Di Suatu Masa …

Posted on

Diko Ahmad Riza Primadi

haidunia.com – Siaran langsung dari salah satu stasiun televisi swasta, salah seorang pejabat tinggi negara berucap “Kami anti khilafah.”

Tatapan dan pikiran bapak masih tertuju pada benda kubus berukuran sebelas inch. Terlihat sangat serius mengawasi. Pancaran sinar putih agak redup dari sebuah benda yang bisa menyuguhkan gambar dan suara itu semakin menambah lengkap suasana mencekam disebuah ruangan yang biasa kami gunakan untuk berkumpul. Sepiring kacang rebus dan segelas teh hangat tersaji diatas meja menemani bapak membaca, mengamati, dan mengkritisi segala apa yang dirasa kurang pantas dari para wakilnya di Ibu Kota. Bapak berpendapat bahwa pejabat negara bukanlah dewa yang tidak pernah berbuat salah sebagaimana makhluk Tuhan tercipta dari cahaya. Mereka makhluk yang sangat mungkin melakukan kesalahan, sehingga setiap ucapan dan gerak-geriknya harus diawasi dan dikontrol oleh siapa pun juga. “Jangan ngawur kalau bicara,” ucap bapak dengan suara agak sedikit lantang sambil mengarahkan jari telunjuk tangan kiri ke depan, mulut mengunyah kacang dan tangan kanannya menggenggam segelas teh hangat yang hendak diminum.

haidunia.com

Sedangkan ibu sibuk di dapur menyiapkan makan malam untuk kami. Mencuci dan membilas alat-alat dapur yang kotor. Suara gemericik air dari sebuah gayung yang ibu tuang membuat suasana dapur terasa lebih hidup bila dibanding sebelumnya. Memotong sayur-sayuran dan segala bumbu dapur yang telah disiapkan. Diam-diam ibu juga mengikuti pemberitaan yang sengaja diatur dengan volume suara cukup tinggi. Walau terdengar tidak begitu jelas karena suara penggorengan yang bising, ibu tetap mencuri dengar. “Bapak, jangan terbawa emosi,” teriak ibu dari dapur.

Ibu merupakan sosok perempuan yang kritis walau dalam hal pendidikan, beliau hanyalah tamatan Madrasah Aliyah di desa. Sebagai ibu rumah tangga, beliau ingin mengajarkan kepada anak-anaknya untuk tidak tinggal diam terhadap kondisi dan situasi bangsa yang saat ini dinilai semakin mengkhawatirkan. Beliau menginginkan anak-anaknya tidak tinggal diam dengan segala permasalahan yang ada. Mendidik anak-anaknya untuk menjadi seorang patriot pahlawan bangsa dan siap membela kepeningan bangsa, agama dan mereka yang lemah.

BACA:  Terpujilah Wahai Engkau Ibu-Bapak Guru

Seperti biasa aku berada di dalam kamar dan asik membaca novel yang baru aku beli dua hari lalu di sebuah toko buku yang kira-kira berjarak sepuluh kilo meter dari rumah. Sesekali aku keluar dari kamar untuk memenuhi panggilan ibu yang meminta tolong diambilkan sesuatu berkenaan dengan urusan dapur. Saat hendak melangkahkan kaki keluar dari persembunyian, sekilas aku melihat posisi duduk bapak yang dari awal tidak berubah sedikit pun di depan TV. Hal ini tentu membuatku penasaran dan bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang bapak pikirkan? Permasalahan negara apa lagi yang membuat bapak begitu serius? Tidak biasanya bapak seperti ini sebelumnya.

Kebiasaan bapak menonton berita sudah lama ada sejak keluarga kecil kami memiliki televisi pribadi 15 tahun yang lalu. Sebelum itu, bapak selalu berlangganan koran untuk memenuhi hasratnya terhadap informasi yang terjadi dari skala lokal, nasional, hingga internasional. Budaya baca sudah bapak tanamkan sejak dini kepada anak-anaknya. Dari hal tersebut yang tidak kalah penting adalah, bapak ingin anak-anaknya memiliki kesadaran yang tingga terhadap segala sesuatu disekelilingnya.

Setelah selesai berurusan dengan ibu yang ingin diambilkan ini dan itu, aku bergegas menghampiri bapak dan mengambil posisi duduk disampingnya. Bapak masih terpaku dan aku belum berani membuka pembicaraan. Aku ambil sebiji kacang rebus sembari menunggu bapak menyelesaikan urusannya dengan negara.

Sebagai seorang yang terpelajar aku merasa cemas melihat kondisi bangsa yang menurutku sedang tidak baik-baik saja. Isu perpecahan dan propaganda terus didengungkan oleh orang-orang yang tidak suka bilamana bangsa ini kuat dan bersatu. Mungkin inilah yang dirasakan bapak sebagaimana aku rasakan. Terlihat jelas dari tatapan mata dan cara beliau duduk.

BACA:  Drama di Balik Konflik Libia-Italia 1911

Tidak lama setelah aku mengambil posisi duduk di samping bapak acara berita berjeda pada pariwara iklan.

“Pak, apa yang sedang terjadi dengan pemerintahan bangsa ini sekarang?”

Tanpa berpikir panjang karena mendapat kesempatan, aku membuka dengan pertanyaan yang cukup umum. Bapak mengambil nafas panjang dan menatapku dalam-dalam.

“Nak, berhati-hatilah menghadapi zaman yang penuh dengan fitnah ini,”

bapak sangat berhati-hati berbicara denganku. Tangan kanannya kembali menjangkau gelas berisi teh yang masih tersisa setengahnya. Bola mata bapak mulai berkaca-kaca dan bibirnya bergetar memanjatkan sebuah doa,

“Yaa Allah, selamatkanlah bangsa ini dari kehancuran.”

Sejenak suasana menjadi hening. Seolah ada teguran dari langit atas dosa-dosa manusia. Bapak melanjutkan titahnya,

“Manusia ingkar kepada Tuhan yang telah menciptakannya. Mendustakan para nabi dan rosul dengan dalih kemajuan zaman. Ayat-ayat Tuhan mereka ganti dengan akal, karena bagi mereka akal adalah segalanya.”

“Kenapa tadi bapak teriak?” ku coba mengalihkan pembicaraan namun tetap pada topik yang sama.

“Bapak sangat kesal nak, wajah islam selalu dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Orang islam dituduh teroris. Dan kitab yang dibawa oleh Muhammad mereka nilai sangat berbahaya karena mengajarkan kekerasan. Sungguh ini adalah fitnah yang keji.” beliau menyampaikan perasaannya dengan sangat emosional.

“Bagaimana pendapat bapak mengenai statement anti khilafah yang akhir-akhir ini terus didengungkan oleh pemerintah?” aku ingin mengklarifikasi lebih dalam tentang pemahaman bapak.

Sejenak bapak mengusap air matanya yang akan jatuh dan melanjutkan bicaranya,

“Statement anti  khilafah sangatlah berbahaya. Diakhir zaman menjelang terjadinya kiamat, islam akan berjaya dibawah naungan khilafah ala minhaji an-Nubuwah (Pemerintahan atas manhaj kenabian). Umat manusia akan kembali pada zaman dimana Rosulullah SAW hidup dan berjuang melawan segala bentuk kedholiman. Keadilan akan ditegakkan setegak-tegaknya dan kedholiman akan lenyap dari muka bumi.”

“Bagaimana mungkin orang yang telah mengaku berislam, menyatakan dirinya anti terhadap sistem pemerintahan yang dibawa oleh Rosul Agung Muhammad SAW sang pembawa risalah kebenaran?!”

Bapak kembali meneteskan air mata, kali ini semakin deras.

“Bukankah nanti akan datang suatu zaman dimana setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh perbuatannya di dunia. Tidak ada seorang pun yang mampu menolong kecuali hanya Rosulullah Muhammad SAW. Beliau akan berdiri menyeru kepada umatnya. Umatku… umatku… berkumpulah bersamaku, Masuklah ke dalam surga bersamaku!”

“Apakah kita yang hari ini secara terang-terangan menolak sistem kekhilafahan atas dasar kenabian akan diterima sebagia umatnya kelak?!

Semuanya belum terlambat selagi kita mau bertaubat detik ini juga. Dan semoga syafaat Rosulullah menyertai kita semua sebagai umatnya.

BACA:  Refleksi Kemerdekaan, Mengapa Kita Mau Merdeka?

Oleh: Diko Ahmad Riza Primadi
Editor: Deany Januarta Putra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *