Urgensi Pelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar

bahasa inggris sekolah dasar

Bahasa Inggris Sekolah Dasar-Hallo Sobat! Mengapa pelajaran bahasa Inggris dihapuskan pada kurikulum 2013 tingkat sekolah dasar (SD)? Untuk menjawab perihal ini tentu kita perlu kehati-hatian.

Matapelajaran (mapel) bahasa Inggris di tingkat SD Negeri sebenarnya telah dilaksanakan selama lebih dari 10 tahun. Kebijakan pemberlakuan mapel ini secara resmi diajarkan sejak terbit kebijakan Depdikbud RI No. 0487/4/1992, Bab VIII, yang menyatakan bahwa sekolah dasar dapat menambah mata pelajaran dalam kurikulumnya, asalkan tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan Nasional.

Kebijakan tersebut kemudian semakin optimal pasca bahasa Inggris dimasukkan sebagai muatan lokal pada tingkat satuan pendidikan SD. Hal ini didasarkan pada Surat Keputusan Mendikbud nomor 060/U/1993.

Antara lain menyebutkan bahwa yang berwenang menentukan suatu matapelajaran sebagai muatan lokal adalah Kepala Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Depdiknas) tingkat II (kota atau kabupaten) dengan persetujuan Kanwil.

Salah satu ketentuannya adalah muatan lokal berupa bahasa Inggris diajarkan dengan maksud untuk memberikan kompetensi memahami keterangan lisan dan tulisan, serta ungkapan-ungkapan sederhana. Dalam surat keputusan itu disebutkan pula bahwa pelajaran bahasa Inggris di SD dapat mulai diajarkan di kelas IV.

Kendala Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar

Salah satu kendala yang sering dikeluhkan oleh para guru adalah ketiadaan silabus khusus. Hal ini terjadi karena bahasa Inggris dipandang sebagai muatan lokal yang hanya menjadi pilihan bagi sekolah di wilayah tertentu. Karenanya Kementrian Pendidikan Nasional bidang Pendidikan Dasar dan Menegah tidak menyediakannya.

BACA:  Allah Akan Menyatukan Hati Para Pejuang yang Satu Visi

Tugas penyusunan silabus itu kemudian menjadi tanggung jawab masing-masing propinsi dengan menyesuaikan situasi dan kondisi yang ada di wilayah tersebut.

Masalah lain yang perlu menjadi perhatian insan pendidikan berupa penggunaan metode dan strategi pengajaran yang belum sesuai dengan tingkat perkembangan usia murid.

Dukungan dari pihak sekolah sendiri adakala masih belum memadai. Kita bisa melihatnya dari kurangnya fasilitas pembelajaran bahasa Inggris, ditambah minimnya pelatihan untuk meningkatkan kompetensi para guru pengampu.

Jika kita hendak menelisik permasalah ini lebih lanjut, tidak menutup kemungkinan masih banyak problematika pembelajaran bahasa Inggris pada jenjang sekolah dasar.

Alasan Dihapuskan dari Kurikulum 2013

Wacana dihapuskannya mapel bahasa Inggris mengemuka setelah tidak dimasukkannya dalam kurikulum 2013 untuk tingkat sekolah dasar. Atau dengan kata lain, setelah berlakunya kurikulum 2013 pembelajaran bahasa Inggris tak lagi menjadi suatu kewajiban bagi murid dan instiusi pendidikan sekolah dasar untuk menyelenggarakannya.

Awalnya rencana penghapusan dimulai pada tahun ajaran baru 2013/2014. Lalu secara bertahap sampai tahun ajaran 2016/2017 pelajaran bahasa Inggris akan benar-benar dihapus dari buku sekolah murid SD.

Posisi mapel tersebut selanjutnya hanya akan diposisikan sebagai ekstrakurikuler sebagaimana ekstrakurikuler latihan pramuka yang wajib diikuti oleh setiap murid satu minggu sekali.

Kemudian banyak kalangan bertanya apa alasan dari rencana penghapusan tersebut?

Alasan sederhana yang mengemuka adalah agar murid tidak terlalu terbebani oleh pelajaran ini. Kekhwatiran bahasa Inggris akan mendelegitimasi budaya dan bahasa Indonesia jika sudah diajarkan sejak dini juga terdengar riuh di media.

Alasan dan kekhawatiran itu masih ditambah lagi dengan semakin lunturnya kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar di kalangan remaja kita.

BACA:  Sekolah Dasar Terdekat Masih Jadi Pilihan Pasangan Millenial

Dari sejumlah alasan yang mengemuka, sebenarnya masyarakat masih menunggu penjelasan resmi dari pemerintah mengenai urgensi rencana penghapusan mapel bahasa Inggris pada jenjang SD.

Bahasa Inggris Masih Diajarkan Sampai Sekarang

Pada prakteknya sampai hari ini pembelajaran bahasa Inggris masih diterapkan di tingkat SD. Bahkan lebih dari itu, beberapa sekolah swasta favorit justru mengadopsi Kurikulum Cambridge. 

Hal tersebut dapat diartikan bahwa pemerintah masih memberikan kesempatan kepada pihak pengelola sekolah dasar untuk menyelenggarakannya dengan syarat tidak mengganggu efektifitas pembelajaran mapel lain yang diwajibkan oleh kurikulum 2013.

Urgensi Bahasa Inggris Sekolah Dasar di Mata Guru

Forum-forum guru bahasa Inggris terutama yang membina di tingkat sekolah dasar SD tentunya terkejut dengan rencana penghapusan tersebut. Bagaimana pun eksistensi para guru bahasa Inggris di satuan pendidikan SD harus dipertahankan.

Banyak pendapat yang kemudian perlu dijelaskan mengenai urgensi mapel bahasa Inggris agar tetap diajarkan. Beberapa diantaranya berhasil dihimpun oleh tim haidunia.com:

Pertama, usia anak SD berkisar antara 6-13 tahun yang mana sering disebut sebagai usia emas untuk belajar bahasa. Jika fase pendidikan pada usia ini dilewatkan begitu saja tanpa belajar bahasa Inggris maka amat disayangkan.

Sebaliknya akan menimbulkan potensi baru jika diajarkan pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Misal akan dikatakan telat belajar bahasa asing jika dibanding negara lain, serta seorang anak akan mengalami tingkat kesulitan yang lebih  banyak jikadibandingkan belajar pada usia emasnya.

Kedua, perkembangan zaman digital saat ini terus menuntut anak-anak memahami istilah berbahasa Inggris lebih dini.

Ketiga, kekhawatiran bahasa Inggris akan menggantikan bahasa Indonesia dinilai berlebihan.

Rekomendasi

Alasan-alasan  di atas tentunya cukup logis. Hampir semua guru bahasa Inggris masih mengharapkan mapel yang diampuhnya kembali dimasukkan ke dalam kurikulum 2013 meskipun sebagai muatan lokal.

BACA:  Pengertian Pembelajaran Matematika, Calon Guru Wajib Tahu!

Jika mapel ini ditiadakan maka sangat disayangkan dan tidak menambah manfaat yang signifikan bagi perkembangan anak. Sebab itu, kebijakan atau rencana penghapusan mapel tersebut agar ditinjau ulang, meskipun masih timbul kendala dalam proses pembelajarannya.

Banyak pihak berharap agar pemerintah lebih bijak mencari solusi. Salah satu rekomendasinya rekomendasinya adalah pemerintah menyerahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah untuk memilih mengajarkannya atau tidak.

Saya kira itu! Syukron!

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *