Sintaks Discovery Learning dan Penerapannya dalam RPP Belajar Online

Sintaks Discovery Learning dan Penerapannya dalam RPP – Membahas model pembelajaran discovery learning sungguh menarik dan selalu ada yang penting untuk dibahas. Pembahasan kita kali ini akan fokus pada sintaks discovery learning dan contoh penerapannya dalam RPP.

Sebelum ke sintaks discovery learning alangkah baiknya kita mereview kembali pengetahuan mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan metode pembelajaran discovery learning ini. Berikut kita ulas secara ringkas mengenai pengertian dari model pembelajaran discovery learning, ciri-ciri discovery learning, serta kelebihan dan kekurangan dari penerapan discovery learning.

Setelahnya baru kita bahas mengenai sintaks discovery learning secara umum dan contoh penerapan sintaks discovery learning dalam sebuah RPP. Kebetulan contoh RPP yang kami bawakan dalam artikel ini adalah RPP mata pelajaran bahasa Inggris. Semoga hal ini bisa anda jadikan sebagai acuan untuk pengembangan perencanaan pembelajaran lebih lanjut. Selamat menyimak!

Definisi Model Pembelajaran Discovery Learning

Model pembelajaran discovery learning tentunya menjadi bagian dari inovasi pembelajaran untuk meningkatkan kualitas dari sebuah proses pembelajaran dalam sebuah kelas demi tercapainya tujuan pendidikan. Bahkan bisa dikatakan bahwa sebuah model pembelajaran adalah hasil dari inovasi yang tiada henti dari para insan pendidikan.

Untuk lebih mendalami pengertian mengenai model pembelajaran discovery learning maka kita perlu kulik terlebih dahulu dari definisi model pembelajaran dan definisi discovery learning itu sendiri.

Definisi Model Pembelajaran 

Menurut Suprijono (2011: 45) kata model dapat diartikan sebagai bentuk representasi akurat sebagai proses aktual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertindak berdasarkan model itu. Adapun pengertian model pembelajaran sudah dikemukakan oleh beberapa ahli berikut:

Soekamto (1995:78) berpandangan bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar dalam rangka mencapai tujuan belajar, dan berfungsi sebagai pedoman merencanakan dan melakukan aktivitas pembelajaran.

Menurut Slavin (2010), model pembelajaran adalah suatu acuan kepada suatu pendekatan pembelajaran termasuk tujuannya, sintaksnya, lingkungannya, dan sistem pengelolaannya.

Sedangkan menurut Trianto (2009) model pembelajaran merupakan pendekatan yang luas dan menyeluruh serta dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajarannya, sintaks (pola urutannya), dan sifat lingkungan belajarnya.

Antara Discovery Learning & Inquiry

Sebelum ke definisi dari discovery learning ada baiknya kita kupas mengenai perbedaannya dengan inquiry. Hal ini perlu kita perjelas karena memang terkadang kita masih rancu dalam menyebutkan istilah discovery (penemuan) dengan istilah inquiry (penyelidikan). Beberapa pandangan ahli di bawah ini bisa memperjelas perbedaan istilah dari keduanya.

Menurut Sund sebagaimana dikutip oleh Kartawisastra (1980), discovery dikatakan sebagai proses mental dimana siswa mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Sedangkan inquiry menurut Sund meliputi juga penemuan, namun inquiry merupakan perluasan dari proses penemuan yang digunakan lebih mendalam.

Dengan kata lain, proses inquiry dipandang mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya: merumuskan masalah, merancang eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data, menarik kesimpulan, dan sebagainya.

Pada akhirnya Sund berpendapat bahwa penggunaan istilah discovery lebih cocok untuk siswa kelas rendah, sedangkan istilah inquiry lebih pas digunakan untuk kelas tinggi. Mengapa demikian?

Karena strategi pembelajaran discovery (penemuan) adalah strategi mengajar yang mengatur proses pengajaran melalui serangkaian kegiatan yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalui proses mentalnya sendiri.

Dalam menemukan konsep tersebut, siswa melakukan pengamatan, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, menarik kesimpulan dan sebagainya untuk menemukan beberapa konsep atau prinsip.

Sehingga bisa dikatakan bahwa proses discovery merupakan proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Proses mental yang dimaksud, antara lain mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya.

Dengan teknik tersebut, siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental sendiri. Guru hanya membimbing dan memberikan instruksi. Dengan demikian, pembelajaran discovery adalah suatu pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, berdiskusi, membaca sendiri dan mencoba sendiri.

Baca Juga:  Pengertian Modul Menurut Ahli, Isi dan Langkah Menyusunnya

Dari pengertian yang telah dijabarkan tersebut dapat disimpulkan juga bahwa discovery learning merupakan model pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk menemukan secara mandiri pemahaman yang harus dicapai dengan bimbingan dan pengawasan guru.

Ciri-ciri dan Karakteristik Discovery Learning

Model discovery learning telah banyak diterapkan oleh para guru di Indonesia. Sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam discovery learning selalu menitik beratkan pada aktivitas siswa. Karena dalam proses pembelajarannya, guru hanya bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator yang mengarahkan siswa untuk menemukan konsep, dalil, prosedur, algoritma dan semacamnya.

Model discovery learning memiliki ciri dan karakteristik tersendiri sehingga dapat ditemukan perbedaan dengan model pembelajaran lainnya. Berikut ciri utama dan karakteritik belajar dengan model pembelajaran discovery learning.

Tiga ciri utama discovery learning:

  1. Mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan
  2. Berpusat pada peserta didik
  3. Kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.

Karakeristik discovery learning

Pembelajaran ini memiliki karakter yang dapat ditemukan ketika pembelajaran berlangsung, berikut tiga karakter tersebut:

  1. Peran guru sebagai pembimbing
  2. Peserta didik belajar secara aktif sebagai seorang ilmuwan
  3. Bahan ajar disajikan dalam bentuk informasi dan peserta didik melakukan kegiatan menghimpun, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, serta membuat kesimpulan.

Sintaks Discovery Learning Secara Umum dan Dalam RPP

Sintaks discovery learning atau langkah-langkah pembelajarannya sudah disampaikan oleh beberapa pendapat ahli. dalam bagian ini kita akan membahas mengenai 3 hal, yaitu sintaks discovery learning secara umum, perencanaan pembelajaran dengan discovery learning dan contoh penerapan sintaks discovery learning dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)

Sintaks Discovery Learning Secara Umum

Menurut Syah (2004:244) dalam mengaplikasikan model discovery learning di kelas, ada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan. Secara umum adalah sebagai berikut:

1) Stimulation (Stimulasi/Pemberian Rangsangan)

Sintaks discovery learning yang pertama adalah stimulation atau pemberian rangsangan. Dalam tahap ini pertama-tama siswa dihadapkan pada sesuatu hal yang menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri.

Pada langkah stimulation ini guru dapat memulai kegiatan pembelajaran denfan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.

Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan. Dalam hal ini Bruner memberikan stimulation dengan menggunakan teknik bertanya yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghadapkan siswa pada kondisi internal yang mendorong eksplorasi.

2) Problem Statement (Pernyataan/ Identifikasi Masalah)

Sintaks discovery learning selanjutnya adalah problem statement. Pada langkah yang kedua ini guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah).

Permasalahan yang dipilih tersebut selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis, yakni pernyataan sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan.

Pada sintaks discovery learning yang kedua ini, guru akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan yang mereka hadapi. Hal ini merupakan teknik yang berguna dalam membangun kebiasaan siswa agar menemukan suatu masalah.

3) Collection (Pengumpulan Data)

Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244).

Maka pada sintaks discovery learning selanjutnya difungsikan berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis. Dengan demikian siswa diberi kesempatan collection atau menumpulkan data dari berbagai informasi yang relevan. Tahap collection  bisa dilakukan dengan membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber, uji coba sendiri dan sebagainya.

Efek baik dari sintaks discovery learning ini adalah siswa belajar secara aktif untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi, dengan demikian secara tidak disengaja siswa menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki.

Baca Juga:  Pendaftaran UTBK 2021-SBMPTN 2021 & SNMPTN [Informasi LTMPT]]

4) Processing (Pengolahan Data)

Sintaks discovery learning yang keempat adalah processing atau pengolahan data. Menurut Syah (2004:244), pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan.

Semua informasi hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu (Djamarah, 2002:22).

Data processing disebut juga dengan pengkodean coding/ kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut siswa akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis.

5) Verification (Pembuktian)

Sintax discovery learning yang kelima adalah verification atau pembuktian. Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing (Syah, 2004:244).

Verification menurut Bruner, bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. Berdasarkan hasil pengolahan informasi yang ada, pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah terbukti atau tidak

6) Generalization (Menarik Kesimpulan/Generalisasi)

Sintaks discovery learning yang terakhir adalah generalization. Pada tahap generalisasi / menarik kesimpulan dilakukan proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah, 2004:244).

Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan siswa harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu.

Perencanaan Discovery Learning

Sebaik apapun sebuah model pembelajaran pastilah masih memiliki kelemahan. Kekurangan bisa terjadi dari sisi kesiapan murid atau pun kesiapan dari guru sendiri. Selain itu juga kesesuaian karakter dari materi yang akan diajarkan.

Apakah materi tersebut benar-benar membutuhkan penerapan model discovery learning, hal ini juga menjadi pertanyaan yang perlu dijawab oleh guru sebelum memulai menerapkan discovery learning dalam pembelajaran nya.

Berikut adalah langkah-langkah perencanaan sebelum menetapkan akan mengunakan discovery learning dalam RPP.

  1. Mengidentifikasi kebutuhan siswa mengenai model-model pembelajaran
  2. Menyeleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian konsep dan generalisasi pengetahuan.
  3. Menyeleksi bahan, masalah/ tugas-tugas yang sesuai dengan discovery learning
  4. merumuskan bagaimana cara membantu dan memperjelas tugas/masalah yang dihadapi siswa serta peranan masing-masing siswa
  5. Mengecek kesiapan kelas dan alat-alat yang diperlukan.
  6. mengecek kesiapan guru dalam membantu siswa merumuskan prinsip dan generalisasi hasil penemuannya.
  7. Mengecek kesiapan pemahaman siswa terhadap masalah yang dipecahkan dan memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan penemuan
  8. Ketersediaan informasi/data jika diperlukan oleh siswa.
  9. Kesiapan atau aspek kedewasaan siswa dalam memimpin analisis sendiri (self-analysis) dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi masalah dan tidak menimbulkan kegaduhan dalam interaksi antara siswa dengan siswa.

Contoh Sintaks Discovery Learning dalam RPP Online

Sebagaimana yang sudah kami informasikan di awal, contoh sintaks discovery learning yang kami bawakan di artikel ini adalah untuk mata pelajaran bahasa Inggris yang diterapkan secara online. Bagi anda yang mengampu mata pelajaran lain tentunya bisa menyesuaikan dengan keperluan kelas anda.

Untuk meringkas pembahasan, kami langsung kepada bagian inti pembelajaran dari RPP. Berikut adalah sintaks discovery learning

Kegiatan Inti Kegiatan Pembelajaran Online Alokasi Waktu Aktivitas siswa

Media/Bahan

Stimulation (pemberian rangsangan)

 

1.Siswa secara mandiri membuat sebuah kelompok diskusi yang masing-masing terdiri dari 5-6 peserta didik.

2. Siswa mengamati Video paparan tentang teks recount lisan dan tulis dalam bentuk biografi.

3. Siswa membaca teks recount terkait tokoh terkenal.

4. Sikap dan keterampilan siswa dinilai oleh guru melalui pengamatan.

20 menit Searching bahan contoh recount text berserta social function, generic structure and language, features share link antar teman, chatt room terkait hasil temuan materi, dan upload materi Aplikasi Ms Teams dan youtube
Statement (identifikasi masalah)

 

  1. Mengklasifikasikan fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan yang beberapa teks recount lisan dan tulis dalam bentuk biografi dengan memberi dan meminta informasi terkait tokoh terkenal

2. siswa meminta informasi menggunakan  meggunakan kata tanya operasional.

3. Siswa melakukan diskusi dalam satu kelompok mengenai fungsi sosial, struktur teks, dan unsur  kebahasaan beberapa teks recount lisan dan tulis dalam bentuk biografi dengan memberi dan meminta informasi terkait tokoh terkenal.

4. Ide atau gagasan yang disampaikan oleh setiap anggota kelompok dicatat dan didiskusikan kembali untuk mendapat kesepakatan kelompok.

5. Siswa menuliskan hasil jawaban pada LKS.

6. Siswa menentukan fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan beberapa teks recount lisan dan tulis dalam bentuk biografi dengan memberi dan meminta informasi terkait tokoh terkenal,

7. Membuat 4 pertanyaan menggunakan kata tanya operasional.

Contoh daftar ertanyaan yang telah teridentifikasi:

  1. What is rcount text
  2. What is social function of recount text
  3. What is the Generic structure of Recount Text
  4. What is the Language Features of
  5. Recount Text.
30 menit Chatt room menggunakan Aplikasi Ms Teams & whatsApp Aplikasi Ms Teams
Data collection (pengumpun data) 1. Siswa mencari informasi yang berkaitan dengan video yang diamati.

2. Siswa menggunakan sumber belajar: LKS, internet, dan buku penunjang untuk menggali informasi sebanyak mungkin.

3. Siswa membaca bahan ajar yang diberikan oleh guru.

4. Siswa menjawab pertanyaan yang ada di bahan ajar. Bahan ajar dapat digunakan sebagai referensi oleh peserta didik

5. Siswa  kembali mendiskusikan gagasan yang disampaikan siswa lain dalam satu kelompok.

6. Siswa menuliskan hasil jawaban pada LKS

7. Siswa berkonsultasi dengan guru jika mendapatkan hal yang kurang jelas

8. Ketua kelompok menggabungkan dan menyusun jawaban hasil kerja anggotanya

9. Guru melakukan pengamatan untuk menilai sikap dan keterampilan

45 menit Chatt room menggunakan Aplikasi Ms Teams, whatsApp searching bahan/ materi dan melakukan diskusi kelompok LKS, internet, dan google translate
Data processing (pengolahan data) 1. Siswa mendiskusikan LKS dari teks recount yang disajikan.

2. Siswa berkolaborasi dan berkomunikasi untuk bertukar pendapat, argumentasi, dan ide terhadap jawaban yang telah didapatkan secara mandiri di kelompoknya masing-masing.

3. Siswa merancang sebuah paragraf berdasarkan gambar yang sudah disediakan.

4. Guru melakukan pengamatan untuk menilai sikap dan keterampilan siswa

20 menit Chatt room dengan aplikasi Ms Team dan bekerja kelompok Aplikasi Ms Teams dan WhatsApp
Verification (pembuktian)

 

1. Siswa menganalisis fungsi sosial, generic stucture dan language features.

 

15 menit Chatt room dengan aplikasi Ms Team dan bekerja kelompok Melalui aplikasi Ms Teams WhatsApp
Generalization (menarik kesimpulan) 1.Siswa menarik kesimpulan atas jawaban dari daftar pertanyaan yang diperoleh.

2. Siswa menunjukkan fungsi sosial dari teks recount.

3. Siswa menunjukkan generic structure of recount text.

4. Siswa menyajikan hasil penggalian tentang fungsi sosial, generic structure dan language features of recount text melalui presentasi.

5. Guru memberikan apresiasi terhadap hasil presentasi siswa

30 menit Chatt room dengan aplikasi Ms Team dan bekerja kelompok Melalui aplikasi Ms Teams WhatsApp

Demikian bahasan kita mengenai sintaks discovery learning, semoga hal ini membantu anda yang sedang mencari referensi mengenai hal ini. Perlu anda ketahui bahwa materi sintaks discovery learning ini kami olah dari beberapa skripsi dan tesis. Anda bisa merujuk langsung ke beberapa sumber lain yang sesuai anda butuhkan.

You May Also Like

About the Author: Ageng Triyono

Edutech Enthusiast|Curriculum Researcher & Developer|Independent Learner of History|Founder Kontenpositif.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *