Menabung Setitik Nilai Kehidupan dari Dongeng

Posted on

Rumaisha Putri – Motivasi

haidunia.com  – “Pada suatu hari, ada seekor kancil ingin menyeberang sungai…” Masih saya ingat cerita Ayah ketika saya kecil, hingga intonasi dan nada bicaranya. Terngiang di telinga.

sumber : martinweigel.org

Arus informasi kala itu masih tersaring sederhana. Masuk perlahan melalui berbagai indra dengan bersahaja. Memacu sel-sel jaringan sang otak belia untuk kreatif mencari cara agar dapat bergandengan membentuk suatu konsep pemikiran. Tak datang bertumpuk sekonyong-konyong melalui organ mata dan telinga sebagaimana kita lihat pada anak-anak era digital.

“Kok kancil gak takut buaya, Yah?” Polos saya bertanya sembari membayangkan berada di posisi sang kancil. Tentu saya akan merasa menggigil ketakutan melihat gigi-gigi tajam sang buaya menganga. Imajinasi saya bermain berputar membentuk visualisasi dalam pikiran. Seperti film.

Sumber : thedailybeast.com

“Sebenarnya si Kancil takut. Tapi karena dia cerdik dan yakin rencananya berhasil, maka dia jadi berani sama buaya.” Jelas Ayah berdasar pada opini pribadinya. Saya manggut mengerti. Ada interaksi. Ada kontak antar pancaindra. Ada pemuas sekilas bagi rasa ingin tahu itu dengan menunda cerita sejenak demi menciduk secuil nilai kehidupan. Sentuhan yang tak diberikan oleh mesin.

“Akhirnya Kancil pun dapat menyeberang sungai dengan selamat karena kecerdikannya. Tapi kamu nanti jangan suka berbohong seperti kancil ya, karena setelah cerita itu buaya-buayanya marah besaarr.” Ucap Ayah mengakhiri dongengnya.

Betapa sederhana. Betapa bermakna. Betapa tak mudah dilupa kemanapun waktu membawa usia. Penyampaian nasihat paling indah memang berasal dari kisah-kisah. Pun dalam kitab suci kita dapati ragam kisah sebagai cara Allah mengedukasi hamba-Nya.

Mungkin aneh bagi sebagian orang. Tapi faktanya, beberapa orang hebat yang kita lihat hari ini adalah hasil didikan fiksi di masa lalu. Fiksilah yang membuat mereka kemudian terpikat pada dunia nyata.

BACA:  Menulis Ngawur

Berbeda dengan mereka yang tumbuh dalam hal-hal nyata maha rumit. Ketika mereka sudah lebih dewasa justru akan terbuai khayalan-khayalan fiksi ketika bukan saatnya lagi mengabaikan dunia nyata.

Seorang manusia yang baru mengenal dunia memang perlu dididik dengan fiksi sarat makna kehidupan nyata. Pahamkan ia untuk memahami alur sebuah kisah. Didik dia untuk berpikir kritis menilai ketidakberesan konflik-konflik dalam cerita. Kenalkan ia perbedaan hal baik dan tidak. Ajak ia berpikir mengolah informasi bersama, bukan sekedar input data ke dalam kepalanya semata.

Sehingga dengan tangannya sendirilah ia kuak tabir. Dengan nalarnya ia menelaah. Dengan kemauannya ia dapati makna dan hikmah bahkan tanpa perlu orang lain memahamkannya.

Lalu kemudian ia akan paham, bahwa semuanya hanyalah permainan fana. Dan kemudian ia akan paham, kemana sebenarnya kehidupan berjalan pada akhirnya.

Oleh: Rumaisha Putri
Editor: Deany Januarta Putra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *