Contoh Soal Tes Potensi Skolastik dan Pembahasannya Untuk SBMPTN

Contoh soal tes potensi skolastik
Contoh soal tes potensi skolastik

Haidunia.comContoh soal tes potensi skolastik dan pembahasannya seperti yang akan kami bawakan pastinya akan bermanfaat sekali bagi para calon peserta tes seleksi SNBT 2023, maupun calon peserta masuk PTN lewat jalur seleksi mandiri. Termasuk juga yang akan mengikuti tes seleksi kampus kedinasan.

Contoh soal tes potensi skolastik dan pembahasannya yang kami sajikan juga bisa dijadikan referensi bagi yang akan mengikuti tes seleksi ASN-PPPK 2023. Hal ini mengingat soal tes potensi skolastik masih dijadikan sebagai instrumen tes dalam pelaksanaan rekrutmen calon ASN.

Read More

Contoh soal tes potensi skolastik dan pembahasannya berikut ini disusun berdasarkan kisi-kisi soal UTBK SBMPTN dan juga soal-soal CPNS dari yang telah dilaksanakan pada tahun-tahun sebelumnya. Oleh karena itu kami sangat berharap kumpulan soal tes skolastik yang kami share benar-benar berdampak positif terhadap keberhasilan Anda.

Contoh Soal Tes Potensi Skolastik dan Pembahasannya

Contoh soal tes potensi skolastik dan pembahasannya yang kita pelajari dapat digunakan sebagai instrumen untuk mengukur kemampuan penalaran wacana dan kemampuan penalaran kuantitatif. Secara garis besar soal tes potensi skolastik akan berisi soal:

  1. Tes kemampuan verbal
  2. Tes kemampuan pemahaman wacana
  3. Tes penalaran logis
  4. Tes penalaran kemampuan kuantitatif
  5. Tes penalaran gambar

Contoh tes bakat skolastik kemampuan verbal terdiri dari subtes sinonim, antonim, analogi, dan kemampuan pemahaman wacana. Sementara untuk tes kemampuan kuantitatif yang kami sajikan sebatas materi subtes deret angka dan aritmetika.

Adapun tes kemampuan verbal sudah kami sajikan pada kesempatan sebelumnya. Silahkan Anda bisa membuka laman contoh soal sinonim dan antonim untuk CPNS.

BAGIAN 1: TES PEMAHAMAN WACANA
Dalam sub tes pemahaman wacana, tugas Anda adalah membaca dengan detail dan memahami isi wacana yang diberikan soal. Setelahnya Anda bisa menjawab seluruh soal yang disajikan dengan didasarkan pada teks wacana.

Teks berikut untuk menjawab soal nomor 1-5 

Berdasarkan perhatiannya terhadap orang dan perhatiannya terhadap kinerja, Sethia dan Glinow (dalam Collins dan Mc Laughlin, 1996: 760-762) membedakan adanya empat macam budaya organisasi, yaitu:

(a) apathetic culture;
(b) caring culture;
(c) exacting culture; dan
(d) integrative culture

Dalam tipe apathetic culture, perhatian anggota organisasi terhadap hubungan antar manusia maupun perhatian terhadap kinerja pelaksanaan tugas, dua-duanya rendah.

Di sini penghargaan diberikan terutama berdasarkan permainan politik dan pemanipulasian orang-orang lain. Sedangkan budaya organisasi Caring Culture dicirikan oleh rendahnya perhatian terhadap kinerja dan tingginya perhatian terhadap hubungan antar manusia.

Penghargaan lebih didasarkan atas kepaduan tim dan harmoni, dan bukan didasarkan atas kinerja pelaksanaan tugas. Sementara itu ciri utama tipe exacting culture adalah bahwa perhatian terhadap orang sangat rendah, tetapi perhatian terhadap kinerja sangat tinggi.

Disini secara ekonomis, penghargaan sangat memuaskan tetapi hukuman atas kegagalan yang dilakukan juga sangat berat.

Dengan demikian tingkat keamanan pekerjaan menjadi sangat rendah. Yang terakhir, dalam organisasi yang memiliki budaya integrative, maka perhatian terhadap orang maupun perhatian terhadap kinerja keduanya sangat tinggi.

Apabila organisasi-organisasi publik di Indonesia dianalisis dengan menggunakan empat tipe budaya tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar organisasi publik memiliki budaya organisasi yang bertipe Caring.

Organisasi-organisasi publik di Indonesia biasanya memiliki perhatian yang sangat rendah terhadap kinerja pelaksanaan tugas, tetapi memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap hubungan antar manusia.

Hal ini nampak dari ciri-ciri birokrat sebagai berikut:

(a) lebih mementingkan kepentingan pimpinan ketimbang kepentingan klien atau pengguna jasa;

(b), lebih merasa sebagai abdi negara daripada abdi masyarakat;

(c) meminimalkan resiko dengan cara menghindari inisiatif; (d) menghindari tanggung jawab;

(d) menolak tantangan; dan
(e) tidak suka berkreasi dan berinovasi dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

Budaya Caring ini tidak cocok dalam pemberian pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat. Dengan demikian harus diadopsi budaya organisasi baru yang lebih sesuai dan kondusif dengan manajemen pelayanan publik. Budaya organisasi seperti ini disebut kultur kinerja (Ivancevich, Lorenzi, Skinner & Cmsby 1997: 460)

Sumber:
Dikutip dengan perubahan seperlunya dari Ratminto & Winarsih (2005); Manajemen Pelayanan.

Soal (1)
Makna kata yang identik dengan kata “publik” dalam kata “manajemen pelayanan publik” adalah ….

A. Rombongan
B. Orang banyak
C. Umum
D. Warganegara
E. Negara

Jawaban: C

Soal (2)
Menurut penulis buku tersebut di atas, sebagian besar organisasi publik di Indonesia memiliki budaya caring, hal ini dicirikan dengan hal-hal di bawah ini, kecuali ….

A. Menolak tantangan
B. Menghindari tanggungjawab
C. Tidak suka berkreasi
D. Tidak suka berinovasi
E. Mementingkan kepentingan klien

Jawaban: E

Soal (3)
Pernyataan tentang apathetic culture di bawah ini yang tidak benar adalah ….

A. Perhatian anggota organisasi terhadap hubungan antar manusia rendah

B. Perhatian anggota organisasi terhadap kinerja pelaksanaan tugas rendah

C. Penghargaan diberikan terutama berdasarkan permainan politik

D. Penghargaan diberikan terutama berdasarkan pemanipulasian orang-orang lain

E. Penghargaan diberikan terutama berdasarkan intuisi pimpinan.

Jawaban: E

Soal (4)
Pernyataan tentang caring culture di bawah ini yang tidak benar adalah ….

A. Perhatian anggota organisasi terhadap hubungan antar manusia tinggi.

B. Perhatian anggota organisasi terhadap kinerja pelaksanaan tugas rendah.

C. Penghargaan diberikan terutama berdasarkan kinerja pelaksanaan tugas.

D. Penghargaan diberikan terutama berdasarkan kepaduan tim

E. Penghargaan diberikan terutama berdasarkan harmoni

Jawaban: C

Soal (5)
Makna kata “diadopsi” dalam paragraf di atas adalah ….

A. Diterima dan dikembangkan
B. Diambil anak
C. Dipungut anak
D. Kecanduan
E. Kultur kinerja

Jawaban: A

BAGIAN 2: TES KEMAMPUAN KUANTITATIF 
Contoh soal tes potensi skolastik bagian kemampuu kuantitatif yang kami sajikan sementara ini masih terbatas pada materi subtes deret angka, dan aritmetika dan aljabar. Adapun sub tes kemampuan kuantitatif geometri akan kami bahas dalam halaman terpisah.

Soal (6)
Suatu deret terdiri dari: 7 – 11 – 15 – 19 – …
Maka angka dalam deret selanjutnya adalah ….

A. 24
B. 23
C. 25
D. 22
E. 26

Jawaban: B

Pembahasan: Setiap suku ditambah dengan 4

Soal (7)
Suatu seri 18 – 14 – 10 – 15 – 11 – 9 – 12 – …
deret selanjutnya adalah ….

A. 8
B. 4
C. 7
D. 6
E. 5

Jawaban: A

Pembahasan:
ada 3 deret 18 – 14 – 10 – 15 – 11 – 9 – 12 – …..
Berselang 2, 18 – 15 – 12 … deret 1 (dikurangi 3)
14 – 15 – 12 … deret 2 (dikurangi 3)
10 – 9 … deret 3 (dikurangi 1)

Soal (8)
Suatu deret  4 – 6 – 5 – 6 – 8 – 7 – 8 – 10 – …
Angka selanjutnya adalah ….

A. 12
B. 9
C. 10
D. 7
E. 11

Jawaban: B

Pembahasan:
Cara sama dengan No. 42 (berselang 2)
4 – 6 – 8 – dst (deret 1)
6 – 8 – 10 – dst (deret 2)
5 – 7 – selanjutnya 9 (deret 3)

Soal (9)
Suatu deret b – m – n – d – o – p – ….
deret selanjutnya adalah ….

A. g
B. q
C. r
D. f
E. e

Jawaban: D

Pembahasan:
Cara sama dengan No. 42, berselang 2, abjad urut naik,
b – d – … selanjutnya f, seleisih 1 huruf (b c d e f)
m – o – q – s – u – …..
n – p – r – t – v – …..

Soal (10)
Suatu deret a – f – b – b – f – c – c – f – d – d – …
deret selanjutnya adalah …..

A. d
B. e
C. g
D. h
E. f

Jawaban: D

Pembahasan:
antara a & b, b & c, c & d, d & e, dst diselingi f – b, f – c, f – d, f – e.

Soal (11)
Enam buah bilangan membentuk deret aritmatika. Jumlah 4 bilangan pertama adalah 50 dan jumlah 4 bilangan terakhir adalah Maka jumlah bilangan ke-3 dan ke-4 adalah …..

A. 23
B. 27
C. 31
D. 35
E. 39

Jawaban: C.

Pembahasan:
50 = 4U1 + 6b, b = beda
Benar, jika U1 = 8 & beda = 3
Maka deretnya = 8 – 11 – 14 – 17 – 20 – 23
14 + 17 = 31

Soal (12)
Antara 2 suku yang berurutan pada barisan 3, 18, 33, …
disisipkan 4 buah bilangan sehingga membentuk barisan baru.
Jumlah 7 suku pertama dan barisan tersebut adalah ….

A. 72
B. 75
C. 78
D. 81
E. 84

Jawaban: E.

Pembahasan:
rumus 3n + 3, n = 0,1,2,3,…sehingga
Barisan baru : 3,6,9,12,15,18,21,24…,33,…

Soal (13)
Andi Tour pada awal usahanya dapat melayani 3.000 wisatawan per tahun. Setiap tahun ternyata jumlah wisatawan yang dapat dilayani bertambah 500 orang. Berapa jumlah wisatawan yang dapat dilayani pada tahun ke-11?

A. 10.500 orang
B. 7.500 orang
C. 9.500 orang
D. 8.000 orang
E. 8.500 orang

Jawaban: D

Pembahasan:
Un = U1 + (n-1)b, b = beda
= 3000 = (11-1) 500
= 3000 + 5000
= 8000 orang

Soal (14)
Tiga bilangan merupakan barisan aritmetika. Jumlah ketiga bilangan itu adalah 36 dan hasil kalinya adalah 536. Maka bilangan terbesarnya adalah ….

A. 16
B. 18
C. 20
D. 22
E. 24

Jawaban: A

Soal (15)
Seseorang harus membayar utang sebesar Rp880.000 tanpa bunga. Pada bulan pertama dia membayar Rp25.000, bulan kedua membayar Rp27.000, bulan ketiga membayar Rp29.000, dan seterusnya. Berapa bulan waktu yang diperlukan untuk membayar seluruh utangnya?

A. 20 bulan
B. 22 bulan
C. 24 bulan
D. 26 bulan
E. 28 bulan

Jawaban: A

Pembahasan:
Sn=(n/2)[2U1+(n-1)b]
Sn = 880.000, U1 = 25.000, b = 2.00
880000 = (n/2) [2.25.000+(n-1).2000]
880000 = (n/2) [50.000+ 2000n-2000] x 2
1760000 = 50000n + 2000n2 – 2000n
1760 = 48n + 2n2
n2 + 24n – 880 = 0
(n + 44) ( n-20)
Jawab n – 20 = 0
n =  20

Contoh soal tes potensi skolastik dan pembahasannya yang telah kami sajikan semoga dapat melengkapi pengetahuan Anda mengenai tes kompetensi dasar untuk persiapan UTBK SBMPTN maupun CPNS. Selain itu kami sarankan Anda untuk membaca juga artikel contoh tes bakat skolastik pada bahasan kami selanjutnya.

About Author

Baca Juga:  Contoh Soal Kompetensi Manajerial Guru PPPK (P3K) 2021 Terbaru!

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment