Al Quran dan Perjuangan Mahatma Gandhi

Posted on

Ageng Triyono – Pemikiran, Pendidikan

haidunia.com – Al Quran adalah inspirasi langsung dari Alloh sang Pencipta Makhluknya. Inspirasi nan dahsyat lagi menggelorakan semangat. Semoga kita para pendidik, menjadikannya sebagai referensi pokok dan inspirasi dalam mengajar. Al quran telah terbukti membuat para sahabat jadi generasi terhebat. Bahkan satu orang sahabat yaitu Umar bin Khattab, begitu mendengar, hati keras Umar langsung bergetar. Al Quran juga membuat ilmuwan dahulu langsung maju menemukan karya baru. Qur’an telah menjadi sumber inspirasi penting dari dimulainya perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan. Dan menginspirasi melakukan pembebasan. Berikut adalah kisah tentang Mahatma Ghandi yang terkenal dengan ahimsa-nya.

Sumber gambar. wikipedia

Ghandi sebelum dikenal sebagai pejuang keadilan di India adalah dikenal sebagai pengacara. Suatu ketika ia berangkat menuju Pretoria, Afrika Selatan, untuk membantu memenangkan persidangan Dada Abdulla, sahabatnya. Sembari menunggu kereta berangkat, Gandhi teringat buku pemberian sahabatnya itu, lalu ia mencoba  membaca halaman pertamanya. Baru saja membuka, Gandhi dikejutkan oleh suara keras petugas tiket. “Hei, Kuli”, sapaan yang biasa dipakai orang Inggris terhadap penduduk lokal berkulit hitam.  “Kamu tidak seharusnya berada di sini.” Gandhi memang berada di gerbong kelas eksekutif yang biasanya ditempati pejabat kelas atas. “Saya sudah membayar tiket kelas eksekutif ini, jadi saya berhak dan sudah seharusnya mendapat pelayanan yang sama dengan penumpang di gerbong ini”, jawabnya. Namun begitulah sikap kaum kolonial. Sangat terasa perlakuan semena-mena yang dilakukan Inggris terhadap tanah jajahannya, meskipun terhadap kalangan terpelajar sekalipun.

Apa daya, akhirnya Gandhi duduk di kelas biasa. Ia dikeluarkan dari gerbong semula. Dengan cara ditendang keluar dari kereta, semua barangnya pun dihamburkan begitu saja.  “Jangan lupa bawa bukumu ini, Kuli”, demikian kata petugas. Sembari melemparnya mengenai kepala Ghandi.  “Apakah nasib kami akan terus seperti ini?”, pikir Gandhi. Ketika merapikan barangnya Gandhi tak sengaja membaca satu bagian halaman yang terbuka dari buku tadi. Tertulis di halaman itu; “Dan sungguhnya Kami telah mengutus seorang utusan pada tiap-tiap bangsa untuk menyerukan: “Sembahlah Allah, dan jauhilah godaan shaitan”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul) (QS. An Nahl: 30)

Ternyata Dada Abdulla memberi Gandhi Al-Quran. Ayat itu dari surat An Nahl, kemudian menembus jiwa dan menginsipirasi Gandhi untuk memulai gerakan pembebasan dari ke-mustadh’afin-nan, sampai kelak India mendaptkan haknya untuk merdeka dengan cara damai. Gerakan yang dipeloporinya adalah perjuangan tanpa perlawanan, atau yang populer dengan sebutan ahimsa, yaitu gerakan yang menjunjung segala konflik diselesaikan secara damai. Konon Al qur’an menjadi referensi perjalanan hidup Ghandi berikutnya. Dan karena mulai nampak pengaruh Islam dalam perjuangan-perjuangannya, ini membuat beliau ditembak mati oleh penganut Hindu fanatik, karena lebih banyak membela Islam dalam kasus yang beliau tangani.

BACA:  Membantu Murid Mengenali Diri dan Menggali Potensi

Gandhi, nama beliau kini telah abadi. Semoga banyak lagi yang terinpirasi. Lewat cerita ini, kita menjadi mengerti bahwa bisa saja Allah memberikan berbagai macam inspirasi lewat berbagai melalui ayat-ayatnya, kepada yang belum bersyahadat sekali pun. Tinggal bagaimana kita bisa menangkap inspirasi itu untuk dijadikan sebagai pemicu dalam berbuat sesuatu yang besar, serta sesuatu yang dapat memberikan inspirasi lagi bagi anak cucu kita. Wallahu’alam bishshawab.

Oleh: Ageng Triyono
Editor: Deany Januarta Putra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *