Masyarakat Madani dan Kesejahteraan Umat

Masyarakat Madani dan Kesejahteraan Umat
Masyarakat Madani dan Kesejahteraan Umat

Masyarakat Madani dan Kesejahteraan Umat – Hallo Sobat Dunia! Masyarakat madani masih menjadi suatu impian bagi masyarakat republik Indonesia tercinta. Kita juga masih bertanya-tanya, dimana peran umat Islam dalam mengupayakan terwujudnya masyarakat madani selama ini .

Masyarakat madani dan kesejahteraan umat adalah cita-cita kita bersama. Membicarakannya, pasti kita akan merujuk pada kejayaan masyarakat Madinah zaman Nabi Muhammad SAW. Ya, karena memang pada zamannya berhasil menjadi miniatur masyarakat dengan banyak sifat-sifat yang baik.

Cita-cita mewujudkan “masyarakat madani modern” sudah sejalan dengan keinginan membangun Indonesia yang bersatu, saling menghormati dan toleransi, gotong-royong dan memiliki sifat-sifat luhur lainnya. Oleh karenanya tim haidunia.com merasa punya kepentingan untuk mengulasnya sejenak di laman ini.

Pengertian Masyarakat Madani

Pengertian masyarakat madani adalah masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, yang maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi. Konsep masyarakat madani diperkenalkan oleh Anwar Ibrahim, dan khususnya di Indonesia oleh Nurcholish Madjid.

Gambaran mengenai masyarakat madani sudah tercantum di dalam Q.S. Saba’ ayat 15:

“Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.”

Dalam khasanah sejarah Islam, ada dua kondisi masyarakat, yang bisa disebut sebagai gambaran masyarakat madani:

Masyarakat Saba’

Masyarakat saba’ hidup di masa Nabi Sulaiman. Masyarakatnya hidup aman sejahtera, dianugerahkan kepada mereka rezeki yang melimpah. Hanya saja mereka kemudian tidak mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah.

Akhirnya Allah turunkan azab kepada mereka berupa banjir bandang yang menghancurkan kehidupan mereka. Cerita mengenai ini ada pada QS Saba’ ayat 15-17.

Masyarakat Madinah

Masyarakat Madinah saat berada dalam kepemimpinan Rasulullah SAW adalah masyarakat ideal dalam konsep Islam. Masyarakat yang tunduk dan patuh kepada pemimpin, meskipun mereka terdiri dari dari berbagai agama dan kepercayaan; kaum muslimin yang mayoritas, yahudi, nasrani dan watsani.

Mereka hidup rukun, saling menghormati, dan menjalankan agama dan kepercayaan masing-masing. Dan semua bisa hidup damai dalam kepemimpinan Islam.

Konsep Masyarakat Madani

Konsep masyarakat madani sebenarnya sudah mulai dikembangkan oleh Cicero sejak jaman Yunani klasik.  Pada masa itu masyarakat madani dimaknai sebagai masyarakat yang menjadikan nilai-nilai peradaban sebagai ciri utamanya.

Karena itu dalam sejarah pemikiran filsafat Yunani sampai masa filsafat Islam dikenal istilah madinah atau polis, yang berarti kota. Lebih spesifik lagi kata madinah dimaknai sebagai kota dengan masyarakat yang maju dan berperadaban.

Masyarakat madani menjadi simbol idealisme yang diharapkan oleh setiap masyarakat. Di dalam Al qur’an Allah memberikan ilustrasi masyarakat ideal, sebagai gambaran dari masyarakat madani.

“(Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun (QS. Saba:15)”

Adapun karakteristik dari masyarakat yang mendiami Kota Madinah di antaranya:

  1. bertuhan
  2. damai
  3. tolong-menolong
  4. toleran
  5. keseimbangan antara hak dan kewajiban sosial
  6. berperadaban tinggi
  7. berakhlak mulia.

Ciri-ciri Masyarakat Madani

Ciri-ciri masyarakat madani juga dikemukakan oleh H.A.R Tilaar (1999:158). Menurut beliau terdapat empat ciri utama, yaitu:

Kesukarelaan

Artinya suatu masyarakat madani bukanlah merupakan suatu masyarakat paksaan.  Keanggotaan masyarakat madani adalah keanggotaan dari pribadi yang bebas, secara sukarela membentuk suatu kehidupan bersama untuk mewujudkan cita-cita bersama.

Keswasembadaan

Swasembada artinya tidak tergantung kepada pemerintah (negara) atau pun lembaga asing. Namun lebih percaya akan kemampuan sendiri, bahkan berprinsip harus dapat membantu yang berkekurangan.

Kemandirian tinggi terhadap negara

Anggota masyarakat madani memandang bahwa negara adalah kesepakatan bersama, sehingga tanggung jawab yang lahir dari kesepakatan tersebut adalah juga tuntutan dan tanggung jawab dari masing-masing anggota. Inilah yang dimaksud negara berkedaulatan rakyat.

Keterkaitan pada nilai-nilai hukum yang disepakati bersama

Hal ini berarti suatu masyarakat madani adalah suatu masyarakat yang berdasarkan hukum dan bukan negara kekuasaan.

Upaya Mewujudkan Masyarakat Madani

Upaya mewujudkan masyarakat madani yang paling mudah adalah dimulai dari individu itu sendiri. Sikap paling utama adalah beriman pada Allah, karena masyarakat madani berlandas hukum Allah.

Selanjutnya sikap toleransi dimulai dari lingkungan terdekat; diri sendiri, lingkungan sekitar hingga akhirnya ke lingkungan yang lebih besar. Dari hal itu, akan tercapai kondisi aman dan damai.

Selain toleransi, rasa empati dan simpati harus dikuatkan, agar antar individu tidak terjadi kesenjangan yang tinggi, sikap tolong menolong akan terbentuk.

Masyarakat Madani dan Kesejahteraan Umat

Masyarakat madani dan kesejahteraan umat bisa didapatkan dalam kehidupan yang mendasarkan pada prinsi-prinsip berikut:

(1) Jangan mengeksploitasi orang (QS As-Syura’, 26:183)

(2) Yang diberi kelebihan rezeki, hendaknya menyalurkan sebagian untuk orang lain, (QS. An-Nahl 16:71

(3) Dalam harta mereka, terdapat hak orang lain, (QS. Dzaariyat 51:19).

(4) Bisikan hal yang paling baik:

  • mengajak bersedekah
  • berbuat ma’ruf, atau
  • mengadakan perdamaian di antara manusia, (QS. An-Nisa’ 4:114)

Dari prinsip tersebut, hubungan masyarakat madani dengan kesejahteraan umat dalam konsep Islam dapat diterapkan melalui pelaksanaan Zakat dan Wakaf.

Masyarakat Madani dan Kesejahteraan Umat Melalui Zakat

Masyarakat madani dan kesejahteraan umat secara konsep ekonomi Islam dapat dicapai melalui pemberdayaan zakat. Zakat adalah memberikan harta yang telah mencapai nisab dan haul kepada orang yang berhak menerimanya dengan syarat-syarat tertentu.

Nisab adalah ukuran tertentu dari harta yang dimiliki yang mewajibkan dikeluarkannya zakat, sedangkan haul adalah berjalan genap satu tahun. Zakat juga berarti kebersihan, setiap pemeluk Islam yang mempunyai harta cukup banyaknya menurut ketentuan (nisab) zakat, wajiblah membersihkan hartanya itu dengan mengeluarkan zakatnya.

Adapun harta-harta yang wajib dizakati itu yaitu:

  1. Harta yang berharga, seperti emas dan
  2. Hasil tanaman dan tumbuh-tumbuhan
  3. Binatang ternak, seperti unta, sapi, kambing, dan
  4. Harta
  5. Harta galian termasuk juga harta rikaz.

Tabel berikut menunjukkan nisab zakat yang harus dikeluarkan jika telah mencapai masa haul-nya.

Masyarakat Madani dan Kesejahteraan Umat
Mewujudkan Masyarakat Madani dan Kesejahteraan Umat

Adapun orang yang berhak menerima zakat adalah:

(1) Fakir

Ialah orang yang tidak mempunyai dan tidak pula berusaha.

(2) Miskin

ialah orang yang tidak cukup penghidupannya dengan pendapatannya sehingga ia selalu dalam keadaan

(3) Amil

ialah orang yang pekerjaannya mengurus dan mengumpulkan zakat untuk dibagikan kepada orang yang berhak

(4) Muallaf

ialah orang yang baru masuk Islam yang masih lemah

(5) Riqab

ialah hamba sahaya atau budak belian yang diberi kebebasan berusaha untuk menebus dirinya agar menjadi orang

(6) Gharim

ialah orang yang berhutang yang tidak ada kesanggupan

(7) Fi-sabilillah

ialah orang yang berjuang di jalan Allah demi menegakkan agama.

(8) Ibnussabil

ialah orang yang kehabisan biaya atau perbekalan dalam perjalanan yang bermaksud baik (bukan untuk maksiat).

Masyarakat Madani dan Kesejahteraan Umat Melalui Wakaf

Masyarakat Madani dan Kesejahteraan Umat secara konsep Islam juga dapat dicapai melalui adanya wakaf. Istilah wakaf berasal dari “waqb” artinya menahan.

Wakaf adalah menyerahkan suatu hak milik yang tahan lama zatnya kepada seseorang atau nadzir (penjaga wakaf) baik berupa perorangan maupun berupa badan pengelola dengan ketentuan bahwa hasil atau manfaatnya digunakan untuk hal-hal yang sesuai dengan syari’at Islam .

Wakaf berfungsi sebagai ibadah kepada Allah dan berfungsi sosial. Dalam fungsinya sebagai ibadah, diharapkan wakaf akan menjadi bekal bagi si wakif di kemudian hari.

Wakaf merupakan satu bentuk amalan yang pahalanya akan terus mengalir selama harta wakaf itu dimanfaatkan. Sedangkan dalam fungsi sosialnya, wakaf merupakan aset amat bernilai dalam pembangunan umat.

Masyarakat Madani dan Kesejahteraan Umat Melalui Hibah

Masyarakat madani dan kesejahteraan umat dapat dicapai pula melalui adanya hibah. Menurut bahasa, kata hibah berasal berarti memberi atau pemberian dengan sukarela dengan mengalihkan hak atas sesuatu kepada orang lain.

Menurut istilah, hibah adalah adalah akad atau perjanjian yang menyatakan perpindahan milik seseorang kepada orang lain di waktu ia masih hidup tanpa mengharapkan penggantian sedikitpun.

Masyarakat Madani dan Kesejahteraan Umat Melalui Wasiat

Masyarakat madani dan kesejahteraan umat juga akan dicapai melalui adanya wasiat. Menurut istilah, wasiat adalah pesan terakhir yang diucapkan dengan lisan atau disampaikan dengan tulisan oleh seseorang yang merasa akan wafat berkenaan dengan harta benda yang ditinggalkan.

Dalam Al- Qur’an kata wasiat mempunyai beberapa arti, di antaranya berarti menetapkan, memerintahkan, dan mensyari’atkan.

Demikian pembahasan kita mengenai masyarakat madani dan kesejahteraan umat. Besar harapan kita semua, bahwa potensi ekonomi Islam di Indonesia yang amat besar ini dapat mendorong segera terciptanya masyarakat madani dan kesejahteraan umat Islam pada khususnya. Selanjutnya, mari kita memulai perubahan menuju hadirnya masyarakat madani dengan memperbaiki diri sendiri, dan oarang-orang terdekat terlebih dahulu. Salam!

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

1 comment