Refleksi Kemerdekaan, Mengapa Kita Mau Merdeka?

Posted on

Ageng Triyono – Pemikiran, Pendidikan

haidunia.com – Kira-kira tujuh puluh empat tahun silam, dalam khusyu’nya ibadah ramadhan 1357 H, tepatnya pada jumat 17 Agustus 1945, Sukarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia menyatakan bebas dari segala penjajahan. “Demikian saudara-saudara! Kita sekalian telah merdeka!”, ucap Bung Karno di hadapan segilintir patriot bangsa yang hadir di jalan Pegangsaan Timur. Sang Saka Merah Putih pun bisa berkibar gagah diiringi gema Indonesia Raya secara kenegaraan untuk pertama kalinya.

Satu hari nan dinanti itu telah hadir. Indonesia de facto merdeka selang tiga hari pasca Jepang mengangkat bendera putih di hadapan Sekutu. Maka sah lah Indonesia milik kita sepenuhnya. Harapan panjang lahirnya kebebasan dan kemandirian untuk memikul nasib negeri ini dengan pundak sendiri kini terealisasi.

Mengapa kita mau merdeka?

Akan tetapi kegundahan semacam itu dijawab dengan komitmen yang membuat kita semua bangga;Mengapa kita mau merdeka? Padahal sederet pemimpin Indonesia yang baru lahir itu paham benar tugasnya akan berat. Jalannya terjal dan pedih. Berani memproklamasikan kemerdekaan berarti semakna dengan kesediaan menanggung hajat hidup rakyatnya sekekal mungkin sepanjang masa depan. Sementara situasinya belum lah cukup menguntungkan. Proklamasi sebagai jembatan emas menuju kehidupan sejahtera sudah pasti bukan jalan lapang tanpa halang rintang.


“…Untuk membentuk suatu pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial…”

Kini, kita mengenal komitmen itu dengan istilah tujuan negara. Atau yang mana lebih sering dituliskan sebagai cita-cita nasional dalam buku-buku anak sekolah. Sedang akhir-akhir ini dikampanyekan lagi dengan sebutan janji kemerdekaan. Tetapi apalah sebutannya, cukuplah kini kita mensyukurinya. Alangkah indahnya lahir di sebuah negeri dimana para pemimpinya memiliki komitmen seperti itu. Sungguh, national engagement adalah jaminan teramat menenangkan batin seluruh rakyat. Sebab, bisa jadi saudara kita di negeri seberang merasa iri oleh karena para pemimpinnya tak menjanjikan hal serupa.

BACA:  Penyakit Wahn; Embrio Kekalahan Negeri-negeri Muslim!

Memang kita masih butuh kesabaran nan panjang jika hanya menanti komitmen itu semua terlunasi tanpa turut serta campur tangan. Semoga kita sebagai anak bangsa memahami bahwa pekerjaan ini amat lah raksasa. Tulisan semacam ini pun juga pasti belum cukup untuk berkontribusi dalam menyelesaikan agenda sebesar itu. Namun ada harapan, bahwa setelahnya, anda para pembaca budiman akan ikut bergerak mengulurkan tangan dan turut serta mengiurkan gagasan demi kemajuan negara yang telah dimerdekakan dan dipertahankan dengan darah para ksatria Nusantara. Semoga, diri anda bangkit, dan ikut berbagi posisi meperjuangkan hak kehidupan sesama.

Di luar cita-cita kemerdekaan itu, dengan menyimak data yang bersliweran, mata kita telah melihat munculnya gejala pecah belah diantara kita sebagai bangsa. Mulai lahirnya kutub-kutub kekuatan terpisah akibat beda pandangan politik. Tak jarang semua itu dilakukan dengan cacian dan berbalas fitnah sesama saudara sebangsa setanah air. Maka melalui sepotong catatan ini, saya ingin mengajak kembali akan hakikat tujuan didirikannya republik ini. Untuk apa kita merdeka jika ujungnya diisi pertengkaran yang tak kunjung berakhir. Selama kita masih saja terus bersikutan, niscaya cita-cita didirikannya republik Indonesia kian karam. Pekalah akan situasi negeri ini!

Di luar cita-cita kemerdekaan itu, dengan menyimak data yang bersliweran, mata kita telah melihat munculnya gejala pecah belah diantara kita sebagai bangsa. Mulai lahirnya kutub-kutub kekuatan terpisah akibat beda pandangan politik. Tak jarang semua itu dilakukan dengan cacian dan berbalas fitnah sesama saudara sebangsa setanah air. Maka melalui sepotong catatan ini, saya ingin mengajak kembali akan hakikat tujuan didirikannya republik ini. Untuk apa kita merdeka jika ujungnya diisi pertengkaran yang tak kunjung berakhir. Selama kita masih saja terus bersikutan, niscaya cita-cita didirikannya republik Indonesia kian karam. Pekalah akan situasi negeri ini!

BACA:  Guru Dalam Serial Kepahlawanan

Mari kita camkan nasihat dakwah dari guru kita, M. Natsir; “Jangan berhenti tangan mendayung, nanti arus membawa hanyut.” Maka anda, yang merasa sebagai pribadi yang sadar akan perannya dalam kehidupan bernegara di republik ini, janganlah hanya berpangku tangan. Ikutlah mendayung, karna Ibu Pertiwi sedang memanggil anak-anaknya untuk iuran melunasi janji kemerdekaan yang 74 tahun ini masih membebani pundak para pemimpin.

Oleh: Ageng Triyono
Editor: Akhmad Saikuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *