Serunya Metode Pembelajaran Team Games Tournament

Metode pembelajaran team games tournament (1)
Metode Pembelajaran Team Games Tournament

Haidunia.com –  Metode Pembelajaran Team Games Tournament bisa dijadikan alternatif solusi bagi Anda yang memiliki problematika pembelajaran saat di kelas.

Metode pembelajaran team games tournament dipandang memiliki beberapa kelebihan, di antaranya dapat menciptakan suasana yang menyenangkan dan menantang peserta didik untuk terlibat aktif.

Dengan mencoba menerapkan metode pembelajaran team games tournament, Anda juga memiliki kesempatan untuk bereksplorasi dalam menciptakan pengalaman-pengalaman baru bagi peserta didik yang Anda ampu sehari-hari.

Seperti apa langkah-langkah metode pembelajaran team games tournament? Mari kita simak pembahasan yang disampaikan oleh salah satu kontributor kami, Ardinawati, M.Pd.

Metode Pembelajaran Team Games Tournament

Metode pembelajaran team games tournament yang kami share pada laman haidunia.com ini sebelumnya telah kami praktikan dalam suatu kelas yang kami ampu. Silakan simak uraian pembahasan dari kami.

Keterampilan membaca sebagai salah satu keterampilan yang harus dikuasai peserta didik dalam pembelajaran Bahasa Inggris pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Membaca bertujuan untuk menemukan berbagai informasi baik secara tersirat maupun tersurat serta menganalisis berbagai komponen dalam teks.

Kompetensi dasar merupakan kemampuan dan materi pembelajaran minimal yang harus dicapai peserta didik, tercantum dalam Permendikbud No. 37 Tahun 2018. Sejalan dengan hal tersebut, kompetensi dasar Kelas XI meliputi aspek pengetahuan (KI 3) dan aspek keterampilan (KI 4).

KD 3.7 Aspek pengetahuan:

  • menerapkan fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan teks interaksi transaksional lisan dan tulis yang melibatkan tindakan memberi dan meminta informasi terkait hubungan sebab akibat, sesuai dengan konteks penggunaannya

KD 4.7 Aspek keterampilan:

  • menyusun teks interaksi transaksional lisan dan tulis yang melibatkan tindakan memberi dan meminta informasi terkait hubungan sebab akibat, dengan memperhatikan fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan yang benar dan sesuai konteks

 Kompetensi dasar tersebut diintegrasikan dengan kompetensi inti pada aspek sikap spiritual (KI 1) dan aspek sikap sosial (KI 2) dengan melibatkan aspek 4C pada pembelajaran Abad 21, yaitu kolaboratif, kreatif, komunikatif, dan berpikir kritis dengan sikap penuh rasa syukur, tanggung jawab dan percaya diri. Tujuan akhir pembelajaran peserta didik diharapkan dapat memenuhi semua aspek tersebut.

Di sisi lain, pembelajaran Bahasa Inggris yang menarik, menyenangkan, dan menantang sangat diperlukan oleh peserta didik. Model dan metode pembelajaran yang tepat di dalam kelas akan mendorong hasil pembelajaran. Hasil pembelajaran yang baik dapat meningkatkan prestasi pembelajaran mereka.

Kondisi sebagai Latar Belakang Masalah

Dalam pembelajaran bahasa Inggris jenjang SMA, mayoritas cakupan materi adalah berbasis teks bacaan. Permasalahan yang ditemui di kelas menjadi masalah yang kerap muncul dan dialami oleh guru. Pada kenyataannya, beberapa kondisi berikut masih sering terjadi, khususnya pada pembelajaran reading.

Dari sisi peserta didik:

Peserta didik kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran reading dan kurang aktif dalam menyelesaikan soal tentang reading. Peserta didik memiliki mindset bahwa materi reading adalah materi yang susah. Teks bacaan berbahasa Inggris menjadi tantangan tersendiri, dari sisi bahasa, struktur kata, dan kosakata. Perlu penguatan bagi mereka akan manfaat yang diperoleh dalam pembelajaran reading secara kontekstual yang dihubungkan dengan penggunaan dalam situasi dunia nyata nantinya.

Dari sisi guru:

Guru belum mengajarkan reading dengan model pembelajaran inovatif dan belum menggunakan metode pembelajaran yang menantang bagi peserta didik. Guru sudah nyaman dengan model dan metode pembelajaran yang sama (comfort zone). Desain pembelajaran yang dirancang cenderung sama untuk materi dan jenjang kelas tertentu. Di sisi lain, setiap kelas memiliki karakteristik yang berbeda.

Comfort zone membuat guru mengajar dengan metode yang sama untuk materi tersebut. Guru belum memiliki rasa keingintahuan untuk mencoba sebagai bentuk motivasi instrinsik untuk menerapkan model dan metode pembelajaran yang berbeda. Self-regulated learning masih perlu dibangun dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Yang semula dilakukan untuk pemenuhan tugas sebagai sebuah keharusan (we have to) berubah menjadi keinginan mandiri (we want to).

Solusi Model Pembelajaran: Problem Based Learning

 Problem Based Learning sebagai model pembelajaran inovatif yang berpusat pada peserta didik dan mendorong minat peserta didik untuk dapat menemukan sendiri masalah yang dipelajari. Rohman (2018) menyatakan bahwa guru hendaknya mengubah kegiatan pembelajaran menjadi modern (students centered situation) yang dapat meningkatkan minat siswa untuk belajar menemukan sendiri, bekerjasama memecahkan masalah dan mengkomunikasikan hasil belajarnya serta membuat siswa semakin aktif dan kooperatif. PBL melibatkan siswa untuk berusaha memecahkan masalah melalui beberapa tahap metode ilmiah:

Baca Juga:  Kumpulan Soal P3K PAI dan Jawabannya Terbaru 2022 Berdasarkan 2021

(a) orientasi masalah,
(b) pengorganisasian,
(c) membimbing penyelidikan
(d) menyajikan hasil karya
(e) menganalisis pemecahan masalah.

Solusi Metode Pembelajaran: Team Games Tournament

Menjadikan suasana kelas menyenangkan dan menantang, metode Team Games Tournament (TGT) dapat dijadikan alternatif solusi. TGT sebagai metode pembelajaran kooperatif yang menempatkan peserta didik dalam kelompok-kelompok belajar. Pembelajaran kooperatif tipe TGT terdiri atas 5 langkah tahapan, yaitu tahap penyajian kelas (class presentation), belajar dalam kelompok (team), permainan (games), pertandingan (tournament), dan penghargaan kelompok (team recognition) yang dikemas secara menarik dan menantang.

Rahmawati (2021) menjelaskan bahwa TGT dengan bekerja kelompok, siswa dapat berdiskusi dan analisis. Siswa juga menjadi aktif dan kompetitif selama turnamen untuk mendapatkan skor. Dengan bekerja secara kolaboratif menumbuhkan rasa percaya diri untuk terlibat dalam pembelajaran dan menjawab pertanyaan. Seperti yang dinyatakan oleh Nurchasanah (2020) bahwa TGT berfokus pada kerja berkelompok yang dapat membangun rasa percaya diri dalam menyampaikan atau menjawab pendapat dan mudah dalam memahami teks.

Tahapan Kegiatan Pembelajaran

 Berikut langkah kegiatan pembelajaran pada KD 3.7 materi Cause Effect

(a) Orientasi peserta didik pada masalah

(TGT: Penyajian kelas)

  • Peserta didik bermain ”forehead game” secara berpasangan untuk brainstorming berbagai situasi dalam cause effect dan pemantik information gap activities.
  • Peserta didik mendengarkan informasi cause effect melalui QR barcode
  • Peserta didik menemukan dan menganalisis perbedaan penanda cause effect

(b) Mengorganisasikan peserta didik

(TGT: Team)

  • Peserta didik bekerja dalam kelompok mengerjakan LKPD Flipbook
  • Peserta didik menyampaikan hasil LKPD

(c) Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok

(TGT: Games)

  • Peserta didik membuat yel kelompok
Baca Juga:  Apa Itu Hybrid Learning? Inilah Pengertian, Model & Penerapannya !

Kegiatan terbimbing

  • Peserta didik bermain Matching game berisi kalimat dan dijodohkan dengan kata hubung cause effect yang tepat

Kegiatan tidak terbimbing

  • Peserta didik bermain Grab game! menyambung kalimat dengan penghubung cause effect secara tepat
  • Peserta didik bermain The faster the winner dengan menyusun paragraph acak menjadi urutan yang benar

(TGT: Tournament)

  • Peserta didik mengeksplorasi isi bacaan, kosakata, dan menemukan berbagai informasi
  • Peserta didik mengecek pemahaman bacaan melalui media digital spinning wheel sebagai pernyataan rebutan.

(TGT: Penghargaan kelompok)

  • Peserta didik mendapatkan reward sesuai perolehan di tiap kelompok.

(d) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

  • Peserta didik mempresentasikan teks cause effect dan hasil temuan dari eksplorasi teks.
  • Peserta didik bertanya jawab dan memberikan masukan.

(e) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

  • Peserta didik menyimpulkan dan melakukan refleksi pengalaman belajar melalui mentimeter.
  • Peserta didik mengerjakan evaluasi kuis melalui alternatif beberapa platform seperti google form atau quizizz.

Pentingnya Praktik ini Dibagikan

Dengan adanya praktik ini diharapkan dapat digunakan sebagai alternatif solusi dari masalah pembelajaran reading, dapat dijadikan sebagai salah satu pertimbangan referensi yang dapat dipraktikkan di kelas baik secara adopsi maupun adaptasi yang dapat disesuaikan dengan karakteristik peserta didik di sekolah masing-masing. Pada akhirnya, praktik ini diharapkan akan berdampak positif pada kualitas pembelajaran di kelas. Guru sebagai fasilitator dapat meningkatkan dan mengembangkan pembelajaran dengan memperbaiki proses pembelajaran yang lebih efektif, kreatif, dan inovatif.

Metode pembelajaran team games tournament yang kami uraikan semoga memperkaya referensi Anda dalam mempersiapkan pembelajaran. Teriring doa semoga segala aktivitas pembelajaran kita berjalan lancar. Salam Pembelajar!

Metode pembelajaran team games tournament
Kontributor

DAFTAR PUSTAKA

Nurchasanah, S. (2020). The Use of Team Game Tournament Method to Improve the Students’ Reading Comprehension. Edulingua: Jurnal Linguistiks Terapan dan Pendidikan Bahasa Inggris, 7(1).

https://ejournal.unisnu.ac.id/JE/article/view/1178/1277

Rahmawati, S. (2021). The Effect of Team Games Tournament on Students’ Reading Motivation and Reading Comprehension. Journal of English Language Teaching and Learning (JETLE), 2(2), 43-50.

https://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/jetle/article/view/11884

Rohman, A.B.D. (2020). Penggunaan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Inggris Pada Pokok Bahasan Explanation Text. Suara Guru, 4(2), 241-250.

About Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *