Perilaku Tidak Jujur dari Murid; Yuk, Sikapi Secara Bijak!

perlaku tidak jujur murid (berbohong)

Sikap Guru yang Tepat Saat Perilaku Murid Tidak Jujur alias Berbohong – Hallo Sobat Pendidik dan para orang tua! Pastinya kita pernah mendapati murid atau pun anak kita menunjukkan perilaku tidak jujur, saat di rumah maupun di sekolah.

Lantas, bagaimana sikap kita yang tepat untuk menghadapi hal tersebut?

Okey, untuk memudahkan menjawabnya kita akan menggunakan sebuah ilustrasi. Ilustrasi ini sudah pernah dimuat pada Majalah Fahma edisi Januari 2017. Nah, bagi kalian saya persilahkan untuk menyimak artikel ini sampai selesai.

Ketika Murid Berbohong

Simak ilustrasi berikut ini!

Dari empat karya yang harus dikumpulkan, seorang murid bernama Andi hanya mengumpulkan dua, itupun nilainya tidak lebih dari enam, dari nilai rata-rata dikelasnya sebesar 7,5. Itu artinya karya Andi tidak begitu bagus.

Tentunya sangat mengejutkan ketika pada penilaian karya yang kelima nilai Andi mencapai 8, yang berarti karya Andi sangat bagus. Bahkan lebih bagus dari karya teman-temannya yang biasanya lebih unggul.

Tentunya hal itu tidak seperti biasanya. Guru pun curiga dan teman-teman sebayanya tidak percaya.

Sekarang kita simak seperti apa pendekatan yang tepat yang dilakukan oleh sang Guru.

Ketrampilan Guru dalam Mereaksi Perilaku Murid Tidak Jujur (Berbohong)

Guru mula-mula mendekati Andi dan bertanya; ” bapak senang kamu bisa berkarya, tetapi apakah ini karyamu sendiri?”

Andi diam tak berbergerak. Andi harus berpikir dua alternatif; jujur atau berbohong. Yang membuat Andi lama berpikir adalah memprediksi reaksi guru. Bagaimana reaksi guru jika ia berbohong dan jika ia jujur.

Baca Juga:  Standar Kompetensi Lulusan (SKL) SD, SMP, SMA, SMK, Kejar Paket

Tentunya bukan hanya Andi yang bingung, tetapi ini adalah masalah yang pelik yangjuga sering didapati guru dan orang tua. Bagaimana mereaksi yang pas terhadap anak yang mencoba berbohong?

Secara tidak sadar, kadang-kadang kita memebri peluang atau malah mengajari anak untuk berbohong. Misalnya tiba-tiba mematikan TV ketika anak datang dan menghidupkannya kembali ketika anak pergi tanpa penjelasan apapun.

Anak pun kemudian berpikir untuk melakukan hal yang sama. Sebelum anak mencoba berbohong, sebenarnya selalu semua anak selalu bereksperimen dengan berbohong dan bagaimana reaksi orang tua atau guru dengan  eksperimennya itu.

Sepertinya masalah ringan untuk menghadapi hal itu, tetapi memerlukan keterampilan yang harus dimiliki dan dikembangkan bagi orang tua dan guru.

Perlu berkonfrontasi tanpa membuat anak takut. Perlu keterampilan menghadang tanpa membuat anak merasa kita sebagai lawan. Perlu keterampilan menangkap basah tanpa membuat anak merasa dijebak.

Perlu keterampilan menggiring tanpa membuat anak merasa disudutkan. Prinsip yang harus kita pegang adalah memastikan bahwa mereka paham betapa penting dan mulia bagi mereka untuk mengatakan sebenarnya.

Mengajarkan Untuk Mengatakan Kesalahan Apa Adanya

Untuk ketiga kalinya pak Guru bertanya kepada Andi; ” Andi, katakan yang sebenarnya, ingat kejujuranmu itu lebih berharga dari pada karyamu itu. Dan kebohonganmua dapat menyesatkan semuanya. Apakah benar ini karyamu sendiri?”

Baru Andi menggelengkan kepala.

“Jadi ini karya siapa?” tanya pak Guru.

“Yang membuat saya dengan kakak,” jawab Andi.

“Andi, kamu telah berusaha dan berlatih menyelesaikan karya. Maka nilai pak Guru kurangi untuk kakakmu dan pak guru tambah untuk kejujuranmu.” Penjelasan pak Guru membuat Andi lega dengan berkata jujur.

Memusuhi Anak Memicu Perilaku Tidak Jujur yang Lebih Baik

Jika guru tidak memberi reaksi pada karya Andi, maka Andi akan terus berbuat kesalahan tanpa berkata bohong (karena ditanya oleh pak Guru), meskipun Andi merasakan bahwa karyanya itu tidak jujur.

Baca Juga:  Obat Kehancuran Bangsa Indonesia: Kepercayaan Rakyat Terhadap Pemimpin

Sebaliknya, jika Guru memberi reaksi terlalu keras, tanpa mempedulikan keterampilan mereaksi, maka anak akan merasa dimusuhi, dijebak, disudutkan dan dipermalukan.

Tujuan Guru sebenarnya baik, tetapi dengan cara yang kurang tepat. Akibatnya anak merasa di pihak lawan yang harus memberikan perlawanan, tidak merasa disadarkan. Maka di lain waktu anak akan berusaha berbohong dengan lebih baik tanpa merasa dicurigai oleh guru.

Jika ekperimennya berhasil, maka anak tersebut akan merasa puas.

Setelah merasakan reaksi pak guru, Andi bertanya; “Pak, untuk karya selanjutnya bolehkah membuatny dibantu oelh kakak tapi saya mau berkata apa adanya?”

Jawab pak Guru; “Andi, yang belajar keterampilan inikamu, bukan kakakmu, pak Guru hanya menilai hasil karyamu dan tidak bisa dicampur dengan nilai kakakmu, maka kamu harus jujur dalam berkarya.”

Anak-anak perlu dipahamkan bahwa kejujuran dan mengatakan hal yang sebenarnaya adalah dua hal yang berbeda dalam aspek yang sama. Kejujuran mencakup perilaku, sikap, pikiran dan termasuk perkataan. Sedangkan mengatakan yang sebenarnya mencakup kemampuan  mengenal dan mengidentifikasi fakta serta kemampuan berkomunikasi.

Di sisi lain, anak pun menjadi paham bahwa mengatakan yang sebenarnya meskipun salah, itu lebih baik daripada kebohongan.

 

 

 

You May Also Like

About the Author: Ageng Triyono

Curriculum Researcher & Developer | Guru Kampung | Penulis Lepas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *