Sintaks dan Kunci Sukses Pembelajaran Blended Learning

Sintaks Pembelajaran Blended Learning

Sintaks dan Kunci Sukses Pembelajaran Blended Learning – Hallo Sobat Pendidik! Pembelajaran di musim pandemi tentunya perlu di konsep secermat mungkin, sehingga hak-hak peserta didik terlayani sesuai standar mutu pendidikan yang disyaratkan. Dan yang terpenting adalah para lulusannya dapat dipertanggungjawabkan secara kualitas.

Sepanjang pandemi ini, banyak yang memandang pembelajaran model blended learning sebagai solusi dari beberapa persoalan yang muncul akibat penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang digagas pemerintah.

Pentingnya Pembelajaran Blended Learning

Mengapa pembelajaran model blended learning ini dipandang penting diterapkan sekarang?Pembelajaran berbasis blended learning merupakan pembelajaran yang menggabungkan beberapa metode mangajar dan mengkolaborasikan sumber-sumber belajar digital (online) dengan tatap muka.

Perihal inil akan menjembatani problematika yang dialami oleh banyak sekolah yang mana tidak bisa sepenuhnya melaksanakan daring. Atau sebaliknya bagi sekolah yang tidak bisa 100% melaksanakan KBM secara tatap muka dengan alasan protokol kesehatan. Maka dengan pola blended learning hal itu akan sedikit teratasi.   

Jika dihitung presentasenya, sekitar 30-70% pembelajaran dilakukan secara online atau dengan belajar langsung dari bahan-bahan ajar digital. Sedang proses belajar selebihnya dilaksanakan secara tatap muka. 

Mengingat musim pandemi, maka untuk mendukung efektifitas penerapan blended learning perlu disusun sintaks atau langkah-langkah pembelajaran yang praktis untuk dilaksanakan.  Sintaks berikut ini bisa dijadikan acuan bagi bapak ibu yang hendak mengembangkan model blended learning di sekolahnya masing-masing.

Sintaks Pembelajaran Blended Learning

Secara sederhana, sintak pembelajaran bended learning bisa kita bagi kedalam tiga tahapan. Bagi bapak-ibu dipersilahkan untuk mengembangkannya dengan disesuaikan karakter sekolah masing-masing.

  1. Seeking of information

tahap pertama adalah mempersilahakan peserta didik untuk mencari informasi dari berbagai yang tersedia secara online maupun offline. Tentunya sumber informasi tersebut memiliki relevansi, validitas, reliabilitas konten, dan kejelasan akademis sebagai sumber belajar.

BACA:  Mengembangkan Kreativitas Murid Abad 21

2. Acquisition of  information

Pada tahap ini, murid akan menemukan, memahami, serta mengkonfrontasikannya dengan ide atau gagasan yang telah ada dalam pikiran, kemudian menginterprestasikan informasi dari berbagai sumber yang telah didapatkannya, sampai mereka mampu mengkomunikasikan kembali menggunakan fasilitas online/offline.

3. Synthesizing of knowledge

Pada tahap ini, murid akan mengkonstruksi/merekonstruksi pengetahuan melalui proses asimilasi dan akomodasi bertolak dari hasil analisis, diskusi dan perumusan kesimpulan dari informasi yang diperoleh.

Sementara, guru pada tahap ini bisa meminta murid untuk menyampaikan kesimpulannya secara japri sebagai bukti hasil belajar mandirinya.

Tiga tahapan tersebut merupakan dasar dari proses pembelajaran blended learning. Adapun variasi dan pengembangan KBM nya bisa disesuakan dengan kondisi sekolah masing-masing.

Selain sintaks tadi, juga perlu diperhatikan beberapa hal yang akan mempengaruhi efektifitas dari pembelajaran ini. Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu kita perhatikan:

Kunci Sukses Pembelajaran 

Carman (2005) menyebutkan ada lima hal yang akan menjadi kunci utama efektifitas pembelajaran yang menerapkan model blended learning. Berikut adalah beberapa hal yang dipandang dapat mempengaruhi kesuksesan pembelajaran blended learning: 

Pertama adalah live event, yang mana kemampuan guru mengelola pembelajaran langsung atau tatap muka di tempat dan waktu yang berbarengan atapun diwaktu yang sama namun pada tempat yang berbeda.

Kedua adalah self-paced learning, yaitu kemampuan guru dalam mengkombinasikan pembelajaran mandiri (self-paced learning) saat murid belajar di rumah, yang mana peserta didik akan belajar kapan saja, dimana saja secara online.

Ketiga adalah collaboration, yaitu kemampuan guru mengkolaborasikan aktivitas antar peserta didik maupun peserta didik dengan sang guru. 

Keempat adalah assessment, yaitu pendidik harus mampu meramu kombinasi jenis assessmen online dan offline baik yang bersifat tes maupun non-tes (proyek kelas).

Kelima adalah performance support materials, dalam hal ini harus dipastikan bahan belajar disiapkan dalam bentuk digital, dapat diakses dengan mudah oleh peserta didik, baik secara offline maupun online.

Demikian, semoga artikel ini memberikan manfaat bagi pelaksanaan pembelajaran di musim pandemi. Salam!

BACA:  Mewujudkan Indonesia Maju yang Adidaya

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *