Akulah yang alpa dalam pertemuan itu

Kuracuni ketiadaanmu di saat adamu

Murtadkan jaminan keyakinan

Memadu kasih dalam ketiadaan

Lupa akan posisi dan status

Andai kematian adalah racun

Hanya Engkaulah yang meracuniku

Andai kehidupan adalah madu

Hanya akulah yang hidup selamanya

Memadu kasih bersama

 

Dalam dunia pengandaian semu

Racunilah aku dengan cintamu

Madukanlah aku di dalam lebahmu

Agar tiada lagi mengandai-andai

Hadapi kenyataan yang pahit

Sebagai obat kekekalan kasih

Dalam keabadian yang nyata

Andai tulisan ini adalah racun

Hanya aku yang gak mau menjadi Romeo

 

Andai tulisan ini adalah madu

Hanya engkaulah induknya madu

Yang siap menyengat jari ini

Untuk hentikan semua pengandaian

Sebelum lahir pengandaian baru

Demikian, semoga puisi ini bisa menghibur kalian!

You May Also Like

About the Author: haidunia

Baca artikel terbaru dan menarik lainnya hanya di https://www.haidunia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *