Surplus Sarjana Pendidikan: Calon Guru Mau Kemana?

Posted on

Ageng Triyono – Pemikiran, Pendidikan

haidunia.com – Salah satu poin penting yang penulis catat dari apa yang disampaikan Mendiknas Prof. Muhajir Effendy saat orasinya di Seminar Nasional Pendidikan Matematika Ahmad Dahlan atau disingkat Sendikmat 2018 adalah terkait kebutuhan guru untuk empat sampai lima tahun mendatang. 

Pada kesempatan seminar yang mengusung tema “Mengembangkan Kemampuan Literasi dan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (HOTS) melalui Pembelajaran Matematika Inovatif di Era Revolusi Industri 4.0” itu beliau menegaskan bahwasannya jumlah kebutuhan guru sejujurnya telah terpenuhi oleh Sarjana Pendidikan lulusan pada tahun-tahun sebelumnya. Salah satu sumber bahkan menyebutkan surplus lulusan Lembaga Pendidikan dan Kependidikan (LPTK) mencapai 200 ribu tiap tahunnya.  Sehingga beliau pun berpesan kepada para insan kampus kususnya pengelola Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) untuk mengantisipasi timbulnya over supply calon guru. 

Guru ibarat mata air yang selalu menebar kebaikan

Menristekdiki, Prof.H Mohammad Nasir, Ph.D juga mengamini apa yang disampaikan oleh Mendikanas. Ini dibuktikan oleh wacana serupa yang beliau sampaikan. Sebagaiman dilansir jawapos, beliau mewacanakan untuk  melakukan moratorium pembukaan program studi baru untuk LPTK. Dan Ikatan Guru Indonesia (IGI) pun sepertinya menyambut dengan senyum merekah atas wacana moratorium tersebut. 

Lantas dengan jumlah lulusan Sarjana Pendidikan yang terlanjur melimpah ruah ini, para calon guru mau kemana? Bagiamana pula dengan adik-adik kita yang masih bercita-cita mulia ingin menjadi guru di masa depan?  

Sebelum kita membahasnya lebih lanjut, coba renungkan bersama kalimat bijak dari seorang filosof Muslim yang digelari Hujjatul Islam. Beliau Imam Al-Ghozali, menuturkan;

“Seseorang yang berilmu dan kemudian bekerja dengan ilmunya, dialah yang dinamakan orang besar di kolong langit ini. Dan itu ibarat matahari yang menyinari orang lain dan menyinari dirinya sendiri. Ibarat minyak kasturi yang wanginya dapat dinikmati orang lain dan ia sendiri pun harum. Siapa yang bekerja di bidang pendidikan, sesungguhnya ia telah memiliki pekerjaan yang terhormat dan sangat penting. Maka hendaknya ia memelihara adab dan sopan santun dalam tugasnya.”

Demikian, motivasi yang beliau tujukan kepada para calon pendidik. Pesan Muhammad SAW juga perlu ditanam dalam-dalam pada sanubari kita dan calon-calon wisudawan FKIP; “Barang siapa menunjukkan kebaikan. Ia berhak mendapatkan pahala orang sebagaimana orang yang melaksanakannya” (HR. Muslim). Betapa bijak kalimat dari lisan-lisan nan agung ini. Semoga menambah tegap langkah kalian para calon wisudawan Sarjana Pendidikan!

BACA:  Menulis? Mulai dari Mana?

Bagaimana dengan kalian yang sekarang masih duduk di bangku sekolah dan memiliki cita-cita menjadi guru di masa depan? Baik, kalian tetap memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan. Pada waktunya pilihan jalan kehidupan harus kalian putuskan seiring memasuki kematangan usia. Tentu jalan kehidupan tidak ambil secara gambling. Adakah diantara kita mempertimbangkannya atas dasar kemanfaatan bagi kehidupan dan sesama?  

Memang seharusnya demikian latar belakang yang membuat saya dan anda secara sadar serta profesional berani  menentukan pilihan hidup sebagai seorang guru. Menjadi guru sebelum menjadi yang lain. 

Tentu tanpa bermaksud menegasikan peran-peran kehidupan selain daripadanya. Mari kita yang muslim untuk saling meresapi, bahwa sesungguhnya jalan hidup ini adalah jalan yang sama sebagaimana dahulu pernah dilalui oleh para Nabi, sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in. Juga jalan yang ditempuh para ulama meski tugas mereka belum bisa dinyatakan selesai karna usianya yang telah usai. Pada hakikatnya mereka adalah para guru terdahulu sebelum kita di jaman ini. Beliau telah menjadi sumber mata air ilmu, dan terus mengalir sepanjang masa ke segala penjuru menuju tempat-tempat yang cocok untuk tumbuh kembang generasi mendatang. Yang mana tempat-tempat itu sekarang telah umum disebut dengan sekolahan. Bersyukurlah, karena Allah  Yang Maha Luas Ilmu-Nya, dan tidak akan habis meskipun air laut dijadikan tinta untuk menuliskan seluruhnya, jika mengamanahi kita sebagai bagian dari sarana untuk mengalirkan ilmu-Nya. Sehingga kelak hal ini menjadi amal abadi lintas generasi yang  bisa mengantar  pelakunya menikmati kebahagiaan hidup.

Saya pun perlu menasihatkan kepada diri sendiri tentang hadrinya rezeki sebab bekerja dan ijazah. Percayalah, adakala rezeki itu tidak datang dari kerja dan gelar pada ijazah kita. Rezeki sudah di atur-Nya, dan kita akan selalu mendapatkan apa yang sudah ditakdirkan. Jadi, jangan takut akan sedikitnya rezeki dengan menjadi guru,  atau sebaliknya mengharap berlebih akibat pekerjaannya sebagai guru. Pahamilah ini sebagi jalan yang insya Allah mendapat keberkahan. 

BACA:  Mengembangkan Kreativitas Murid Abad 21

Sebuah jalan lebar untuk menebar manfaat bagi sesama. Jalan yang lapang meski kadang terasa seterjal karang untuk menuju peradaban gemilang. Jalan bebas hambatan untuk membebaskan manusia dari kebodohan. Jalan alternatif untuk membentuk manusia-manusia prestatif. Jalan tak terputus meskipun  tak selalu lurus dan mulus. Semoga ini menjadi akses guru untuk menuju hidup lebih sukses, dengan menapaki bagian dari perjalanan kenabian.  

Tahukah engkau? Menjadi guru adalah kesiapan menjadi manusia yang akan melakukan tugas luhur dan mulia, melakukan pengajaran dengan hikmah mau’idzatil hasanah. Sehingga Allah, para malaikat, dan segenap makhluknya pun bersimpati dan mendo’akannya;

“Sesungguhnya Alloh, malaikat-malaikat-Nya, penghuni bumi dan langit, bahkan semut dalam lubangnya, dan ikan di lautan mendo’akan kepada orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.”(HR. Abu Umamah r.a)

So, tetaplah kalian bercita-cita memiliki gelar Sarjana Pendidikan, meski tak ada jaminan akan disejahterakan hidupnya oleh negara. Semoga keluhuran dan kemuliaan tugas ini tidak terciderai oleh keinginan-keinginan dunia yang bersifat sementara. Percayalah,  Alloh kian menjadikan kita semua merasa cukup dengan-Nya, dan sebagai sebaik-baik pembalas. Semoga para malaikat mencatat kerja-kerja peradaban yang kita lakukan sebagai rangkaian amal unggulan, dan setiap langkah kali menuju sekolah adalah gerak menebar  kemanfaatan.

Yaa Rabb,
Selangkah ku kepada-Mu,
Seribu langkah Kau pada ku.
Aamiin

Oleh: Ageng Triyono
Editor: Deany Januarta Putra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *