Dari Buih Di Lautan Menuju Gelombang Kebangkitan

Imam Malik

Dari Buih Di Lautan Menuju Gelombang Kebangkitan – Apakah 212 nampak bagai buih di lautan? Saya kira tidak! Karena mereka adalah kalangan umat yang telah tersentuh dakwah. Maka jangan lah menatap dengan sebelah mata lagi akan kekuatan umat abad ini!

Sleeping Giant

The poison is injected

The giant sleeps

He’s chained into sections

To keep him off his feet

The mission is forgotten

The bond is getting weak

Wake up oh muslim ummah

Before we face the heat

(Soldiers of Alloh)

Berkat Doa Anas Bin Malik

“Ya Allah! Banyakanlah hartanya dan (banyakanlah) anaknya dan berkahilah apa yang Engkau telah berikan kepadanya.” Saat doa itu dilantunkan, gemuruhlah hati Anas bin Malik. Serasa disesaki semangat keberkahan dari pernikahan yang sedang diresepsikannya.

Karena Nabi adalah sosok yang paling dekat jarak doanya untuk segera dikabulkan. Sedang doa itu memang sengaja nabi kadokan untuk sahabat yang semenjak masa kecilnya sudah membantu beliau meyiapkan keperluan beliau berdakwah.

Imam Malik

Mengikhtiarkan ucapan lisan termulia itu segera sahabat Anas tunaikan. Hasilnya terkabulkan. Dalam satu riwayat, giatnya ber-‘sodaqoh’, bercocok tanam pada ladang halal pernikahan-pernikahan yang dilangsungkannya menghasilkan 99 jumlah anak.

Satu yang begitu mengharum namanya, adalah Malik bin Anas, pendiri madzab Maliki di Madinah. Pengkarya Al-Muwattha’. Barakallahu lahu, dan semoga menjadi teladan jaman. Memiliki banyak anak yang menjulang karyanya.

Banyak anak. Tentu ini bukan sekadar instruksi yang ditujukan pada Anas bin Malik, tetapi menjadi harapan panjang rasulullah dari barokahnya pernikahan yang dilaksanakan para pelanjut risalah Nya. Beliau mengekspresikannya dengan sikap bangga atas banyaknya jumlah. Perihalnya pasti menyediakan banyak hikmah dan barokah.

BACA:  Mencetak Generasi Tangguh Seperti Muhammad Al-Fatih

Itulah mengapa memilih pendamping menjadi perhatian khusus dalam Islam. Perhatikan pengarahan rasulullah terkait hal ini;

“Nikahilah perempuan yang pecinta (yakni mencintai suaminya) dan yang dapat mempunyai anak banyak, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab (banyaknya) kamu di hadapan umat-umat (yang terdahulu).” (Shahih, Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Hibban dan Hakim dari jalan Ma’qil Bin Yassar).

Sudilah kiranya pernyataan lisan mulia itu kita anggap arahan resmi syariat ini. Agar meniadakan batasan jumlah lahirnya generasi penambah bobot Laa ilaa ha ilalloh di muka dunia.

Logikanya, bertambah anak kian berbanding lurus dengan meningkatnya aset pahala orang tua, berlimpahnya generasi pengikut dan pengajar agama ini, semakin cukup  persediaan tentara untuk melindungi keamanan umat ini.

Sedang masing-masing kita tak jua bisa mengira dari rahim Ibu yang mana lahir calon pemimpin pengembali kehormatan umat.

Berbilangnya jumlah itu kemudian membuat kalangan kuffar dan islamofobia ketar-ketir.

“Dua anak cukup!”

“Laki-laki perempuan sama saja?”

Dahulu seringkali slogan itu muncul di TV, hingga pemirsa saling menghafalnya. Program pemerintah membatasi angka kelahiran sedikit banyak diamalkan. Petugas Keluarga Berencana (KB) ditebar ke pelosok nusantara.

Sayang, agenda penguasa itu tak jua menjadikan hidup sejahtera pada masyarakat yang mengikuti programnya. Karna memang bukan itu resep mujarab untuk mengobati kemiskinan. Terbukti badai krisis tetap menghantam negeri ini.

Kekhawatiran bumi sesak tak terbukti. Perbendahaaran alam tak habis jua karena membludaknya angka kelahiran. Bumi ini, segumpal tanah berbentuk kepulauan berpagarkan lautan telah ditetapkan Allah agar memberikan kecukupan makan bagi penghuninya. Hanya saja kaum pesimis kurang meyakini demikian halnya.

Bumi telah Allah ciptakan lengkap dengan keperluan penghuninya. Allah sendiri yang menjamin ketersediaannya. “Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu itu (sumber) penghidupan…”(Al-A’raf: 10).

Jika sangsi, silahkan lakukan stock opname! Maka terbantah sudah cela atas doa nabi tadi.  Sama sekali tiada secuil pun hina dikarenakan kebanyakan anak. Yel-yel kuno, berlipat anak bertabur rezeki tak perlu ditinjau ulang.

BACA:  Etika Dalam Belajar Yang Perlu Diketahui Oleh Para Pelajar

Kini pengharapan rasulullah saat menikahkan Anas bin Malik sudah tertampak. Dua milyar manusia pengikrar syahadat tersebar ke pelosok benua. Mendiami penjuru-penjuru bumi guna mencari penghidupan sepantas-pantasnya.

Apakah Laksana Buih Di Lautan

Sekarang tinggalah tanya yang sulit terjawab! Dimana kontribusi umat sebesar itu? Kemampuan apa yang bisa diunjukkan pada dunia?

Saat kualitas bermilyar manusia itu belum sekelas kuantitasnya, nyaris parade kekuatan absen dipertunjukkan. Dan buah termanis yang ingin dirasakan dunia setelah terkabulnya doa nabi tadi masih ditunggu-tunggu.

Laksana buih di lautan. Mungkin kalimat ini cukup untuk mewakili situasi ini. tentunya bukan umat sekualitas ini yang diharap nabi. Tetapi umat yang dapat menjadi saksi atas perbuatan umat lain. Umatan wasathon, dan sebaik-baik umat yang mampu menujukkan kelasnya di pelataran global.

Kerinduaan masa kejayaan itu makin tertawan oleh tertundanya upaya ke arah sana. Jika didetik ini tak jua kita mulai. Sudah melebihi sembilan puluhan tahun  semenjak khilafah Turki Utsmani runtuh adalah rentang waktu yang panjang.

Semenjak itu kafilah negeri-negeri muslim perannya tak diperhitungkan. Dianggap sedang tertidur pulas dari aktivitas global. Teramat lelap. Hingga tak terusik suara desing peluru saat sesama anggota saudara diperangi.

Dua milyar manusia bukanlah jumlah yang sedikit, selayaknya sikap ksatria yang Islam wariskan dipertahankan. Kenihilan peran dalam segala situasinya adalah bentuk ketiduran yang amat memalukan.

Jalan untuk menggugahnya mungkin belum tampak ujungnya. Ragam caranya bisa beraneka rupa. Semua bisa berandil melalui kunikan perannya masing-masing.

SOA lewat caranya. Gelora lirik ‘sleeping giant’ di atas, dinyanyikan oleh grup music rap asal negerinya Presiden Obama. Bisa kita maksudkan salah satu bentuk simbol penggugah umat. Sekaligus ekspresi kerinduan. Rindu umat bersatu, bangkit untuk menjadi rahmat bagi timur hingga barat.

BACA:  Freeport, Industri Keruk Bumi Penghancur Masal

Kita yakini satu-dua cara telah diujicobakan, namun masih dikalahkan oleh tiga-empat upaya penghancurkannya. Kita juga pastikan dalam setiap masa  telah adanya upaya terbaik dari pribadi-pribadi pilihan untuk mengembalikan kemulian Islam. Namun lebih banyak kekurangan yang harus pula segera dicukupkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *