Belajar Membela Kehormatan Negeri dari Gerakan Intifadhah Palestina

Posted on

Ageng Triyono – Pemikiran

Ijinkan saya menyampaikan maksud dari peribahasa ini: “Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Kalimat yang sederhana, singkat, mudah dipahami dan juga sudah dikenalkan semenjak usia kita belum dewasa bukan? Semoga saja  sederet kata-kata itu masih nancep di ingatan anda sampai sekarang. Sehingga bisa langsung saya ajak untuk mematuhi maknanya. Sepatuh saudara-saudara kita di Palestina dalam mejunjung tinggi-tinggi langit kehormatan negerinya.

Bendera Palestina (Sumber)

Tengoklah dengan sempurna, karena apa yang terjadi di negeri kelahiran para Nabi itu tak cukup lagi dipandang sebelah mata. Peribahasa sederhana di awal tadi sudah sekian lama diterima oleh segenap penduduk negeri Al Quds, tempat masjid suci Al Aqsha diberdirikan. “Di mana bumi muslim dihuni di situ kehormatannya harus dibela!” Kurang lebih kalimat-kalimat semisal telah menjadi ‘yel’ di dada saudara-saudara seiman kita di sana.

Kesetiaan dan kesediaan mewakafkan harta, raga dan jiwa bagi negerinya menjadi model ideal yang sulit ditemui diabad ini. Tampak benar keridhoaan mereka, atas terpilihnya negerinya sebagai bumi jihad oleh Allah, menjadikan kata jihad itu menemukan definisi yang sesungguhnya pada tempo kita. Keteguhan di medan perjuangan, yang dibersamai kesabaran dalam pemboikotan negara-negara barat adalah sikap terpuji yang wajib diacungi apresiasi. Terlebih itu terjadi saat masih adanya negeri-negeri muslim  merdeka yang mengemis bantuan kepada Barat.

Pun dengan angkat senjata. Bagi mereka itu tradisi. Silih berganti dari sekian generasi. Keterampilannya memanggul senjata terus mengalir, diwarisi  oleh jundi-jundi kecil yang hadir dengan sukarela. Termasuk yang baru terlahir sekali pun bisa langsung berkenalan dengan dentuman suara senjata api. Bagi mujahid-mujahid kecil itu tiada donasi tertingggi kecuali syahid di jalan-Nya. Harta, jiwa dan raga mereka persembahkan sebagai bentuk iuran pengorbanan bersama para sebayanya.

BACA:  Indonesia Akan Mengusai Dunia

“Kita berada di ambang pintu intifadhah baru dan bahwa rakyat Palestina tidak akan berlutut pada upaya penjajah dalam mengubah identitas Al-Aqsha dan bumi Palestina”. Begitu khotbah Sang Perdana Menteri Ismail Haniya yang kala itu menjabat disaat  menggelorakan semangat kader-kadernya

Tak peduli pula dengan minimnya dukungan internasional. Biarpun perjuangan mereka dicatat sebagai tindakan teroris oleh media Barat, sejarah kelak mencatat bocah-bocah pelaksana intifadah itu sebagai pahlawan penjaga kehormatan sebuah negeri muslim yang berdaulat. Keyakinan akan janji Allah menjadi garansi mereka untuk tetap tsabat. Pantang angkat tangan. terus mengakarkan ikhtiar, tak sedia saat untuk rehat. Itu semua adalah tanda cintanya pada negera, agama, dan wujud ketakrelaan atas sejengkal pun tanahnya digenggam zionis Israel.

Bukan semata-mata mempertahankan sepetak gambar negera Palestina agar tak terhapus di peta dunia, tapi demi izzah umat muslim seluruhnya. Dan Hamas sesungguhnya merepresentasikan pasukan ter-elit milik umat muslim saat ini yang berani berhadapan dengan musuh sejatinya. Sehingga objektivitas sejarah perang bangsa-bangsa modern harus mencatat kisah-kisah heroik para gerilyawan itu sebagai kebulatan niat mereka untuk menjaga kehormatan umat muslim sedunia diabad ini. Bukan sekadar Palestina!

Dome of Rock (Sumber)

Bisa kita perhatikan! Jika bukan karena membela agama yang agung ini untuk apa mereka rela mati hanya untuk sebuah masjid, bukankah masjid yang lebih megah dari Al Aqsa bisa dibangun kembali di tempat lain? Dan mereka bisa melakukan eksodus ke negeri yang lebih aman? Tetapi itulah karakter pejuang muslim sejati. Perjuangannya dipersembanhkan untuk kemenangan umat muslim sedunia.

Konflik Palestina hanyalah sebuah simbolisasi kecil peperangan yang haq melawan yang bathil beserta para pendukungnya. Lantas bagaimana dengan muslim Indonesia? Bagaimana jika bumi jihad Allah pindahkan ke Indonesia? Apakah kita mampu membela? Dan bisa melaksanakan komitmen perjuangan sebagai mana saudara muslim di bumi jihad Palestina?

BACA:  Penyakit Wahn; Embrio Kekalahan Negeri-negeri Muslim!

Sengaja saya hangatkan kembali bara api di Palestina di catatan ini, karena itu adalah hal nyata yang diajarkan Allah, bahwa begitulah seharusnya seorang muslim bersikap dalam mempertahankan kehormatan agama dan negerinya. Saya pun mengharap,  kobaran semangat perjuangan mereka cepat merambat  merambah kita semua.  Sampai kita sebagai umat muslim terbesar tersadar!

Sesungguhnya aksi-aksi jihad mereka itu adalah sarana konfirmasi pada kita sebagai pemilik predikat negeri muslim terbesar di dunia. “Beginilah cara kami membela kehormatan. Lantas seperti apa catatan cerita kalian di Indonesia?”. Kira-kira itu pesan yang ingin mereka sampaikan lewat aksi-aksinya.

Oleh: Ageng Triyono
Editor: Deany Januarta Putra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *