Supervisi Pendidikan; Pengertian, Sasaran, Tujuan, Prinsip, Teknik

supervisi pendidikan

Supervisi Pendidikan – Artikel ini akan mencoba membahas beberapa hal yang berhubungan dengan pelaksanaan supervisi pada unit sekolah. Antara lain mengenai sasaran supervisi, tujuan, prinsip, dan teknik-teknik dalam melaksanakan supervisi.

Namun sebelum jauh membahas, ada baiknya kita pahami terlebih dahulu mengenai pengertian supervisi pendidikan dengan merujuk kepada pendapat para ahli.

Pengertian Supervisi pendidikan

Secara umum istilah supervisi berarti mengamati, mengawasi atau membimbing, dan sekaligus memberikan dorongan agar kegiatan-kegiatan yang sedang ditinjau tersebut dapat ditingkatkan secara kualitas pelaksanaannya.

Namun alangkah baiknya perlu kita tinjau secara bahasa dan apa pendapat para ahli mengenai pengertian supervisi pendidikan.

Pengertian Secara Bahasa

Supervisi secara etimologis berasal dari bahasa inggris “to supervise” atau mengawasi. Menurut Merriam Webster’s Colligate Dictionary disebutkan bahwa supervisi merupakan “A critical watching and directing”.

Beberapa sumber lainnya menyatakan bahwa supervisi berasal dari dua kata, yaitu “superior” dan “vision”.

Hasil analisis menunjukkan bahwa kepala sekolah digambarkan sebagai seorang “expert” dan “superior” , sedangkan guru digambarkan sebagai orang yang memerlukan kepala sekolah.

Lalu bagaimana pengertian menurut istilah. Mari kita simak beberapa pendapat ahli berikut ini:

Purwanto (2000): 

Supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan secara efektif.

Manullang (2005):

Supervisi merupakan proses untuk menerapkan pekerjaan apa yang sudah dilaksanakan, menilainya dan bila perlu mengkoreksi dengan maksud supaya pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana semula.

Donii Juni Priansa

Supervisi merupakan usaha memberi pelayanan agar guru menjadi lebih profesional dalam menjalankan tugas melayani peserta didik.

Purwanto (2010):

Supervisi adalah segala bantuan dari para pemimpin sekolah,  yang  tertuju kepada perkembangan kepemimpinan guru-guru dan personel sekolah lainnya di dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan.

la berupa dorongan, bimbingan, dan kesempatan bagi pertumbuhan keahlian dan kecakapan guru-guru, seperti bimbingan dalam usaha dan pelaksanaan pembaharuan-pembaharuan dalam pendidikan dan pengajaran, pemilihan alat-alat  pelajaran  dan  metode-metode mengajar yang lebih  baik cara-cara penilaian yang sistematis terhadap fase  seluruh  proses pengajaran, dan sebagainya.

Dengan kata lain, supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif.

Suhardan (2010)

Supervisi merupakan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan teknis edukatif di sekolah, bukan sekedar pengawasan fisik terhadap fisik material.

Supervisi merupakan pengawasan terhadap kegiatan akademik yang berupa proses belajar mengajar, pengawasan terhadap guru dalam mengajar, pengawasan terhadap situasi yang menyebabkannya.

Aktivitas dilakukan dengan mengidentifikasi kelemahan-kelemahan pembelajaran untuk diperbaiki, apa yang menjadi penyebabnya dan mengapa guru tidak berhasil melaksanakan tugasnya baik.

Berdasarkan hal tersebut kemudian diadakan tindak lanjut yang berupa perbaikan dalam bentuk pembinaan.

Ametembun (2007):

Supervisi pendidikan menurut Ametembun adalah pembinaan kearah perbaikan situasi pendidikan atau peningkatan mutu pendidikan.

Sementara pendidikan diartikan oleh UU Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 dan 3 sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, dan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dari beberapa pengertian diatas, maka secara sederhana bisa kita ringkas, bahwa supervisi pendidikan merupakan upaya kepala sekolah dalam pembinaan guru untuk meningkatkan mutu pendidikan dan pengajaran di sekolah.

Cakupan Bentuk Supervisi

Kegiatan supervisi mencakup penentuan kondisi-kondisi atau syarat-syarat personel maupun material yang diperlukan untuk terciptanya situasi  belajar-mengajar  yang efektif, dan usaha memenuhi syarat-syarat itu.

Menurut Suhardan (2010), jika ditinjau dari objek atau sasaran supervisi, maka supervisi pendidikan bisa bisa dibedakan menjadi 3 macam:

1. Supervisi Akademik

Supervisor lebih menitikberatkan pengamatannya pada masalah-masalah akademik, yaitu pada hal-hal yang berhubungan langsung dalam proses kegiatan belajar mengajar.

2. Supervisi Administrasi

Supervisor lebih menitikberatkan pengamatannya pada aspek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung kelancaran kegiatan pembelajaran.

3. Supervisi Lembaga

Supervisor menitikberatkan pengamatannya pada pada aspek-aspek yang berada di sentral sekolah atau madrasah. Jika supervisi akademik dimaksudkan untuk meningkatkan pembelajaran, maka supervisi lembaga dimaksudkan untuk meningkatkan nama baik madrasah atau kinerja madrasah.

Tujuan Supervisi Pendidikan

Tujuan supervisi dalam lingkup pendidikan, dalam hal ini adalah unit sekolah,  adalah untuk suatu perbaikan dan perkembangan proses belajar mengajar secara menyeluruh. Oleh karenanya, supervisi buka sekadar untuk mengoreksi kualitas mengajar seorang, tetapi juga sebagai pembinaan profesinya secara berkelanjutan.

Selain itu supervisi ditujukan terhadap;

  • fasilitas penunjang kelancaran proses belajar mengajar
  • peningkatan mutu pengetahuan dan keterampilan guru
  • pemberian bimbingan dan pembinaan dalam hal implementasi kurikulum
  • pemilihan dan penggunaan metode mengajar
  • media/alat pelajaran
  • prosedur dan teknik evaluasi pengajaran.

Sahertian (2008), menjelaskan bahwa tujuan tujuan supervisi ialah memberikan layanan dan bantuan untuk meningkatkan kualitas mengajar guru di kelas yang pada gilirannya untuk meningkatkan kualitas belajar siswa.

Dengan demikian jelas bahwa tujuan supervisi ialah memberikan layanan dan bantuan untuk meningkatkan kualitas belajar siswa. Namun tidak terbatas hanya pada memperbaiki kemampuan mengajar, tetapi juga untuk mengembangkan potensi guru secara profesional.

Mengenai tujuan supervisi juga disampaikan oleh Pidarta (2009), yaitu sebagai berikut:

  1. membantu menciptakan lulusan optimal dalam kuantitas dan kualitas.
  2. membantu mengembangkan pribadi, kompetensi,dan sosialnya.
  3. membantu kepala sekolah mengembangkan program yang sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.
  4. ikut meningkatkan kerjasama dengan masyarakat atau komite sekolah.
Baca Juga:  Contoh Jujur Dalam Perbuatan atau Amaliah yang Inspiratif

Dari pendapat-pendapat ahli di atas, tujuan supervisi pendidikan bisa kita rinci secara lebih lebih konkrit lagi, yaitu sebagai berikut:

  • Membantu guru melihat dengan jelas tujuan-tujuan pendidikan
  • Membantu guru dalam membimbing pengalaman belajar murid.
  • Membantu guru dalam menggunakan alat pelajaran modern.
  • Membantu guru dalam menilai kemajuan murid-murid dan hasil pekerjaan guru
  • Membantu guru dalam menggunakan sumber-sumber pengalaman
  • Membantu guru dalam memenuhi kebutuhan belajar
  • Membantu guru dalam membina reaksi mental atau moral kerja guru dalam rangka pertumbuhan pribadi dan jabatan
  • Membantu guru baru di sekolah sehingga mereka merasa gembira dengan tugas yang diembannya.
  • Membantu guru agar lebih mudah mengadakan penyesuaian terhadap masyarakat dan cara-cara menggunakan sumber-sumber yang berasal dari masyarakat.
  • Membantu guru-guru agar waktu dan tenaganya tercurahkan sepenuhnya dalam pembinaan

Jika kita ringkas, maka tujuan diadakannya supervisi adalah untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik dengan cara membantu guru-guru dalam meningkatkan kinerjanya dalam rangka pembentukan pribadi anak secara maksimal.

Fungsi Supervisi

Fungsi pengawasan atau supervisi dalam pendidikan bukan hanya sekadar kontrol melihat apakah segala  kegiatan  telah dilaksanakan sesuai dengan rencana atau  program  yang  telah digariskan, tetapi lebih dari itu.

Sahertian (2009) menjelaskan bahwa fungsi utama supervisi pendidikan adalah ditujukan untuk perbaikan dengan cara meningkatkan kualitas situasi belajar mengajar. Sahertian kemudian merinci fungsi dari supervisi pendidikan menjadi 8 fungsi utama, yaitu:

  1. Mengkoordinir semua usaha
  2. Memperlengkap kepemimpinan
  3. Memperluas pengalaman guru-guru.
  4. Menstimulasi usaha-usaha yang
  5. Memberi fasilitas dan penilaian yang terus-menerus.
  6. Menganalisis situasi belajar-mengajar.
  7. Memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada setiap anggota staf
  8. Memberikan wawasan yang lebih luas dan terintegrasi dalam merumuskan tujuan-tujuan pendidikan dan meningkatkan kemampuan mengajar guru-guru.

Ametembun (2007) juga ikut merinci fungsi supervisi pendidikan, yaitu menjadi 4 fungsi utama sebagai berikut:

1. Penelitian

Yaitu fungsi yang harus dapat mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi.

2. Penilaian

Fungsi penilaian adalah untuk mengukur tingkat kemajuan yang diinginkan, seberapa besar yang telah dicapai, dan penilaian ini dilakukan dengan berbagai cara seperti tes, penetapan standar, penilaian kemajuan belajar siswa, melihat perkembangan hasil penilaian sekolah, serta prosedur lain yang berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan.

3. Perbaikan

Fungsi perbaikan adalah sebagai usaha untuk mendorong guru baik secara perseorangan maupun kelompok agar mereka mau melakukan berbagai perbaikan dalam menjalankan tugas mereka.

Perbaikan ini dapat dilakukan dengan bimbingan, yaitu dengan cara membangkitkan kemauan, memberi semangat, mengarahkan dan merangsang untuk melakukan percobaan, serta membantu menerapkan sebuah prosedur mengajar yang baru.

4. Pembinaan

Fungsi pembinaan merupakan salah satu usaha untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi, yaitu dengan melakukan pembinaan atau pelatihan kepada guru-guru tentang cara-cara baru dalam melaksanakan suatu proses pembelajaran.

Pembinaan ini dapat dilakukan dengan cara demonstrasi mengajar, workshop, seminar, observasi, konferensi individual dan kelompok, serta kunjungan supervisi.

Peranan Supervisi Pendidikan

Peranan supervisi pendidikan yang dimaksud di sini adalah peran dari kepala sekolah sebagai seorang supervisor dalam pelaksanaan supervisi. Jika dilihat dari fungsi supervisi, yaitu membantu, memberi dan mengajak, maka peran supervisor menurut beberapa ahli adalah sebagai:

Menurut Sahertian (2009): 

1. Koordinator

Sebagai koordinator ia dapat mengkoordinasi program belajar mengajar, tugas-tugas anggota staf berbagai kegiatan berbeda-beda diantara guru-guru.

2. Konsultan

Sebagai konsultan ia dapat memberi bantuan yaitu bersama mengkonsultasikan masalah yang dialami guru baik secara individual maupun kelompok.

3. Pemimpin Kelompok

Sebagai pemimpin kelompok ia dapat memimpin sejumlah staf guru dalam mengembangkan potensi kelompok pada saat mengembangkan kurikulum, materi pembelajaran dan kebutuhan professional guru-guru secara bersama.

4. Evaluator

Sebagai evaluator ia dapat membantu guru-guru dalam menilai hasil dan proses belajar mengajar.

Menurut Ametembun (2007): 

a. Supervisor sebagai Peneliti (researcher), yaitu meneliti bagaimana keadaan situasi pendidikan yang sebenarnya. Keadaan situasi pendidikan dapat diketahui dari kesimpulan hasil-hasil pengolahan yang diperoleh

b. Supervisor sebagai penilai(evaluator), yaitu menilai bagaimana keadaan suatu situasi

c. Supervisor sebagai pemerbaik (improver), yaitu mengadakan perbaikan terhadap situasi .

d. Supervisor pengembang (developer), yaitu mengembangkan atau meningkatkan situasi ,agar keadaan yang sudah baik menjadi lebih baik.

Prinsip-Prinsip Supervisi Pendidikan

Pelaksanaan supervisi oleh kepala sekolah perlu memperhatikan prinsip-prinsip supervisi agar prosesnya bisa berjalan lancar dan sesuai tujuan, serta tidak menimbulkan dampak psikologis yang kurang positif bagi guru yang telah disupervisi.

Menurut Sahertian (2009), prinsip-prinsip supervisi antara lain sebagai berikut:

a. Prinsip Ilmiah

Prinsip ilmiah mengandung ciri-ciri sebagai berikut;

1) Kegiatan supervisi dilaksanakan berdasarkan data obyektif yang diperoleh dalam kenyataan pelaksanaan proses belajar

2) Untuk memperoleh data perlu diterapkan alat perekam data seperti angket, observasi, percakapan pribadi, dan

3) Setiap kegiatan supervisi dilaksanakan secara sistematis

b. Prinsip Demokratis

Servis dan bantuan yang diberikan kepada guru berdasarkan hubungan kemanusiaan yang akrab, dan kehangatan sehingga guru-guru merasa aman untuk mengembangkan tugasnya. Demokratis mengandung makna menjunjung tinggi harga diri dan martabat guru, bukan berdasarkan atasan dan bawahan.

c. Prinsip Kerjasama

Mengembangkan usaha bersama atau menurut istilah supervisi “ sharing of idea, sharing of experience ” memberi support mendorong, menstimulasi guru, sehingga mereka merasa tumbuh bersama.

d. Prinsip konstruktif dan kreatif

Setiap guru akan merasa termotivasi dalam mengembangkan potensi kreativitas, tentunya jika proses supervisi mampu menciptakan suasana kerja yang menyenangkan. dan bukan sebaliknya dilakukan melalui cara-cara menakutkan.

Adapun menurut Purwanto (2010), prinsip-prinsip supervisi adalah sebagai berikut:

a. Supervisi hendaknya bersifat konstruktif dan kreatif, yaitu pada yang dibimbing dan diawasi harus dapat menimbulkan dorongan untuk bekerja.

Baca Juga:  Perspektif Dua Sisi : Kabinet Indonesia Maju

b. Supervisi harus didasarkan atas keadaan dan kenyataan yang sebenar- benarnya ( realistis, mudah dilaksanakan).

c. Supervisi harus sederhana dan informal

d. Supervisi harus dapat memberikan perasaan aman kepada guru-guru dan pegawai-pegawai sekolah yang disupervisi

e. Supervisi harus didasarkan atas hubungan professional, bukan atas dasar hubungan

f. Supervisi harus selalu memperhitungkan kesanggupan, sikap, dan mungkin prasangka guru-guru dan pegawai.

g. Supervisi tidak bersifat mendesak (otoriter) karena dapat menimbulkan perasaan gelisah atau bahkan antipati dari guru-guru.

h. Supervisi tidak boleh didasarkan atas kekuasaan pangkat, kedudukan atau kekuasaan jabatan.

i. Supervisi tidak boleh bersifat mencari-cari kesalahan dan kelemahan

j. Supervisi tidak dapat terlalu cepat mengharapkan hasil, dan tidak boleh lekas merasa puas

k. Supervisi hendaknya juga bersifat preventif, korektif, dan kooperatif.

Preventif berarti berusaha mencegah jangan sampai timbul hal-hal yang negatif, korektif yaitu memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah di perbuat. Adapun kooperatif maksudnya adalah bekerjasama memperbaiki hal yang ditemukan dalam proses supervisi.

Prinsip-prinsip supervisi juga dikemukakan oleh Dodd dalam buku Panduan Supervisi Akademik Dirjen PMPTK (2010). Dood merinci lebih detail lagi mengenai sejumlah prinsip dalam supervisi akademik, yaitu:

a. Praktis; berkaitan dengan kemudahan dalam melaksanakan kegiatan supervisi sesuai dengan kondisi sekolah.

b. Sistematis; berkaitan dengan perencanaan program supervisi yang matang dan tujuan pembelajaran.

c. Objektif ; berkaitan dengan masukan sesuai aspek-aspek instrumen yang akan digunakan dalam supervisi.

d. Realistis; berkaitan dengan kenyataan sebenarnya dalam melakukan supervisi.

e. Antisipatif; berkaitan dengan kemampuan dalam menghadapi masalah- masalah yang mungkin akan terjadi.

f. Konstruktif; berkaitan dengan pengembangan kreativitas dan inovasi guru dalam mengembangkan proses pembelajaran.

g. Kooperatif ; berkaitan dengan kerja sama yang baik antara supervisor dan guru dalam mengembangkan pembelajaran.

h. Kekeluargaan; berkaitan dengan pertimbangan saling asah,asih, dan asuh dalam mengembangkan pembelajaran

j. Demokrasi; berkaitan dengan pemahaman bahwa supervisor tidak boleh mendominasi pelaksanaan supervisi akademik.

k. Aktif; berkaitan dengan keaktifan guru dan supervisor untuk berpartisipasi

l. Humanis; berkaitan dengan kemampuan guru menciptakan hubungan kemanusiaan yang harmonis, terbuka,jujur, ajeg, sabar, antusias,dan penuh humor.

m. Berkesinambungan; berkaitan dengan kesinambungan kegiatan supervisi akademik oleh kepala sekolah

o. Terpadu; berkaitan dengan kesatuan dengan program pendidikan

p. Komprehensif; berkaitan dengan pemenuhan ketiga tujuan supervisi akademik.

Teknik-teknik Supervisi Pendidikan

Usaha untuk membantu meningkatkan dan mengembangkan potensi sumberdaya guru melalui supervisi dapat dilaksanakan dengan berbagai alat dan teknik. Umumnya alat dan teknik supervisi dapat dibedakan dalam dua macam, yaitu:

  1. Teknik yang bersifat individual; dilaksanakan untuk seorang guru secara individual
  2. Teknik yang bersifat kelompok; teknik yang bersifat kelompok dilakukan untuk melayani lebih dari satu orang.

Penjelasan mengenai kedua teknik di atas, bisa kita rinci sebagai berikut:

1. Teknik yang Bersifat Individual

a. Berkunjung ke kelas

Secara teknis, kepala sekolah atau supervisor berkunjung ke kelas untuk melihat cara guru mengajar. Tujuannya adalah memperoleh data mengenai keadaan yang sebenarnya saat KBM. Data tersebut selanjutnya digunakan sebagai bahan evaluasi bersama.

Dalam hal ini kepala sekolah akan memberikan rekomendasi solusi, jika hasil pengamatan mendapati adanya kesulitan guru dalam menyampaikan materi yang diampunya. Selain itu, fungsi supervisi dengan berkunjung langsung ke kelas adalah sebagai alat untuk mendorong guru agar meningkatkan kinerjanya saat di kelas.

Selain itu, kunjungan kelas ini juga dapat memberikan kesempatan guru-guru untuk mengungkap pengalamannya saat forum pembinaan bersama. Sekaligus sebagai usaha untuk memberikan rasa mampu pada guru-guru .

b. Observasi Kelas

Melalui observasi kelas, kepala sekolah atau supervisor dapat mengobservasi situasi dan kondisi tempat KBM. Observasi ini bisa juga dilakukan ketika proses KBM sedang berlangsung ataupun tsetelah KBM selesai. Penjelasannya sebagai berikut:

1) Observasi Langsung; kepala sekolah menggunakan alat observasi dapat mencatat yang dilihat saat guru sedang mengajar.

2) Observasi tidak langsung; orang yang diobservasi dapat dibatasi oleh sesuatu dimana guru dan murid-murid tidak mengetahuinya.

Tujuan observasi kelas ini adalah untuk mendapatkan data yang obyektif untuk dianalisis dan digunakan sebagai bahan pembinaan terhadap kendala-kendala yang dihadapi guru. Sedangkan bagi guru, data hasil observasi tersebut dapat membantu untuk mengubah cara-cara mengajar ke arah yang baik.

Bagi murid sudah tentu akan menimbulkan pengaruh yang positif terhadap kemajuan belajar mereka.

c. Percakapan Pribadi

Secara teknis, kepala sekolah sebagai supervisor akan mengajak guru yang akan disupervisi untuk berdiskusi untuk  membantu guru dalam memecahkan problem-problem pribadi yang berhubungan dengan jabatannya mengajar.

Tujuannya dari percakapan pribadi ini tidak lain adalah untuk memberikan bantuan dan arahan kepada guru dalam memecahkan kesulitan-kesulitan saat KBM, juga untuk menghilangkan dan menghindari segala prasangka antar SDM di lingkungan sekolah.

d. Inter-Visitasi

Yang dimaksud inter-visitasi adalah saling mengunjungi antara guru yang satu dengan guru yang lain dalam mengajar. Tujuannya adalah untuk memberikan kesempatan mengamati rekan lain yang sedang melakukan pembelajaran.

Sehingga guru yang berkunjung memperoleh pengalaman atau keterampilan tentang teknik dan metode mengajar, serta berguna bagi guru-guru yang menghadapi kesulitan tertentu dalam memberikan motivasi terhadap siswanya.

e. Menyeleksi sumber materi

Menyeleksi sumber belajar juga merupakan bagian dari kegiatan supervisi. Hal ini harus dilakukan sebelum proses KBM berjalan, baik oleh pihak supervisor maupun guru yang mengampu pelajaran tersebut.

Tujuannya adalah agar aa yang akan disampaikan didalam kelas sesuai dengan kurikulum dan tujuan pendidikan.

f. Menilai Diri

Secara teknis, guru bisa menilai kemampuan sendiri dalam proses KBM. Teknik ini mungkin sulit untuk mendapatkan data yang obyektif namun tetap harus dilakukan. Hal ini penting sebagai refleksi diri terhadap kemampuan mengajar masing-masing guru.

2. Teknik yang Bersifat Kelompok

Teknik kelompok menurut Sahertian (2009) adalah teknik yang dilaksanakan oleh supervisor terhadap sejumlah guru dalam satu kelompok. Salah satu tujuannya adalah untuk menyelesaikan permasalahan yang relatif sama dihadapi oleh guru dalam kelompok guru tersebut.

Baca Juga:  Drama di Balik Konflik Libia-Italia 1911

Penggunaan teknik ini dinilai lebih efisien untuk menyelesaikan permasalahan yang sama dihadapi oleh para guru. Teknik-teknik yang bersifat kelompok adalah sebagai berikut;

a. Pertemuan Orientasi Guru Baru

Pertemuan orientasi guru baru dimaksudkan agar guru-guru yang baru bergabung segera dapat menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi di sekolah. Pertemuan ini tetap dihadiri oleh semua SDM dalam sekolah tersebut.

Dalam pertemuan tersebut guru-guru akan mendengarkan penjelasan dari kepala sekolah mengenai beberapa cakupan yang ada dalam sekolah, terutama adalah program-program yang telah direncanakan. Dalam forum ini juga dibuka tanya jawab untuk mendapatkan ide dan saran dari guru yang baru bergabung.

b. Rapat guru

Menurut Rivai (1982), rapat guru adalah suatu pertemuan antara semua guru untuk membicarakan penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi guru yang dipimpin oleh kepala sekolah.  Beberapa tujuan dari rapat guru antara lain:

  • menyatakan pandangan guru-guru tentang tugas dan fungsi sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan.
  • mendorong guru-guru agar menerima tujuan tersebut yang disertai dengan sejumlah penugasan kepada guru. Serta agar seluruh tanggung jawab tersebut dilaksanakan dengan baik melalui strategi dan menciptakan situasi sekolah yang kondusif.

c.  Studi Antar Sekelompok guru

Guru-guru dalam satu mata pelajaran tertentu berdiskusi untuk membahas permasalahan dalam menyampaikan materi. Melalui studi kelompok ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan terhadap materi ajar dan dapat menyelesaikan problematika KBM  pada mata pelajaran tersebut.

d. Diskusi

Diskusi merupakan pertukaran pendapat tentang suatu masalah untuk dipecahkan bersama. Tujuan utamanya adalah mengembangkan keterampilan anggota dalam mengatasi masalah dengan jalan bertukar pikiran.

e. Seminar

Dalam seminar dibahas suatu masalah yang disampaikan oleh pemakalah, dan diberikan pada partisipan untuk menanggapi masalah yang dibahas tersebut. Masalah yang dimaksud disini tentunya dalam lingkup proses KBM sehar -hari

f.  Diskusi Panel

Diskusi panel merupakan suatu bentuk diskusi, yang dipentaskan di hadapan sejumlah partisipan dan dihadiri oleh beberapa orang panelis yang dianggap ahli dalam bidang yang didiskusikan.

g.  Buletin Supervisi

Para pakar ataupun seseorang yang membagikan pengalamannya dalam bentuk tulisan sebagai sarana berbagi pengalaman maupun studi kasus untuk meningkatkan kemampuan ara guru dalam pembelajaran.

h. Demonstrasi Mengajar

Melalui teknik ini, supervisor memberikan penjelasan mengenai cara-cara mengajar yang baik. Jika diperlukan supervisor langsung mempraktikkan bagaimana teknik mengajar tersebut di depan sejumlah guru secara microteaching.

i.  Perpustakaan jabatan

Dalam suatu sekolah disediakan suatu ruangan khusus berisi buku-buku sumber, berupa buku-buku yang berkenaan dengan bidang studi, brosur, majalah dan bahan lainnya yang sudah diseleksi.

Dengan adanya perpustakaan ini dapat memperkaya pengetahuan dan pengalaman guru sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang dalam profesinya.

j.  Field Trip/ Study Banding

Guru-guru mengadakan perjalanan atau berkunjung ke sekolah yang lebih maju dengan tujuan belajar dari sekolah tersebut. Dalam pelaksanaannya, guru-guru harus berperan aktif dalam mempelajari apa yang ditemukan di sekolah tujuan.

Sasaran atau Ruang Lingkup Supervisi Pendidikan

Sasaran atau ruang lingkup yang dimaksud disini adalah wilayah, daerah atau tepatnya sasaran yang menjadi objek untuk dilakukan supervisi. Perlu diingat kembali bahwa kegiatan pokok supervisi bertujuan untuk melakukan pembinaan dan pengembangan kepada seluruh staf sekolah khususnya guru.

Menurut Olive dalam Sahertian (2000:19), sasaran dari pelaksanaan supervisi adalah;

  1. Pertama, mengembangkan kurikulum yang sedang dilaksanakan sekolah.
  2. Kedua, meningkatkan proses pembelajaran di sekolah.
  3. Ketiga, mengembangkan seluruh staf di sekolah.

Lebih rinci lagi, Arikunto (2004:33) mengidentifikasi sasaran supervisi ditinjau dari objek yang akan disupervisi, menjadi tiga kategori:

Pertama, supervisi akademik

Supervisi akademik menitik beratkan pada pengamatan supervisor pada masalah-masalah akademik, yaitu hal-hal yang langsung berada dalam lingkungan kegiatan pembelajaran pada waktu siswa sedang dalam proses mempelajari sesuatu.

Kedua, supervisi administrasi

Supervisi administrasi, yang menitik beratkan pengamatan supervisor pada aspek-aspek administrasi yang berfungsi sebagai pendukung dan pelancar terlaksananya pembelajaran

Ketiga, supervisi lembaga

Supervisi lembaga, yang menebarkan atau menyebarkan objek pengamatan supervisor pada aspek-aspek yang berada di lingkungan sekolah.

Jika supervisi akademik dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran maka supervisi lembaga dimaksudkan untuk meningkatkan nama baik sekolah atau kinerja sekolah secara keseluruhan.

sasaran supervisi pendidikan

Pada prinsipnya supervisi dengan segala usahanya diarahkan pada pembinaan dan pengembangan aspek-aspek yang terdapat dalam situasi pembelajaran, sehingga akan tercipta suatu situasi yang dapat menunjang tujuan pembelajaran di sekolah.

Pelaksanaan Supervisi

Pelaksanaan supervisi internal di sebuah sekolah bisa dirinci tahapanya sebagai berikut:

1. Perencanaan, meliputi:

a. Analisis kebutuhan supervisi

b. Penyusunan program supervisi

c. Penyusunan standar acuan dalam supervisi

2. Pengorganisasian, meliputi

a. Pembentukan tim pelaksana supervisi

b. Penyusunan jadwal supervisi

3. Pengerahan, meliputi:

a. Pembinaan dan pengarahan kepada tim supervisi internal.

b. Pelaksanaan supervisi internal.

4. Pengawasan, meliputi:

a. Pemantauan kegiatan supervisi

b. Pelaporan supervisi

c. Evaluasi supervisi internal. (Sulfemi, 2019 :16)

 

Demikian pembahasan kami mengenai supervisi pendidikan, semoga bisa menjadi bahan referensi bagi bapak/ ibu yang memerlukan informasi ini. Jika yang kami sampaikan masih terdapat kekurangan, maka kami sarankan kepada anda untuk langsung merujuk langsung kepada sumber referensi yang kami gunakan dalam menyusun artikel ini.

Terimakasih!

Sumber Rujukan:

Risnawati, 2014. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Yogyakarta: Aswaja Pressindo.

Makalah dengan judul; Pengertian Supervisi Pendidikan, oleh: Leonaldi (NIM 0142S1A018027)

 

You May Also Like

About the Author: Ageng Triyono

Curriculum Researcher & Developer | Guru Kampung | Penulis Lepas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *