Drama di Balik Konflik Libia-Italia 1911

Posted on

Rumaisha Putri – Pemikiran, Pendidikan

Adalah Mayor Enver, tunangan dari keponakan Sultan Mehmed V, Putri Emine Naciye Sultan yang kelak akan dinikahinya pada tahun 1914 saat Enver berumur 17 tahun. Hubungannya dengan rumah tangga khalifah meningkatkan posisinya di kalangan penduduk Libia yang kala itu masih merupakan wilayah Turki Utsmani.

Turki Utsmani (Sumber)

Namun pada tahun itu, pemerintah Utsmani belum tuntas dalam mempertahankan kesatuan wilayah mereka di Anatolia Timur, muncul konflik baru di Laut Tengah, yakni Provinsi Benghazi dan Tripoli (Libia) yang merupakan negara modern terakhir Utsmaniyah di Afrika Utara, setelah sebelumnya terjadi pendudukan Prancis di Aljazair dan Tunisia, serta pendudukan Inggris di Mesir.

Berbagai konflik di Anatolia Timur, Armenia, dan negara-negara bagian lainnya membuat pemerintah Utsmaniyah tidak melakukan apapun untuk memprovokasi perang dengan Italia yang memiliki ambisi atas Afrika Utara dengan langkah militer.

Sekitar 4.200 tentara Turki nyaris tidak memiliki dukungan angkatan laut untuk bertahan dari serangan pasukan Italia yang berjumlah 34.000 pasukan. Posisi Utsmaniyah di Libia benar-benar tak bisa dipertahankan setelah satu persatu kota pesisir jatuh ke pasukan Italia.

Awal Oktober 1911, Mayor Enver menguraikan rencananya dalam sebuah surat kepada saudara angkatnya, Hans Humann selaku atase angkatan laut Jerman.

Kami akan mengumpulkan pasukan kami di daerah pedalaman (Libia). Pasukan berkuda terdiri dari orang-orang Arab dan penduduk negara itu yang dipimpin para perwira muda (Utsmaniyah) yang akan terus membayangi pasukan Italia dan mengganggu mereka siang dan malam. Setiap tentara atau detasemen kecil (Italia) akan diserang secara tiba-tiba dan dimusnahkan. Jika musuh terlalu kuat, pasukan ini akan menarik diri ke daerah terbuka dan terus mengganggu musuh di setiap kesempatan.

Mayor Enver – 1911

Setelah rencana tersebut disetujui, Enver berangkat dari Istanbul menuju Alexandria, Mesir dalam penyamaran. Diikuti puluhan perwira muda patriotik setelahnya, termasuk diantara mereka Mustafa Kemal yang dikemudian hari bergelar Atatürk. Lainnya masuk melalui Tunisia.

BACA:  Mengapa Wajib Mengajarkan Dengan Konsepnya Muhammad SAW?

Secara resmi, para perwira muda ini tak diakui pemerintah meskipun tetap dialirkan pembayarannya oleh bendaharawan Utsmaniyah. Mereka menyebut diri mereka sebagai fedai, yaitu pejuang yang rela mengorbankan nyawa untuk misi mereka.

Di sisi lain, di kota-kota pesisir Libia, perlawanan keras penduduk setempat mampu mencegah pasukan Italia untuk bergerak ke pedalaman Libia.

Sesampainya di sana, Enver kemudian mendirikan perkemahannya di dataran tinggi menghadap pelabuhan Derna. Lalu mengumpulkan tentara Utsmaniyah yang mampu meloloskan diri dari tangkapan pasukan Italia, merekrut anggota suku dan persaudaraan Sanussi yang kuat, beserta para fedai Turki Muda yang berkumpul di markas Ayn al-Mansur.

Melalui upaya perekrutan pejuang lokal dibawah pimpinan perwira Utsmaniyah serta jaringan intelijen yang efektif, Enver berhasil membangun fondasi badan rahasia baru dalam Perang Besar Utsmaniyah.

Banyak suku Arab yang bergabung dengan relawan Utsmaniyah. Mereka menghargai cara Organisasi Turki Muda terjun langsung membela orang Libia dari kekuatan asing. Meskipun mereka tak memiliki bahasa yang sama, ikatan Islam terbukti sangat kuat antara perwira Turki Muda berbahasa Turki dan suku Libia berbahasa Arab.

Enver, sebagai Turki Muda sekuler menggambarkan pejuang Arab di Libia sebagai “Muslim fanatik yang melihat kematian di hadapan musuh sebagai hadiah dari Tuhan.” Ia melihat agama sebagai kekuatan mobilisasi yang kuat untuk menggalang umat Islam di belakang Sultan Utsmaniyah mengalahkan musuh, baik di dalam Khilafah Utsmaniyah maupun dunia muslim.

Antara Oktober 1911 dan November 1912, para perwira Turki Muda dan suku Arab melakukan perang gerilya yang sangat sukses melawan pasukan Italia. Para pejuang Arab ini memakan korban tinggi pada pasukan Italia, menewaskan 3.400 dan melukai 4.000 orang lebih dalam satu tahun. Perang itu juga menguras perbendaharaan yang besar pada pasukan Italia. Untuk sesaat, Italia dapat didesak mundur ke lautan.

BACA:  Jangan Larang Murid Berpikir di Luar Aturan, Karna itu Bisa Jadi Suatu Inovasi Baru

Namun karena tidak memperoleh kemenangan di Libia, Italia memperluas konflik ke medan perang lainnya agar terjadi sebuah perjanjian damai resmi untuk menekan Khilafah Utsmaniyah agar menyerahkan wilayah Libia pada Italia.

Lokasi Libya di Afrika Utara

Singkat cerita, ancaman perang yang digalakkan di Balkan memicu krisis dari Istanbul hingga Libia. Sehingga apabila tetap membela provinsi terpencil seperti Tripoli dan Benghazi akan melemahkan Utsmaniyah di jantung Balkan.

Idealisme itupun luntur dengan cepat oleh realisme baru. Khilafah Utsmaniyah akhirnya menandatangani perjanjian damai dengan Italia di mana mereka melepaskan provinsi Libia ke tangan Italia setelah kewalahan dengan konflik yang semakin meluas.

Para perwira fedai pun terpaksa membiarkan persaudaraan Sanussi melanjutkan perang gerilya tanpa bantuan Turki Muda setelah setahun berjuang mempertahankan Libia bersama. Mereka harus segera kembali ke Istanbul untuk bergabung dalam perjuangan nasional untuk kedaulatan negara yang dikenal dengan Perang Balkan Pertama.

Sumber : The Fall of the Khilafah, Eugene Rogan

Oleh: Rumaisha Putri
Editor: Deany Januarta Putra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *