Indonesia Akan Mengusai Dunia

Posted on

Ageng Triyono Pemikiran, Pendidikan

Dalam mukadimah pendirian negara, para pemimpin muda Indoensia punya mimpi menghapuskan penjajahan di atas dunia serta menjaga perdamaian abadi. Jika ditanya apa modalnya untuk itu semua? Mudah jawabnya! Pahamilah, semuanya disediakan gratis lagi strategis atas takdir Alloh SWT. Sebutlah diantaranya; emas, tambang, gas alam dan minyak, ataupun yang lain. Semua adalah sederet modal kapital yang seringkali diberitakan di pasaran. Namun itu hanyalah asset pendukung, sedang yang utama adalah  manusia Indonesia itu sendiri. Sosok-sosok yang kebanyakan bergama Islam selagi menempati bumi pertiwi. Muslim nusantara, kita biasa menyebutnya. Jarang memang manusia disebutkan sebagai modal. Padahal tak ada syarat dan rukun yang lebih bisa memancarkan Indonesia di tengah redup dunia keculai manusia Indonesia sendiri.

Sumber gambar: carbonbrief.org

Jumlahnya yang melebihi dua ratus juta jiwa adalah sumber daya yang tak tanggung-tanggung. Menempati tangga pertama diantara urutan negeri-negeri muslim berkategori besar jumlah penduduknya. Penyumbang jemaah haji terbesar setiap tahunnya  dan jika didata akan nampak paling banyak jumlah masjidnya. Jauh lebih menjanjikan lagi jika dilihat dari proporsinya. Penduduk usia mudanya bertambah melangkahi angka 60% dalam satu dekade ini. Sedang Sidang dunia telah sepakat bahwasannya negara yang paling siap merajai masa depan adalah yang saat ini surplus dengan jumlah pemudanya. Modal yang melimpah bukan? Maka bukan sekadar mimpi jika nantinya takdir meridhai Indonesia untuk memimpin dunia. Allohu Akbar!

Jika kualifikasi yang saya sebutkan tadi belum juga cukup dianggap ideal, maka saya anjurkan para pembaca budiman melakukan rikhlah. Berjalanlah! Sembari memandangi sekujur jagad raya, catatlah tebaran karunia Alloh di darat, laut, dan udara untuk Ibu Pertiwi. InsyaAlloh semua akan sampai pada simpulan yang sama, bahwasanya potensi darat menghamparkan kesejahteran. kondisi laut menggelombangkan kekuatan dan posisi udara memayungi kekuasaan teknologi kedirgantaraan negeri kita.

Sedikit, sepenggal firdauz yang dicicipkan Alloh ke dunia itu saya paparkan di sini.

BACA:  Jangan Larang Murid Berpikir di Luar Aturan, Karna itu Bisa Jadi Suatu Inovasi Baru

Daftar Isi

Potensi darat

Tak perlu saya panjang lebarkan lagi. Kita sudah cukup maksud dengan nyayian Koes Plus. “Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman.” Kurang lebih begitu bunyi liriknya. Dari liriknya saja sudah cukup untuk membuat iri bangsa lain sampai mengilhami petualangan akbar para pelaut besar jaman dulu. Karena tak semua negeri dikaruniai kekayaan alam semakmur Indonesia. Subur loh jinawi, serba-serbi keragaman hayati bisa tumbuh di bumi pertiwi. Di dalamnya disesaki kekayaan tambang sebagai warisan anak-cucu. Di atasnya lebat hutan Indonesia menjadi paru-paru dunia yang menambah bobotnya  tawar Indonesia di mata dunia dalam  hal kebijakan global warming.

Sumber foto: aftahttp://aftanalisis.comnalisis.com

Kondisi laut

Kondisi lautnya lebih mengokohkan keuntungan ekonomi kita. Dijuluki negara kepulauan terbesar sedunia. Sepanjang 81.791 km garis pantainya tak terlebihi kecuali oleh Amerika Serikat dan Inggris yang meliputi negeri jajahannya di jaman kolonial. Tahukah kita maksud-Nya? Alloh telah mengamanahkan kedaulatan laut pada Indonesia seleluasa luasnya. Garis pantainya sepanjang 80 kali panjang pulau jawa dari Anyer ke Panarukan atau hampir 25 persen dari panjang pantai di dunia tentu terlalu mewah jika sekadar dimanfaatkan nelayan bersiap menangkap ikan dan udang yang akan datang menghampiri. Maka tengoklah kebelakang, Bukankah Sriwijaya dan Majapahit bisa jaya karena menjadi kerajaan bahari? Maka sepantasnya karunia itu menjadikan Indonesia menguasai wilayah transpotasi laut dunia karna sepanjang  pantainya adalah pelabuhan bagi siapa saja. yang hendak menyinggahkan kapal-kapal niaga manca negara. Begitulah kekuatan laut!

Sumber foto: mongabay.co.id

Posisi angkasa

Tak kalah dengan potensi alam lainnya. Termasuk yang kurang saya mengerti waktu masih di sekolah dasar adalah apa makna lain dari garis khatulistiwa yang melingkar di bola dunia. Ternyata itu adalah harta diangkasa yang tersembunyi. Di atasnya adalah kapling terbaik untuk menempatkan satelit geostasioner. Satelit-satelit yang amat dibutuhkan oleh masyarakat informasi sedunia saat ini juga pastinya peradaban teknologi ke depan. Dan qadarrulloh menetapkan garis khatulistiwa dengan bentang terpanjang di dunia melingkari peta Indonesia, Jadi, sekali lagi secara alamiah Negara kita di karuniai kekuasaan yang paling luas terkait kebutuhan lahan penempatan satelit satelit pendukung utama teknologi informasi. Subhanalloh, negeri ini kembali dikaruniai harta, berupa angkasa..

BACA:  Piala Dunia Qatar 2022 : Perbudakan Modern

Ketahuilah seluruh kekayaan alam yang sering membuat iri bangsa lain itu telah melebihi perbekalan para pemimpin besar revolusi umumnya. Hitler, Churchil dan Rosevelt maupun yang lain berusaha merealisasikan ambisi pembentukan kepemimpinan tunggal dunia tanpa mengenggam syarat semelimpah Indonesia. Artinya dengan kekayaan hayati, bahari dan dirgantara serta ditambah resources-nya Indonesia telah lebih siap untuk melaksanakan project penaklukan dunia. Maka tak jarang, harapan dunia Islam kususnya diletakkan pada punggung Indonesia. Sehingga tugas kita adalah menyerahkan hati, pikiran dan punggung ini untuk terelisasinya dunia yang lebih baik sekendak Islam. Bukan agar Indonesia berdiri kokoh lebih menjulang dari bangsa lain, tetapi sebagaimana yang dikata Abdullah bin Rawahah; “Kita tidak memerangi manusia karena jumlahnya, kekuatannya dan banyaknya pasukan. Kita tidak memerangi mereka kecuali karena agama ini. Yang mana Alloh memuliakan kita dengannya.” Sehingga menjadi lebih jelas perjuangan kita, yakni menjadikan semua karunia yang diperoleh Indonesia sebagai rahmat seluruh alam, agar berkahnya dinikmati dunia. Dalam perspektif Islam.

Dengan ini saya mengajak anda yang sadar kewajibannya sebagai seorang anak bangsa muslim bernama Indonesia. Agar seiya sekata untuk melibatkan diri dalam project besar mengantar Indonesia sampai pada versi terbaiknya, yakni sebagai the superpower country yang bertauhid. Menjadi kekuatan dunia yang berdaulat dan siap menyalurkan aspirasi saudara-saudara muslim lainya. Mampu membariskan seluruhnya pada satu shaff cita-cita, kemudian mengimami kebangkitannya. Selayaknya kakak pertama meneledani saudaranya maju menuju kemuliaan Islam. Sekali lagi, bukan karena kekuasaan, atau ingin berdiri kokoh lebih menonjol atas umat dan bangsa yang lain. Tetapi semata-mata untuk membuktiktan pada sejarah bahwa agama yang dibawa Muhammad SAW dan dibela penerusnya adalah benar membawa rahmat bagi dunia seisinya. Sehingga keberadaan Indonesia sebagai negeri muslim terbesar di dunia, berjuluk jamrud khatulistiwa, keberadaannya dirangkul dua benua dua samudra, pemilik bentang terpanjang garis khatulitiwa, subur makmur loh jinawi, kaya sumber daya hayati, sampai mengilhami petualangan akbar para pencari tanah jajahan; Indonsia keberadaannya di peta dunia tak lagi dipandang sebagai kebetulan belaka!

BACA:  Surplus Sarjana Pendidikan: Calon Guru Mau Kemana?

Semua itu menuntut kehadiran kita! Ini adalah tantangan menyambut janji Alloh. “… Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Ali Imran: 140). Segeralah penuhi syarat-syaratnya untuk terlibat dalam agenda besar penaklukan dunia ini. Tanpa banyak mengunggu waktu, kita bisa memulainya, kapan kita mau.  

Demikian maksud dari sederhananya goresan pena saya. Tentu hamba yang awam ini harus mengambil bahan dari sana-sini dalam penyusunannya. Namun kesalahan pada buku ini tentu tetap milik saya seorang. Untuk itu saya selalu membuka kesempatan berdiskusi dan ruang kritik seluasnya kepada para pembaca budiman. Semoga bisa menjadi sarana silaturahim ukhuwah dan fikriyah kita sebagai yang jiwanya terpanggil untuk memperbaiki kondisi negeri, Indonesia tercinta. Wallohu a’lam bishowab.

Oleh: Ageng Triyono
Editor: Deany Januarta Putra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *