Nasionalisme yang Memenjarakan Hubungan

Nasionalisme di Indonesia

Nasionalisme sedikit banyak memang berpegaruh pada keinginan masing-masing negeri Islam untuk memisahkan diri pada saat masih berlangsungnya periode kekahalifahan Turki Utsmani. Lebih tepatnya hal itu terjadi saat kepemimpinan Sultan Hamid II mulai digoyang oleh gerakan yang dikomandoi Mustafa Kemal Attaturk. Adapun kita di Republik Indonesia masih sangat mendewakan kata ‘nasionalisme’. Sebab itu, saya harus berhati-hati untuk membahas tema ini. Jika pada penyajian kali ini, tulisan saya hanya menambah kepesimisan di tengah ikhtiar saudara-saudara yang sdang membangun persatuan, maka saya mohon maaf. Untuk itu saya berjanji, untuk membahas tema yang sama pada  halaman berikutnya secara lebih adil, insya Alloh.

Nasionalisme di Indonesia

Kurang lebih nasionalisme diterjemahkan oleh wikipedia sebagai paham untuk mempertahankan kedaulatan sebuah negara baik dari ancaman internal maupun eksternal dengan mewujudkan sebuah identitas bersama satu kelompok manusia, yang mana satu kelompok manusia itu memiliki cita-cita yang sama dalam mewujudkan keperntingan nasionalnya. Sejarah lahirnya nasionlisme berangkat sejak abad ke-18, yakni disaat liberalisme sedang merebak di tanah Eropa. Kala itu hadir kecenderungan bangsa-bangsa Eropa agar bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan Inggris dan Perancis, yang memang sedang menyandang status sebagai bangsa paling maju. Lambat laun akhirnya pengaruhnya juga menyebar ke dunia Islam.

Timbulnya nasionalisme, mendorong wilayah yang berada dalam daerah kekuasaan Turki Utsmani di Asia dan Afrika mulai melepaskan diri. Diawali dari Bangsa Armenia dan Yunani yang mayoritas warganya beragama Kristen berpaling ke Barat, dan kemudian meminta bantuan Barat untuk ikut andil memerdekakan tanah airnya. Bangsa Kurdi di pegunungan, dan Bangsa Arab di padang pasir, serta penduduk di lembah lembah-lembah ikut terpengaruh sehingga berani bangkit untuk menentang, dan menuntut melepaskan diri dari Turki Utsmani.

BACA:  Penyakit Wahn; Embrio Kekalahan Negeri-negeri Muslim!

Puncaknya adalah setelah keterlibatan Turki Utsmani pada perang dunia I. Perang itu berakhir  dimana Turki memihak Jerman dan kalah. Lewat beberapa konspirasi yang dibangun oleh Mustafa Kemal Attaturk  akhirnya imperium Turki Utsmani bubar pada 3 Maret 1924. Setelah itu kerajaan Turki Utsmani lenyap dan berganti nama Republik Turki. Konon dengan keutusan itu, Turki akan menjadi lebih independen. Namun kekhalifahan tidak lah berlaku lagi. Negara-negara Arab yang semula di bawah Turki kini lepas dan dikontrol Inggris dan Perancis, kecuali jazirah arab. Kejadian ini juga menjadi keberhasilan bagi Inggris menempatkan kelompok Yahudi di palestina.

Semakin mengentalnya kesadaran nasionalisme di negara-negara Arab itu akhirnya mendorong pembentuk negara-negara nasional yang lebih kecil dengan pemerintahan yang mandiri. Ini yang menjadi sebab, sampai detik ini umat Islam tercerai-berai. Tiada lagi satu komando kepemimpinan dunia.  Jika gereja memiliki Paus sebagai pemimpinnya, lalu siapa pemimpin umat Islam yang bisa disetarakan dengannya.

Generasi kita perlu sekali mencermati tentang awal masuknya nasionalisme ini. Apakah untuk membesarkan kekuatan umat Islam atau sebaliknya, yaitu sebagai virus yang disuntikkan sebagai penghancur persatuan. Kita ketahui bersama, gagasan nasionalisme ini muncul dari Barat masuk ke negeri muslim melalui persentuhan umat Islam dengan Barat yang menjajah mereka, kemudian dengan dipercepat oleh banyaknya banyak pelajar muslim yang menuntut ilmu di Eropa, ataupun pendidikan Barat yang didirikan di tanah jajahan.

Mengapa Barat menggunakan nasionalisme sebagai senjata? Karena lambat laun mereka mulai sadar, perjuangan senjata takkan berhasil menaklukan kekuatan Islam yang “hobi” berjihad dengan pedang. Dengan sejuta usaha pun tetap tak mampu membaratkan negeri ketimuran sepenuhnya selama masih terpayungi khilafah. Maka anjurannya, bambu harus dibelah agar mudah patah, sapu lidi harus dilepas pengikatnya agar mudah ditekuk satu persatu. Setelah umat tak satu shaff, tentu lebih mudah diperdaya. Begitulah, nasionalisme dijadikan jalan untuk memecah persatuan bangsa-bangsa muslim dunia.

BACA:  Sintaks dan Kunci Sukses Pembelajaran Blended Learning

Nasionalisme ibarat sebuah jebakan.  Ia menjebak bangsa muslim masuk ke sebuah kotak demi kotak, sel demi sel, sel nasionalisme sempit nan menghimpit itu akhirnya berhasil memenjarakan satu sama lain dalam kesibukannya mengurus sejengkal wilayah dalam radius kekuasaannya sendiri. Sehingga meskipun bertetanggaan dengan jarak wilayah sejauh lemparan batu saja, sudah tak mahu tahu apa yang terjadi di negeri tetangga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *